Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi 4,9-5,7 persen, Ditopang Gaji ke-13 dan Bansos

- Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 tetap stabil di kisaran 4,9–5,7 persen berkat kuatnya permintaan domestik dan konsumsi pemerintah yang meningkat.
- Konsumsi rumah tangga dan investasi tumbuh positif didorong penyaluran gaji ke-13 ASN, bantuan sosial, serta proyek pembangunan dan aktivitas konstruksi yang berlanjut.
- Pemerintah dan BI terus mengoptimalkan stimulus serta kebijakan makroprudensial untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat stabilitas ekonomi, dan mendorong inklusi keuangan digital.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir tahun diperkirakan tetap terjaga di kisaran 4,9-5,7 persen (year on year).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga baik didukung oleh permintaaan domestik.
Ia menjelaskan konsumsi pemerintah tumbuh tinggi seiring berlanjutnya realisasi berbagai program prioritas serta percepatan belanja negara. Kinerja tersebut didukung oleh penyaluran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
"Konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat meningkatnya belanja pemerintah yang turut mendorong aktivitas ekonomi serta keyakinan konsumen yang masih berada pada level positif. Investasi juga menunjukkan tren peningkatan yang tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang tetap berada di zona ekspansi. Pertumbuhan investasi terutama ditopang oleh pembangunan proyek-proyek pemerintah dan aktivitas konstruksi yang masih berlanjut," tegas Perry dalam Konferensi Pers RDG, Kamis (18/6/2026).
Meski demikian, kinerja ekspor masih perlu terus diperkuat untuk memanfaatkan tingginya harga komoditas global. Upaya tersebut menjadi penting di tengah prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang cenderung melambat akibat berbagai tantangan global.
Ke depan, pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai program stimulus guna menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempercepat implementasi program prioritas nasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari permintaan domestik.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) juga terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan makroprudensial yang akomodatif serta pengembangan sistem pembayaran guna mendukung ekonomi digital dan memperluas inklusi keuangan," tutur Perry.
















