Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Transaksi Digital Meluas, UMKM Perlu Perkuat Pencatatan dan Pembiayaan

Transaksi Digital Meluas, UMKM Perlu Perkuat Pencatatan dan Pembiayaan
Ilustrasi bahwa warteg juga bisa ikut menjual barang lainnya untuk menjadi bagian dari revolusi digital UMKM (pexels.com/iMin Technology)
Intinya Sih
  • Hingga April 2026, QRIS digunakan 63 juta pengguna dan 45,3 juta merchant, mayoritas UMKM, dengan transaksi tumbuh 108,43 persen secara tahunan.
  • Digitalisasi UMKM perlu melampaui pembayaran digital melalui pemanfaatan data untuk pencatatan keuangan, pengelolaan usaha, pengambilan keputusan, dan akses layanan keuangan.
  • Laporan BukuWarung mencatat tujuh dari sepuluh penerima BukuModal menaikkan pendapatan rata-rata 58 persen; pembiayaan efektif bila sesuai kebutuhan dan didukung pengelolaan keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Adopsi pembayaran digital di kalangan UMKM terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, digitalisasi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi akses pembiayaan yang lebih luas maupun pengelolaan usaha yang lebih kuat.

Hingga April 2026, Bank Indonesia mencatat QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan 45,3 juta merchant, yang sebagian besar merupakan UMKM. Transaksi melalui QRIS juga tumbuh 108,43 persen secara tahunan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, Nailul Huda, mengatakan tren tersebut menunjukkan adopsi yang terus meluas, baik dari sisi pengguna maupun merchant.

“Saya masih melihat QRIS ini banyak dipengaruhi dari sisi pengguna nasabah. Ketika nasabah mulai banyak yang beralih ke QRIS, saya melihat ada kecenderungan peningkatan merchant yang menggunakan QRIS,” ujar Nailul.

1. Digitalisasi UMKM bukan cuma dalam pembayaran tapi pemanfaatan data

Ilustrasi UMKM go digital (dok. Grab)
Ilustrasi UMKM go digital (dok. Grab)

Nailul menilai, pembayaran digital merupakan salah satu indikator penting dalam proses digitalisasi UMKM. Namun, indikator lainnya, termasuk pemanfaatan data digital untuk memperluas akses terhadap layanan keuangan, masih memiliki ruang yang besar untuk
dikembangkan.

"Saya melihat digitalisasi UMKM tidak hanya diukur dari penggunaan pembayaran digital. Itu baru salah satu instrumen dalam perjalanan transformasi digital. Pemanfaatan data digital untuk mendukung akses keuangan masih menjadi area yang memiliki ruang pengembangan yang sangat besar," ujarnya.

Menurut dia, tahap berikutnya adalah memastikan digitalisasi turut memperkuat kualitas pengelolaan usaha sehingga pelaku UMKM memiliki dasar yang lebih kuat untuk berkembang. "Karena itu, saya rasa penting untuk melihat bahwa tujuan akhir dari digitalisasi adalah membantu UMKM memiliki pencatatan keuangan yang lebih baik serta pengelolaan usaha yang semakin baik melalui pemanfaatan teknologi digital," jelas Nailul.

2. Data digital dapat buka akses ke pembiayaan

ilustrasi modal
ilustrasi modal (unsplash.com/bady abbas)

Ia menambahkan bahwa digitalisasi UMKM dapat dikatakan mencapai tahap yang lebih optimal ketika data digital yang dihasilkan dari aktivitas usaha telah dimanfaatkan untuk membuka
akses terhadap pembiayaan.

"Menurut saya, digitalisasi dapat dikatakan optimal ketika data digital yang dimiliki pelaku usaha tidak hanya digunakan untuk menjalankan operasional, tetapi juga menjadi dasar dalam memperoleh akses pembiayaan," tambahnya.

Potensi tersebut mulai terlihat ketika data dan pembiayaan dimanfaatkan secara produktif oleh pelaku usaha. Pengalaman merchant BukuWarung menunjukkan bagaimana akses modal dapat mendorong pertumbuhan usaha ketika didukung pencatatan yang lebih baik.

Potensi tersebut mulai terlihat ketika akses pembiayaan dapat dimanfaatkan secara produktif oleh pelaku usaha. Sejumlah temuan menunjukkan bahwa tambahan modal, ketika didukung pengelolaan usaha yang lebih baik, dapat mendorong pertumbuhan bisnis UMKM. Salah satunya, tercermin dalam Loan Impact Report BukuWarung.

Berdasarkan analisis terhadap merchant penerima pembiayaan melalui BukuModal, tujuh dari sepuluh merchant mencatat
kenaikan pendapatan dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 58 persen. Sebanyak 43 persen merchant penerima pembiayaan berhasil naik ke kategori usaha yang lebih tinggi.

Sementara itu, merchant pada kelompok usaha awal mencatat pertumbuhan
pendapatan hingga hampir lima kali lipat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan memiliki dampak paling besar ketika diberikan pada merchant yang sudah memiliki aktivitas usaha yang terdokumentasi dan siap berkembang.

BukuWarung.jpg
Aplikasi Manajemen Keuangan (Dok. BukuWarung)

VP Strategic Partnership, Compliance, dan Legal BukuWarung, Romy Williams, mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan dapat memberikan dampak besar ketika diberikan sesuai kebutuhan usaha.

“Tambahan modal memungkinkan merchant menambah persediaan, menjaga arus kas, dan menangkap peluang transaksi yang sebelumnya tidak dapat mereka layani,” ujar Romy.

Menurut dia, dampak paling besar terlihat pada merchant yang masih berada pada tahap awal pengembangan usaha. Pada kelompok tersebut, tambahan modal kerja dapat langsung meningkatkan kapasitas transaksi.

“Ketika modal diberikan pada waktu dan untuk kebutuhan yang tepat, dampaknya dapat terlihat pada perputaran usaha dan pendapatan merchant. Namun, pembiayaan tetap perlu diikuti dengan kemampuan mengelola keuangan,” katanya.

Romy menambahkan, modal bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan UMKM. Pelaku usaha juga membutuhkan pencatatan yang baik untuk mengetahui kondisi arus kas dan menentukan penggunaan pembiayaan secara produktif.

Menurut Romy, digitalisasi akan memberikan dampak yang lebih besar ketika data yang dihasilkan pelaku usaha tidak berhenti sebagai catatan transaksi, tetapi menjadi dasar bagi pengambilan keputusan usaha dan perluasan akses terhadap layanan keuangan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More