Uang Beredar di Indonesia Sentuh Rp10 ribu Triliun, Tumbuh 8,7 Persen

- Bank Indonesia mencatat uang beredar (M2) mencapai Rp10.089,9 triliun pada Februari 2026, tumbuh 8,7 persen secara tahunan meski melambat dibanding Januari yang tumbuh 10 persen.
- Pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh kenaikan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat sebesar 25,6 persen dan penyaluran kredit yang meningkat 8,9 persen secara tahunan.
- Uang primer (M0) naik 18,3 persen menjadi Rp2.227,7 triliun, didorong pertumbuhan giro perbankan umum di BI sebesar 33,6 persen serta peningkatan uang kartal sebesar 15,8 persen.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.089,9 triliun pada Februari 2026. Pergerakan uang beredar mengalami pertumbuhan 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kendati angka ini menunjukkan pertumbuhan 8,7 persen secara tahunan, sebenarnya terjadi perlambatan dibandingkan dengan periode Januari yang tumbuh 10 persen.
1. Apa penyebabnya?

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit.
"Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh 25,6 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 22,6 persen (yoy)," kata Ramdan, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
2. Pertumbuhan kredit capai 8,9 persen

Sementara itu, uang primer (M0) pada Februari 2026 tumbuh 18,3 persen (yoy), meningkat dari 14,7 persen pada bulan sebelumnya. Dengan demikian, M0 tercatat sebesar Rp2.227,7 triliun.
Capaian ini turut ditopang oleh pertumbuhan giro perbankan umum di BI sebesar 33,6 persen dan uang kartal sebesar 15,8 persen.
3. Uang beredar tumbuh

Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Februari 2026. Posisi M2 pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp10.089,9 triliun atau tumbuh sebesar 8,7 persen (yoy), setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10,0 persen (yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 3,1 persen (yoy).
Perkembangan M2[1] pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 25,6% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 22,6% (yoy).Penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,9% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan Januari 2026 sebesar 10,2% (yoy).
Hasil lengkap statistik uang beredar dan analisis terkait dapat dibaca pada link berikut.

















