ilustrasi industri semikonduktor (unsplash.com/Maxence Pira)
Taipan air minum dalam kemasan Zhong Shanshan turun ke posisi kedua dengan kekayaan 61 miliar dolar AS atau setara Rp1.106,05 triliun setelah merosot 23 persen. Posisi ketiga ditempati oleh Chairman produsen baterai kendaraan listrik CATL Robin Zeng dengan kekayaan mencapai 57,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.038,96 triliun. Secara keseluruhan, daftar tersebut memuat rekor 1.529 orang dengan kekayaan minimal 5 miliar yuan China atau setara Rp13,59 triliun (kurs Rp2.718), naik 6,6 persen dari tahun lalu.
Jumlah miliarder berdenominasi dolar AS bertambah 155 orang menjadi 1.176 orang, melampaui total miliarder di Amerika Serikat dengan keunggulan 176 orang. Hoogewerf menerangkan bahwa distribusi kekayaan tahun ini terbelah secara kontras antara sektor teknologi canggih dan industri konvensional. "Keuntungan tahun ini terpolarisasi—pengusaha di bidang AI, semikonduktor, dan robotika melesat maju, sementara mereka yang berada di sektor konsumen, real estate, dan manufaktur tradisional mengalami penyusutan kekayaan—sebuah ekonomi dua kecepatan," kata Hoogewerf.
Dampak penurunan pasar properti yang berlangsung selama bertahun-tahun di China daratan terlihat jelas dalam susunan daftar tahun ini. Hoogewerf menegaskan bahwa untuk kali pertama tidak ada satu pun pengembang properti dari China daratan yang tersisa di kelompok papan atas. "Hari ini, untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun pengembang properti China daratan yang tersisa di 100 Besar—satu-satunya nama properti yang tersisa di puncak adalah keluarga pemilik tanah Hong Kong," ujar dia.