ilustrasi sajian roti sourdough (pexels.com/Alexandre Bonato)
Perbedaan mikroorganisme juga membantu menjelaskan mengapa sourdough dari satu tempat bisa memiliki karakter yang berbeda dengan sourdough dari tempat lain. Dalam proyek penelitian lain yang disebut Global Sourdough Project, para peneliti mempelajari bagaimana faktor geografis berkaitan dengan komposisi mikroorganisme dalam starter. Salah satu temuan yang disebutkan adalah ragi dari genus Naumovozyma dan Kazachstania menjadi ciri yang ditemukan pada starter asal Australia. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan dan asal-usul starter dapat ikut membentuk komunitas mikroorganisme di dalamnya.
Bahkan, keberadaan berbagai starter yang dikumpulkan dalam perpustakaan sourdough di Belgia menunjukkan bahwa setiap kultur bisa memiliki karakter yang ingin dipertahankan. Starter dari berbagai baker disimpan dengan menggunakan tepung yang sama seperti yang biasa mereka gunakan di daerah asalnya. Tujuannya adalah mempertahankan karakter unik dari masing-masing starter. Jadi, saat kamu menikmati sourdough dengan rasa dan aroma tertentu, ada kemungkinan kamu sedang menikmati hasil dari interaksi panjang antara tepung, mikroorganisme, lingkungan, dan kebiasaan baker.
Pada akhirnya, sourdough bukan sekadar campuran tepung, air, dan proses fermentasi. Ada komunitas mikroorganisme yang terus berkembang dan beradaptasi selama starter dirawat oleh baker. Cara kamu memberi makan starter, mengatur suhu, memilih tepung, hingga sering bersentuhan dengan adonan ternyata bisa ikut menentukan mikroorganisme yang bertahan. Inilah yang membuat sourdough menjadi menarik, karena setiap roti punya cerita biologisnya sendiri sebelum akhirnya sampai ke meja makan kamu.