Hasil paling kuat dalam penelitian terlihat ketika latihan kekuatan digabungkan dengan aktivitas aerobik.
Dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan strength training dan memiliki aktivitas aerobik rendah, salah satu kelompok yang melakukan 60–119 menit strength training serta aktivitas aerobik tinggi memiliki risiko kematian 45 persen lebih rendah selama penelitian.
Aktivitas aerobik saja juga berkaitan dengan manfaat yang lebih besar daripada strength training saja. Namun, menambahkan strength training umumnya memberikan penurunan risiko tambahan pada hampir semua tingkat aktivitas aerobik.
Strength training dan latihan aerobik menawarkan manfaat yang berbeda. Aktivitas aerobik, seperti berjalan cepat, bersepeda, atau berenang, terutama melatih jantung, paru-paru, dan kebugaran kardiorespirasi. Latihan kekuatan membantu mempertahankan massa otot, kekuatan, komposisi tubuh, serta kemampuan menggunakan glukosa.
Buat pemula, sebaiknya mulailah dengan gerakan yang menggunakan berat tubuh, seperti squat, push-up di dinding, atau naik-turun pijakan rendah. Beban dapat ditambah secara bertahap menggunakan resistance band, dumbel ringan, atau mesin latihan.
Target 90 menit per minggu juga tidak harus dilakukan sekaligus. Waktu tersebut dapat dibagi menjadi dua atau tiga sesi.
Sebagai contoh, lakukan latihan selama 20–30 menit dua kali seminggu, lalu tingkatkan durasi atau beban secara bertahap setelah tubuh beradaptasi.
Latihan sebaiknya mencakup kelompok otot utama pada kaki, pinggul, punggung, perut, dada, bahu, dan lengan. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas penguatan otot setidaknya dua hari seminggu. Aktivitas ini perlu dilengkapi dengan minimal 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas intensitas berat per minggu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Bagi orang yang baru memulai, konsistensi lebih penting daripada mengejar beban berat. Pilih beban yang memungkinkan gerakan dilakukan dengan teknik terkontrol. Hentikan latihan jika muncul nyeri tajam, pusing, atau sesak yang tidak biasa.
Orang dengan penyakit kronis, riwayat cedera, atau keterbatasan gerak sebaiknya meminta arahan dokter atau fisioterapis untuk menyesuaikan latihan.
Pada akhirnya, strength training manfaatnya tidak cuma kamu rasakan saat ini, tetapi juga menjaga kesehatan jangka panjang.
Referensi
Yiwen Zhang, Dong Hoon Lee, Leandro F. M. Rezende, Yuan Ma, and Edward Giovannucci, “Long-Term Resistance Training with All-Cause and Cause-Specific Mortality: Assessing Dose-Response and Joint Associations with Aerobic Physical Activity,” British Journal of Sports Medicine 60, no. 12 (2026): 874–83, https://doi.org/10.1136/bjsports-2025-110503.
Haruki Momma, Ryoko Kawakami, Takanori Honda, and Susumu S. Sawada, “Muscle-Strengthening Activities Are Associated with Lower Risk and Mortality in Major Non-Communicable Diseases: A Systematic Review and Meta-analysis of Cohort Studies,” British Journal of Sports Medicine 56, no. 13 (2022): 755–63, https://doi.org/10.1136/bjsports-2021-105061.
Harvard Health Publishing, “Strength Training over Decades Linked to Longer Life,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Physical Activity,” diakses Juli 2026.