Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Puasa Ramadan Memengaruhi Kualitas ASI?

Apakah Puasa Ramadan Memengaruhi Kualitas ASI?
ilustrasi pengaruh puasa terhadap kualitas ASI (pexels.com/William Fortunato)
Intinya Sih

  • Puasa Ramadan tidak banyak mengubah komposisi makronutrien ASI, sehingga energi, protein, lemak, dan karbohidrat tetap relatif stabil selama ibu menjaga asupan gizi saat sahur dan berbuka.

  • Beberapa mikronutrien seperti zink, magnesium, dan kalium dapat menurun jika asupan nutrisi ibu kurang selama malam hari, sehingga penting memastikan makanan bergizi seimbang untuk menjaga kualitas ASI.

  • Berat badan bayi umumnya tidak terpengaruh oleh puasa ibu menyusui, tetapi hidrasi cukup dan pemantauan kondisi tubuh tetap krusial agar produksi ASI tidak menurun drastis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjalani puasa Ramadan sambil menyusui sering menjadi pertanyaan besar bagi ibu baru. Di satu sisi ada semangat beribadah, tetapi di sisi lain ada rasa tanggung jawab memberi ASI terbaik bagi bayi.

ASI atau air susu ibu adalah nutrisi terbaik bagi bayi karena mengandung kombinasi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, serta antibodi yang mendukung pertumbuhan dan kekebalan tubuh bayi.

Produksinya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk frekuensi menyusui, hidrasi ibu, dan asupan nutrisi sehari-hari. Perubahan jadwal makan seperti saat puasa Ramadan membuat banyak ibu bertanya-tanya apakah perubahan pola makan ini berdampak pada kuantitas atau kualitas ASI? Jawabannya bisa kamu temukan di bawah ini, ya!

Table of Content

1. Komposisi makronutrien ASI tetap relatif stabil

1. Komposisi makronutrien ASI tetap relatif stabil

Satu studi observasional modern yang membandingkan antara ibu yang berpuasa Ramadan dan yang tidak berpuasa menunjukkan komposisi energi, karbohidrat, protein, dan lemak ASI tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Artinya, secara makronutrien (zat utama yang menjadi sumber energi dan pertumbuhan bayi) ASI tetap relatif konsisten meski ibu berpuasa.

Dalam studi tersebut, walaupun ibu yang berpuasa mungkin mengalami perubahan pola makan, tetapi tidak ada perbedaan nyata dalam kandungan kalori dan nutrisi utama dari ASI mereka dibanding ibu yang tidak berpuasa. Ini bisa diartikan tubuh ibu memiliki mekanisme fisiologis yang menjaga kualitas nutrisi dasar ASI dalam kondisi normal selama puasa.

Temuan ini penting karena mendukung pandangan bahwa puasa Ramadan tidak otomatis mengurangi nilai gizi utama ASI, tetapi ni mengasumsikan ibu dalam keadaan sehat dan mencukupi kebutuhan makronutriennya saat sahur dan berbuka.

2. Perubahan beberapa mikronutrien tertentu

ilustrasi sahur (pexels.com/ Sami Abdullah)
ilustrasi sahur (pexels.com/ Sami Abdullah)

Penelitian lain menunjukkan, meskipun makronutrien ASI stabil, tetapi mikronutrien seperti zink, magnesium, dan kalium bisa berkurang selama puasa, terutama jika asupan makanan ibu tidak cukup selama malam hari. Studi terhadap ibu menyusui yang berpuasa menemukan penurunan signifikan dalam kadar mineral-mineral ini dibandingkan dengan periode setelah Ramadan.

Mineral seperti zink dan magnesium berperan penting dalam fungsi imun dan metabolik bayi. Penurunan kadarnya dalam ASI kemungkinan berkaitan dengan asupan makanan ibu yang berada di bawah rekomendasi gizi harian untuk ibu menyusui selama Ramadan. Artinya, perubahan komposisi ini lebih berkaitan dengan status nutrisi ibu secara keseluruhan daripada hanya puasa itu sendiri.

Walaupun perubahan ini tidak selalu berarti buruk secara klinis, tetapi ini menunjukkan bahwa kualitas mikronutrien ASI bisa dipengaruhi oleh pola makan ibu saat puasa, sehingga penting memastikan asupan nutrisi cukup saat sahur dan berbuka.

3. Berat badan dan pertumbuhan bayi tidak terpengaruh

Seorang ibu menyusui bayinya.
ilustrasi ibu menyusui bayinya (freepik.com/freepik)

Beberapa penelitian menunjukkan berat badan bayi yang disusui oleh ibu yang berpuasa tidak berbeda jauh dibanding bayi yang ibunya tidak berpuasa, setidaknya dalam periode Ramadan yang diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa selama kebutuhan dasar ASI—makronutrien—terpenuhi, bayi tetap dapat tumbuh normal.

Ini juga berarti bahwa tubuh bayi tetap mendapatkan energi dan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan meskipun ibunya menjalankan puasa.

Namun, temuan ini sebaiknya tidak disalahartikan sebagai rekomendasi universal. Faktor lain seperti usia bayi, frekuensi menyusui, dan status gizi ibu dapat berperan penting dalam pertumbuhan bayi secara keseluruhan.

4. Risiko produksi ASI menurun jika ibu mengalami dehidrasi

ASI sebagian besar terdiri dari air, sekitar 80–90 persen, dan produksi susu tergantung pada stimulasi saat menyusui serta hidrasi ibu. Dehidrasi berat atau kurang konsumsi cairan dapat menyebabkan penurunan volume ASI.

Meskipun puasa secara langsung tidak selalu menurunkan produksi ASI, tetapi dehidrasi akibat tidak minum sepanjang hari dapat mengurangi suplai susu jika tidak diimbangi dengan asupan cairan cukup di luar jam puasa.

Ini menekankan pentingnya hidrasi yang cukup selama sahur, berbuka, dan sesudahnya untuk membantu menjaga jumlah produksi ASI.

5. Pentingnya asupan nutrisi yang seimbang

Walaupun puasa tidak selalu secara langsung mengubah komposisi makronutrien ASI, tetapi asupan nutrisi ibu selama malam hari tetap kritikal. Ibu menyusui membutuhkan lebih banyak kalori dan nutrisi dibanding perempuan yang tidak menyusui.

Ibu menyusui memperhatikan kecukupan energi, protein, serta mikronutrien tertentu untuk mendukung produksi ASI yang optimal.

Jika asupan nutrisi tidak mencukupi, misalnya ibu tidak makan makanan yang kaya zat besi, vitamin, atau mineral, ini dapat berdampak pada cadangan nutrisi ibu secara keseluruhan, yang kemudian tercermin pada beberapa aspek mikro komposisi ASI.

6. Perbedaan antara penelitian lama dan baru

Seorang ibu menyusui bayinya.
ilustrasi ibu menyusui bayinya (unsplash.com/Wes Hicks)

Beberapa studi awal menyimpulkan bahwa puasa Ramadan tidak secara signifikan mengubah komposisi ASI. Sebuah riset tahun 2001 menemukan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam kadar protein, lemak, atau laktosa ASI antara puasa dan bukan puasa.

Namun, penelitian yang lebih baru memberikan nuansa, bahwa meskipun makronutrien tetap stabil, tetapi ada perubahan pada beberapa mikronutrien tertentu. Ini menunjukkan bahwa para ahli terus mengeksplorasi bagaimana berbagai aspek nutrisi ibu dapat memengaruhi ASI.

7. Kondisi setiap ibu menyusui tidak sama

Respons terhadap puasa dapat berbeda antara satu ibu dengan yang lain. Faktor seperti status gizi awal ibu, frekuensi menyusui, kualitas tidur, dukungan keluarga, serta metode pemberian ASI memengaruhi bagaimana tubuh ibu beradaptasi.

Jika seorang ibu merasa kelelahan ekstrem, tanda-tanda dehidrasi, atau produksi ASI berkurang secara drastis, ini bisa menjadi sinyal bahwa tubuhnya tidak mampu mempertahankan kebutuhan metabolik selama puasa.

Tips lancar menyusui selama puasa Ramadan

Puasa tidak selalu mengganggu kualitas ASI, tetapi manajemen nutrisi dan hidrasi sangat menentukan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, perubahan mikronutrien dalam ASI lebih berkaitan dengan asupan makanan ibu yang tidak memadai selama puasa. Artinya, strategi makan yang tepat bisa membantu menjaga kualitas dan kuantitas ASI tetap optimal.

Berikut ini tips lancar menyusui selama puasa Ramadan:

1. Prioritaskan hidrasi di luar jam puasa

Produksi ASI sangat bergantung pada hidrasi ibu. Rekomendasi umumnya penuhi kebutuhan cairan sekitar 3,8 liter per hari (dari minuman dan makanan). Penuhi kebutuhan ini antara waktu berbuka hingga sahur.

Prinsip sederhananya: minum secara bertahap, tidak sekaligus banyak. Warna urine yang sangat gelap atau rasa sangat haus bisa menjadi tanda asupan cairan kurang.

2. Fokus pada makanan padat nutrisi

Karena waktu makan lebih terbatas, kualitas makanan sangat penting. Pastikan sahur dan berbuka mengandung:

  • Protein cukup (telur, ikan, ayam, kacang-kacangan).
  • Lemak sehat (alpukat, kacang, minyak zaitun).
  • Karbohidrat kompleks.
  • Sumber mikronutrien seperti zink, magnesium, dan zat besi.

Penelitian menunjukkan kadar zink dan magnesium dalam ASI dapat menurun jika asupan ibu kurang selama puasa. Jadi, variasi makanan sangat penting.

3. Tetap menyusui sesuai kebutuhan bayi

Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Sangat penting untuk menyusui sesuai kebutuhan bayi untuk mempertahankan suplai. Jangan mengurangi frekuensi menyusui hanya karena sedang puasa, kecuali ada indikasi medis.

4. Perhatikan sinyal tubuh

Rasa lelah ringan masih wajar. Namun, jika merasa pusing atau lemas parah, atau ada tanda dehidrasi, itu bukan kondisi yang bisa diabaikan. Tubuh memberi sinyal ketika cadangan energi mulai tidak cukup.

Kapan harus membatalkan puasa?

Seorang ibu menyusui bayinya.
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/RDNE Stock project)

Islam memberikan keringanan bagi ibu menyusui jika puasa membahayakan diri atau bayinya. Dari sisi medis, beberapa kondisi berikut menjadi alasan rasional untuk membatalkan puasa.

1. Mengalami tanda dehidrasi berat

Tanda dehidrasi berat meliputi sangat sedikit buang air kecil, urine sangat gelap, pusing berat, dan lemah ekstrem. Karena ASI terdiri dari sekitar 80–90 persen air, dehidrasi berat dapat menurunkan volume produksinya.

Jika ibu merasa hampir pingsan atau sangat lemah, membatalkan puasa adalah langkah yang aman.

2. Produksi ASI turun drastis

Apabila bayi tampak lebih rewel dari biasanya, frekuensi buang air kecil berkurang, atau berat badan tidak naik sesuai grafik pertumbuhan, ini perlu dievaluasi. Penurunan produksi ASI yang nyata bisa menjadi tanda tubuh ibu tidak mampu mempertahankan suplai selama puasa.

3. Bayi menunjukkan tanda kurang asupan cairan

Tanda bayi kurang cairan meliputi popok basah kurang dari biasanya, mulut kering, atau tampak lesu. Dalam kondisi ini, kesehatan bayi menjadi prioritas.

4. Ibu memiliki kondisi medis tertentu

Ibu menyusui dengan anemia berat, diabetes yang tidak terkontrol, gangguan tiroid, atau berat badan sangat rendah sebaiknya berkonsultasi sebelum berpuasa. Status kesehatan ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui.

Puasa Ramadan umumnya tidak mengubah komposisi makronutrien utama ASI, tetapi dapat memengaruhi beberapa mikronutrien jika asupan ibu tidak mencukupi. Kuncinya bukan sekadar berpuasa atau tidak, melainkan bagaimana ibu mengelola nutrisi, hidrasi, dan kondisi fisiknya.

Jika merasa ragu atau mengalami gejala yang mengganggu, konsultasi dengan dokter atau konselor laktasi adalah langkah paling bijak. Menyusui adalah perjalanan biologis sekaligus emosional, dan kesehatan ibu serta bayi tetap menjadi prioritas.

Referensi

Mine Başıbüyük et al., “Effect of Ramadan Fasting on Breast Milk,” Breastfeeding Medicine 18, no. 8 (August 1, 2023): 596–601, https://doi.org/10.1089/bfm.2023.0144.

Neslişah Rakicioğlu et al., “The Effect of Ramadan on Maternal Nutrition and Composition of Breast Milk,” Pediatrics International 48, no. 3 (May 24, 2006): 278–83, https://doi.org/10.1111/j.1442-200x.2006.02204.x.

“Can You Fast While Breastfeeding in Ramadan?”Johns Hopkins Aramco Healthcare. Diakses Maret 2026.

A. Bener et al., “Fasting During the Holy Month of Ramadan Does Not Change the Composition of Breast Milk,” Nutrition Research 21, no. 6 (June 1, 2001): 859–64, https://doi.org/10.1016/s0271-5317(01)00303-7.

Institute of Medicine. Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate. Washington, DC: National Academies Press, 2005.

“Infant and Young Child Feeding.” World Health Organization. Diakses Maret 2026.

“Dehydration.” Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
3+
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More