Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bulking vs Cutting, Mana yang Sebaiknya Kamu Lakukan?
ilustrasi mengangkat dumbbell (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Bulking memakai surplus kalori untuk mendukung pertumbuhan otot, tetapi tetap membutuhkan protein dan latihan beban; surplus terkendali membantu membatasi penambahan lemak.

  • Cutting menerapkan defisit kalori untuk mengurangi lemak sambil menjaga otot melalui protein dan latihan beban, dengan penurunan bertahap agar energi serta performa tetap terjaga.

  • Pilihan fase bergantung pada lemak tubuh, tujuan, pengalaman latihan, dan kondisi fisik; pemula dapat membangun otot sekaligus mengurangi lemak tanpa surplus besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bulking dan cutting adalah dua pendekatan yang sering digunakan dalam dunia fitness untuk mengatur perubahan berat badan dan komposisi tubuh. Bulking berfokus pada penambahan massa tubuh dengan asupan kalori yang lebih tinggi. Di lain sisi, cutting bertujuan menurunkan lemak tubuh sambil mempertahankan massa otot sebanyak mungkin.

Namun, kita tidak selalu harus memilih salah satunya. Pilihan yang lebih tepat bergantung pada kondisi tubuh, tujuan latihan, pengalaman berolahraga, serta pola makan yang sedang dijalani. Yuk, simak lebih lanjut beberapa perbedaannya di bawah ini!

1. Bulking lebih cocok untuk menambah massa otot

ilustrasi angkat beban (unsplash.com/Luke Witter)

Dalam fase bulking, kita meningkatkan asupan energi agar tubuh memiliki cukup bahan bakar untuk mendukung latihan dan pertumbuhan otot. Kondisi ini biasanya dilakukan dengan mengonsumsi kalori lebih banyak daripada yang digunakan tubuh. Protein yang cukup dan latihan beban yang teratur tetap diperlukan karena kelebihan kalori saja tidak otomatis membuat massa otot bertambah.

Meski begitu, bulking bukan berarti makan sebanyak mungkin tanpa memperhatikan kualitas makanan. Kenaikan berat badan yang terlalu cepat dapat meningkatkan jumlah lemak yang ikut bertambah, sehingga fase cutting nantinya menjadi lebih panjang. Karena itu, pendekatan lean bulk yang menggunakan surplus kalori secara lebih terkendali sering dipilih untuk membantu mengurangi penambahan lemak berlebihan.

2. Cutting dilakukan untuk mengurangi lemak tubuh

ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Berbeda dari bulking, cutting merupakan kondisi ketika kalori yang dikonsumsi lebih sedikit daripada energi yang digunakan tubuh. Tujuan utamanya adalah menurunkan berat badan terutama dari lemak sambil mempertahankan massa otot yang sudah dibangun. Latihan beban dan asupan protein yang memadai menjadi bagian penting agar penurunan berat badan tidak terlalu banyak berasal dari jaringan otot.

Fase ini juga tidak berarti kita harus mengurangi makanan secara ekstrem. Defisit kalori yang terlalu besar dapat membuat tubuh lebih mudah lelah, performa latihan menurun, dan pola makan menjadi sulit dipertahankan. Penurunan berat badan secara bertahap biasanya lebih realistis karena membantu kita untuk tetap berlatih dan mempertahankan kebiasaan makan yang konsisten.

3. Kapan sebaiknya bulking atau cutting?

ilustrasi latihan di gym (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Jika tubuh masih memiliki persentase lemak yang cukup tinggi, bulking mungkin bukan pilihan yang tepat. Menambah berat badan dalam kondisi tersebut dapat membuat jumlah lemak semakin tinggi dan membuat proses mencapai bentuk tubuh yang diinginkan menjadi lebih panjang. Dalam situasi tertentu, menjaga berat badan sambil membangun kekuatan juga bisa menjadi pilihan.

Sebaliknya, orang yang sudah relatif ramping tetapi ingin menambah ukuran dan kekuatan mungkin lebih cocok menjalani bulking. Bagi pemula, situasinya sedikit berbeda karena latihan beban yang baru dimulai dapat memberikan peningkatan otot dan kekuatan meskipun tanpa surplus kalori besar. Inilah yang sering disebut body recomposition, yaitu upaya meningkatkan massa otot sambil mengurangi lemak tubuh secara bersamaan.

4. Fokus pada tujuan tanpa perlu terburu-buru

ilustrasi wanita yang sedang makan (freepik.com/Drazen Zigic)

Menjalani bulking dan cutting tidak dapat dilakukan dengan instan. Setiap fase membutuhkan waktu karena perubahan komposisi tubuh dipengaruhi oleh latihan, makanan, tidur, tingkat aktivitas, serta kondisi awal masing-masing orang. Kita juga perlu memantau perubahan berat badan, lingkar perut, dan kondisi tubuh secara berkala.

Jika tujuan utama adalah tubuh yang lebih sehat dan kuat, kita tidak harus terus-menerus berganti fase. Pilihan terbaik bisa saja mempertahankan berat badan sambil memperbaiki kualitas makanan dan meningkatkan kemampuan latihan. Dengan begitu, keputusan untuk bulking atau cutting dibuat berdasarkan kebutuhan tubuh dan tujuan yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren.

Menentukan fase latihan sebaiknya tidak hanya mengikuti tren atau bentuk tubuh yang sedang populer di media sosial. Kita bisa melihat perkembangan kekuatan, perubahan komposisi tubuh, pola makan, dan kondisi fisik sebelum menentukan langkah berikutnya. Dengan begitu, proses membangun tubuh bisa berjalan lebih terarah tanpa harus terburu-buru mengejar hasil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article