Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kaki Bisa Kesemutan saat Duduk Bersila?

4 min read
Kenapa Kaki Bisa Kesemutan saat Duduk Bersila?
ilustrasi duduk bersila (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Duduk bersila dapat menekan saraf, terutama saraf peroneus di luar lutut, sehingga sinyal saraf terganggu dan kaki terasa kebas atau seperti ditusuk jarum.
  • Posisi yang lama juga bisa membatasi aliran darah sementara; saat posisi diubah, sirkulasi dan sinyal saraf pulih sehingga kesemutan biasanya hilang dalam beberapa menit.
  • Perlu pemeriksaan medis bila kesemutan menetap, sering muncul tanpa sebab, atau disertai nyeri, kelemahan, gangguan keseimbangan; ubah posisi dan bergerak setiap 30–60 menit untuk mencegahnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah duduk bersila cukup lama, lalu tiba-tiba kaki terasa kebas dan seperti ditusuk-tusuk jarum?

Sensasi ini bisa bikin gak nyaman, terutama ketika kaki terasa sulit digerakkan sesaat setelah mengubah posisi.

Kondisi tersebut cukup umum dan biasanya tidak berbahaya. Dalam dunia medis, sensasi kesemutan, kebas, atau seperti ditusuk jarum dikenal sebagai parestesia. Salah satu penyebabnya adalah posisi duduk yang memberikan tekanan sementara pada saraf dan pembuluh darah di kaki.

Berikut penjelasan kenapa duduk bersila bisa membuat kaki kesemutan.

  1. 1. Saraf kaki tertekan saat duduk bersila

    Salah satu penyebab utama kaki kesemutan saat duduk bersila adalah adanya tekanan pada saraf. Ketika satu kaki berada di atas kaki lainnya, berat tubuh dan posisi sendi dapat menekan saraf tertentu yang berada dekat dengan permukaan kulit dan tulang.

    Salah satu saraf yang cukup rentan terkena tekanan adalah common peroneal nerve atau saraf peroneus komunis. Saraf ini melewati bagian luar lutut, tepat di sekitar kepala tulang fibula.

    Di area tersebut, saraf hanya memiliki sedikit jaringan pelindung. Akibatnya, tekanan dari posisi duduk tertentu dapat mengganggu penghantaran sinyal listrik antara saraf dan otak.

    Inilah yang kemudian menimbulkan sensasi seperti kaki mati rasa atau kesemutan. Kesemutan biasanya dapat dirasakan sampai ke bagian luar tulang kering dan punggung kaki. Saraf lain, termasuk saraf tibialis dan cabang saraf skiatik, juga dapat ikut tertekan tergantung posisi tubuh dan berapa lama seseorang duduk.

  2. 2. Aliran darah ke kaki juga bisa berkurang

    Selain saraf, posisi duduk bersila juga dapat memengaruhi sirkulasi darah. Ketika kaki berada dalam posisi tertentu dalam waktu cukup lama, pembuluh darah bisa mengalami tekanan sehingga aliran darah menjadi sedikit lebih terbatas.

    Padahal, saraf dan jaringan tubuh membutuhkan pasokan oksigen serta nutrisi dari darah agar dapat bekerja dengan normal. Ketika aliran darah berkurang sementara, saraf bisa menjadi lebih sensitif dan memunculkan sensasi kesemutan.

    Itulah mengapa rasa seperti ditusuk-tusuk sering kali justru terasa lebih kuat ketika kamu mulai mengubah posisi atau berdiri. Saat tekanan dilepaskan, aliran darah kembali membaik dan saraf mulai mengirimkan sinyal secara normal. Pada kondisi yang umum terjadi, kesemutan akan berangsur menghilang dalam hitungan menit.

  3. 3. Makin lama duduk, kesemutan bisa terasa lebih kuat

    Ilustrasi seseorang duduk bersila dengan posisi kaki menyilang, sesuai keterangan foto Cottonbro Studio.
    ilustrasi duduk bersila (pexels.com/cottonbro studio)

    Durasi juga berpengaruh. Makin lama kamu mempertahankan posisi bersila, makin lama pula saraf dan pembuluh darah menerima tekanan.

    Awalnya, kaki mungkin cuma terasa sedikit kebas. Namun, jika posisi tersebut dipertahankan, mati rasa bisa makin terasa. Saat meluruskan kaki, sensasi kesemutan bisa terasa lebih intens.

    Beberapa orang bahkan mengalami kelemahan ringan pada kaki atau pergelangan kaki untuk sementara waktu. Ini biasanya terjadi karena saraf membutuhkan sedikit waktu untuk kembali berfungsi normal setelah mengalami tekanan.

    Orang yang sudah memiliki masalah pada saraf, seperti skiatika atau neuropati perifer, juga mungkin lebih mudah mengalami kesemutan. Saraf yang sudah sensitif dapat lebih cepat bereaksi terhadap tekanan dari posisi duduk.

  4. 4. Kapan kaki kesemutan perlu diperiksa oleh dokter?

    Kaki kesemutan setelah duduk bersila umumnya biasanya tidak perlu dikhawatirkan, terutama jika sensasinya segera hilang setelah kamu mengubah posisi. Namun, waspada jika kesemutan terjadi terlalu sering atau muncul tanpa alasan yang jelas.

    Sebaiknya temui dokter jika mati rasa atau kesemutan tak kunjung hilang setelah berganti posisi.

    Hal yang sama berlaku jika kesemutan disertai nyeri, kelemahan pada kaki, gangguan keseimbangan, atau kesemutan yang juga muncul di bagian tubuh lainnya.

    Gejala tersebut bisa berkaitan dengan masalah saraf atau sirkulasi yang butuh pemeriksaan lebih lanjut. Jadi, penting untuk memperhatikan bukan cuma rasa kesemutannya, tetapi juga kapan dan seberapa sering kondisi itu muncul.

  5. 5. Cara mencegah kaki kesemutan saat duduk bersila

    Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi tekanan pada saraf dan membuat kaki lebih nyaman.

    Pertama, jangan terlalu lama berada dalam satu posisi. Cobalah mengubah posisi kaki secara berkala, terutama jika mulai terasa kebas.

    Kamu juga bisa bergantian menyilangkan kaki agar tekanan tidak terus berada di area yang sama.

    Selain itu, gunakan alas duduk yang cukup nyaman dan memiliki dukungan untuk punggung.

    Kalau harus duduk dalam waktu lama, sempatkan berdiri, berjalan sebentar, atau melakukan peregangan setiap 30–60 menit.

    Pakaian yang terlalu ketat di sekitar paha, lutut, atau betis juga sebaiknya dihindari karena dapat menambah tekanan pada jaringan dan mengganggu kenyamanan.

    Pada dasarnya, kaki yang kesemutan setelah duduk bersila merupakan respons tubuh terhadap tekanan sementara pada saraf dan kemungkinan berkurangnya aliran darah. Selama sensasinya segera menghilang setelah posisi diubah, biasanya ini tak perlu dikhawatirkan.

    Namun, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mati rasa atau kesemutan tak kunjung hilang setelah berganti posisi, atau disertai gejala lain yang tak biasa.

    Referensi

    Elevate Physiotherapy. Diakses pada September 2026. "Sitting Cross Legged- Is It So Bad?"

    Function Forward Physical Therapy. Diakses pada September 2026. "Leg Numbness After Sitting: Sciatica, Neuropathy or a Pinched Nerve?"

    Science Insights. Diakses pada September 2026. "Why Do My Legs Hurt When I Sit Cross-Legged?"

    Total Health Chiropractic. Diakses pada September 2026. "Pins and Needles in Your Leg After Sitting Cross-Legged: What’s Going On?"

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More