Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Harus Dilakukan saat Terjadi Hujan Abu Vulkanik
ilustrasi abu vulkanik (pixabay.com/Pexels)
  • Saat hujan abu vulkanik, segera berlindung di dalam rumah, batasi aktivitas luar, serta lepaskan sepatu dan pakaian luar terpapar agar abu tidak menyebar ke dalam ruangan.
  • Jika harus keluar, gunakan masker yang menutup hidung-mulut dan kacamata untuk melindungi mata. Tutup pintu, jendela, serta celah rumah, dan hindari memakai kipas angin.
  • Bersihkan abu perlahan dengan masker dan sarung tangan, periksa atap serta saluran air. Pantau informasi resmi dan perhatikan batuk, sesak, atau iritasi mata yang muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Begitu hujan abu vulkanik turun, suasana di sekitar rumah bisa langsung berubah. Jalanan yang biasanya ramai mendadak terlihat berkabut, kendaraan tertutup oleh lapisan abu, dan udara pun terasa kurang nyaman untuk dihirup.

Dalam kondisi seperti ini, yang penting bukan cuma buru-buru membersihkan rumah, tetapi juga tahu apa yang sebaiknya dilakukan agar tubuh tetap terlindungi. Abu vulkanik yang beterbangan bisa ikut terhirup dan membuat mata atau kulit terasa tidak nyaman, apalagi jika cukup lama berada di luar rumah.

Oleh karena itu, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan selama hujan abu masih turun. Nah, apa saja yang sebaiknya dilakukan agar tetap aman? Yuk, simak lima langkahnya berikut ini!

1. Segera masuk ke dalam rumah dan batasi aktivitas di luar

ilustrasi kualitas udara yang buruk (magnific.com/jcomp)

Ketika hujan abu mulai turun, hal pertama yang paling baik dilakukan adalah mencari tempat aman dan masuk ke dalam rumah. Abu vulkanik dapat beterbangan cukup jauh dan dihirup tanpa disadari, jadi gak perlu memaksakan diri untuk tetap berada di luar. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tunda kegiatan di luar hingga situasi lebih aman.

Sebelum kembali ke dalam rumah, usahakan untuk tidak membawa banyak abu dari pakaian atau tubuh ke dalam ruangan. Lepaskan sepatu dan pakaian luar yang terpapar abu, lalu bersihkan diri sesuai kebutuhan. Langkah sederhana ini dapat membantu mencegah penyebaran abu di dalam rumah.

2. Gunakan masker dan lindungi mata

ilustrasi memakai kacamata dan masker (magnific.com/senivpetro)

Apabila terpaksa keluar saat hujan abu, pastikan mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulut dengan baik. Masker dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup, terutama saat udara dipenuhi abu. Untuk perlindungan yang lebih efektif, pilihlah pelindung pernapasan yang sesuai dan nyaman dipakai di wajah.

Mata juga seharusnya mendapatkan perhatian karena abu vulkanik dapat menyebabkan perih atau iritasi. Menggunakan kacamata bisa membantu mengurangi kemungkinan abu langsung mengenai mata saat berada di luar. Jadi, bukan hanya hidung dan mulut yang perlu terlindungi, melainkan mata juga sangat penting.

3. Tutup pintu, jendela, dan celah rumah

ilustrasi rumah (magnific.com/senivpetro)

Ketika abu masih beterbangan di udara, pastikan semua pintu dan jendela rumah tetap tertutup rapat. Abu dapat dengan mudah masuk melalui celah terbuka dan menempel pada lantai, meja, atau berbagai permukaan benda lainnya. Semakin sedikit abu yang berhasil masuk, semakin mudah pula mengelola kualitas udara di dalam rumah.

Jika terdapat celah yang memungkinkan masuknya abu, sebaiknya ditutup sementara untuk mengurangi paparan dari luar. Selain itu, hindari menggunakan kipas angin karena dapat mengakibatkan abu yang sudah masuk kembali beterbangan di dalam ruangan. Meskipun rumah mungkin terasa sedikit pengap, keadaan ini masih lebih baik dibandingkan dengan membiarkan abu terus-menerus masuk.

4. Bersihkan abu dengan cara yang tepat

ilustrasi memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan rumah (magnific.com/freepik)

Melihat halaman atau kendaraan yang tertutup abu memang membuat ingin langsung menyiramnya dengan air. Akan tetapi, abu yang basah cenderung menjadi lebih berat dan menumpuk, sehingga pembersihan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Pastikan untuk menggunakan alat pelindung, seperti masker dan sarung tangan, saat membersihkan untuk mengurangi paparan abu.

Pada permukaan tertentu, abu seharusnya dibersihkan perlahan agar tidak membuatnya beterbangan kembali ke udara. Jangan lupakan juga untuk memeriksa atap dan saluran air karena tumpukan abu yang berat bisa menambah beban dan menyumbat saluran. Jika jumlah abu yang harus dibersihkan sangat banyak atau situasinya terasa berbahaya, lebih baik mengikuti petunjuk petugas setempat daripada mencoba membersihkannya sendiri.

5. Pantau informasi dan kondisi tubuh

ilustrasi periksa ke dokter (magnific.com/freepik)

Selama hujan abu berlangsung, jangan cuma mengandalkan kondisi langit untuk menentukan kapan aman keluar rumah. Pantau informasi resmi mengenai aktivitas gunung, arah sebaran abu, serta imbauan dari pihak berwenang di wilayah masing-masing. Informasi tersebut dapat membantu menentukan kapan sebaiknya tetap berlindung dan kapan aktivitas di luar mulai memungkinkan.

Setelah terkena abu, coba perhatikan juga kondisi tubuh, terutama kalau mulai muncul batuk, sesak, atau mata terasa perih dan makin tidak nyaman. Kalau keluhannya cukup berat atau gak kunjung membaik, sebaiknya segera periksa agar gak dianggap sepele. Tetap tenang boleh, tapi jangan abaikan tanda-tanda dari tubuh sendiri.

Saat hujan abu vulkanik, hal terpenting adalah mengurangi paparan dan tetap mengikuti informasi resmi di sekitar wilayah terdampak. Gunakan masker, lindungi mata, dan sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah sampai kondisi lebih aman. Jangan panik, tetapi tetap waspada supaya diri sendiri dan keluarga tetap terlindungi, ya!

Referensi:

“Volcanic air pollution and human health: recent advances and future directions.” Bulletin of Volcanology. Diakses September 2026.

“Use of respiratory protection in Yogyakarta during the 2014 eruption of Kelud, Indonesia: Community and agency perspectives.” Journal of Volcanology and Geothermal Research. Diakses September 2026.

“Factors motivating the use of respiratory protection against volcanic ashfall: A comparative analysis of communities in Japan, Indonesia and Mexico.” International Journal of Disaster Risk Reduction. Diakses September 2026.

“Short Communication: Health Interventions in Volcanic Eruptions—Community Wearability Assessment of Respiratory Protection against Volcanic Ash from Mt Sinabung, Indonesia.” International Journal of Environmental Research and Public Health. Diakses September 2026.

“Community perceptions of protective practices to prevent ash exposures around Sakurajima volcano, Japan.” International Journal of Disaster Risk Reduction. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article