Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Insufisiensi Vena Kronis: Kapan Perlu Ditangani dengan EVLA?
ilustrasi pembuluh darah arteri di jantung (Freepik.com)
  • Insufisiensi vena kronis terjadi saat aliran darah balik tungkai terganggu akibat katup vena, dengan risiko meningkat karena usia, riwayat keluarga, kehamilan, berat badan berlebih, serta duduk atau berdiri lama.

  • Gejalanya meliputi kaki berat atau nyeri, bengkak, gatal, vena menonjol, hingga perubahan kulit dan luka. Diagnosis perlu gejala, pemeriksaan klinis, serta ultrasonografi dupleks.

  • EVLA dipertimbangkan bagi pasien berindikasi setelah manfaat dan risiko dibahas; laser menutup vena refluks dengan panduan ultrasonografi, bukan sekadar prosedur kosmetik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Chronic venous insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis merupakan gangguan pembuluh darah yang dapat ditemukan pada sekitar 5–30 persen populasi dewasa. Kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh balik pada tungkai tidak dapat mengalirkan darah kembali ke arah jantung secara optimal, umumnya akibat gangguan katup vena yang tidak menutup dengan baik sehingga darah tertahan dan tekanan di dalam vena meningkat.

Opsi penanganan CVI yang minimal invasif

CVI dapat menimbulkan ketidaknyamanan hingga komplikasi pada tungkai. Salah satu pilihan penanganannya adalah endovenous laser ablation (EVLA).

Umumnya CVI dialami oleh orang dengan risiko seperti pertambahan usia, riwayat keluarga, kehamilan, berat badan berlebih, serta kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama.

Varises dapat menyertai gangguan ini, tetapi tidak setiap varises berarti CVI. Sebaliknya, bengkak pada tungkai juga tidak selalu berasal dari gangguan vena. Penyebab lain seperti penyakit jantung, ginjal, hati, gangguan limfatik, maupun trombosis vena perlu dipertimbangkan sesuai gambaran klinis. Karena itu, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat vena yang tampak menonjol.

Keluhan yang sering dijumpai di antaranya tungkai terasa berat atau nyeri, bengkak terutama setelah berdiri lama, gatal dan vena yang tampak menonjol. Jika penyakit berlanjut, dapat timbul perubahan warna maupun tekstur kulit sampai luka vena di sekitar pergelangan kaki. CVI kaki ini kerap berkaitan erat atau memicu terjadinya varises.

Varises bisa menjadi tanda awal

ilustrasi varises (vecteezy.com/Yongkiet Jitwattanatam)

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan subspesialisasi kardiologi intervensi dan intervensi vaskular dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan CVI termasuk penyakit vaskular, di mana sebagian pasiennya merasa terganggu. Varises dapat menjadi tanda awal atau gejala fisik dari CVI.

“Yang perlu kita nilai bukan hanya tampilannya dan yang lebih penting adalah apakah ada gangguan aliran balik vena, apakah pasien punya keluhan, dan apakah sudah ada perubahan pada kulit,” ujarnya dalam rilis resmi.

Tidak semua orang yang memiliki varises pasti mengalami CVI. Namun, jika varises dibiarkan dan kerusakan katup vena makin parah, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi CVI, yang ditandai dengan kaki bengkak parah, nyeri kronis, perubahan warna kulit hingga luka atau ulkus. Kabar baiknya, CVI dan varises dapat diatasi dengan EVLA.

Siloam Hospitals TB Simatupang melalui salah satu center of excellence-nya, kardiologi, dapat melakukan prosedur EVLA untuk mengatasi CVI.

Pasien yang bisa menjalani EVLA

Penilaian pada pasien dilakukan berdasarkan gejala, pemeriksaan klinis, dan ultrasonografi dupleks. Pemeriksaan ini membantu menilai adanya refluks sekaligus memetakan vena yang bermasalah sebelum terapi.

Pada kondisi tertentu, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, elevasi tungkai, serta kompresi dapat menjadi bagian dari penanganan. Tindakan endovenous dipertimbangkan pada pasien yang memenuhi indikasi setelah manfaat, risiko dan pilihan terapinya dibahas bersama.

“EVLA menggunakan energi panas melalui serat laser yang dimasukkan ke dalam vena yang mengalami refluks dengan panduan ultrasonografi. Tujuannya adalah menutup vena superfisial yang mengalami refluks; aliran darah tetap berlangsung melalui jaringan vena lain yang berfungsi baik,” lanjut dr. Emanoel

Dia melanjutkan bahwa inovasi ini bukan tindakan kosmetik semata dan tidak diberikan hanya berdasarkan adanya vena yang terlihat menonjol. Menjaga berat badan, tetap aktif, menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta mengikuti anjuran terapi dapat membantu kesehatan vena.

Curated For You

Editorial Team

Related Article