ilustrasi masker kain (pexels.com/RDNE Stock Project)
Masker kain atau kain yang menutupi hidung dan mulut dapat membantu ketika tidak ada pilihan masker lain, tetapi perlindungannya terhadap abu vulkanik paling terbatas. Menurut USGS, bahan seperti bandana, kaus, kerudung, atau saputangan memiliki kemampuan menyaring abu yang lebih rendah dibandingkan kebanyakan masker dan juga cenderung tidak menempel rapat pada wajah. Adapun, menambah beberapa lapisan kain memang dapat meningkatkan kemampuan menyaring partikel, tetapi tetap tidak membuatnya setara dengan masker bersertifikat seperti N95 atau P2.
Jadi, masker kain dapat digunakan sebagai pilihan ketika P2, N95, atau masker bedah tidak tersedia, tetapi efektivitasnya lebih rendah. Karena itu, masker kain sebaiknya diambil sebagai pilihan terakhir ketika kamu benar-benar harus keluar di tengah paparan abu. Jika tersedia, lebih baik gunakan respirator yang memiliki kemampuan filtrasi dan ukuran yang sesuai dengan wajah.
Pilihan masker untuk menghadapi abu vulkanik ternyata tidak bisa disamakan karena kemampuan menyaring partikel dan tingkat kerapatan tiap masker berbeda. N95 atau P2 menjadi pilihan utama, sementara masker bedah dan masker kain dapat digunakan sebagai alternatif dengan tingkat perlindungan yang lebih rendah. Kalau kamu harus keluar saat abu vulkanik sedang beterbangan, masker mana yang biasanya kamu pilih?
Referensi
"Protecting Against Ash". U.S. Geological Survey (USGS). Diakses pada Agustus 2026.
"Personal Protection PPE". U.S. Geological Survey (USGS). Diakses pada Agustus 2026.
"Preparing for a Volcanic Eruption". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Agustus 2026.
"Safety Guidelines: During a Volcanic Eruption". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Agustus 2026.
"Volcanic Emissions and Health". Health New Zealand. Diakses pada Agustus 2026.