Prof. Gavin Tan, Head & Senior Consultant, Singapore National Eye Centre. (Dok. SingHealth)
Pengobatan retina sering bertujuan menyelamatkan jaringan yang masih hidup dan menghentikan kerusakan agar tidak meluas.
Pada penyakit retina diabetik atau degenerasi makula basah, misalnya, suntikan anti-VEGF dapat membantu mengurangi kebocoran cairan dan pertumbuhan pembuluh darah abnormal. Pada robekan retina, laser dapat digunakan untuk membentuk jaringan parut yang “mengunci” area sekitar robekan. Jika retina telah terlepas, operasi bertujuan mengembalikannya ke posisi semula.
Terapi tersebut dapat memberikan hasil yang baik. Namun, menempelkan kembali retina tidak langsung membuat seluruh sel fotoreseptor kembali bekerja. Hasil akhirnya dipengaruhi lokasi kerusakan, luas area yang terkena, lamanya gangguan berlangsung, serta apakah makula (bagian retina yang bertanggung jawab atas penglihatan pusat yang tajam) ikut terdampak.
Ablasi retina dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Penanganan segera dapat membantu melindungi penglihatan yang masih tersisa.
Dokter mungkin berhasil memperbaiki anatomi mata, tetapi penglihatan pasien tidak selalu kembali seperti sebelum sakit.
Kornea bisa diganti, kenapa retina tidak?
Kornea merupakan lapisan bening di bagian depan mata. Jika kornea mengalami jaringan parut atau kerusakan berat, dokter dapat mengangkat lapisan yang rusak dan menggantinya dengan jaringan donor. Cangkok atau transplantasi bisa melibatkan seluruh ketebalan kornea atau cuma lapisan tertentu.
“Kornea yang rusak parah pada kondisi tertentu dapat diganti menggunakan jaringan donor. Saat ini belum ada prosedur yang setara untuk mentransplantasikan seluruh retina manusia,” kata Prof. Tan.
Kornea dan retina berbeda dalam hal kerumitan jaringan. Kornea harus tetap transparan, mempertahankan bentuknya, dan membiaskan cahaya dengan tepat. Sementara itu, retina harus melakukan pemrosesan saraf sekaligus terhubung dengan jalur visual menuju otak.
Peneliti memang sedang mengembangkan sel fotoreseptor, jaringan retina dari sel punca, dan organoid retina untuk mengganti sel yang hilang. Namun, banyak temuan menjanjikan masih berasal dari hewan atau penelitian praklinis. Salah satu tantangan terbesarnya adalah memastikan sel donor menyatu dan membentuk hubungan saraf yang berfungsi dengan retina pasien.
Studi pada model tikus dengan degenerasi retina yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2026, misalnya, menunjukkan sel progenitor saraf manusia dapat membantu mempertahankan fotoreseptor melalui dukungan metabolik, pengurangan peradangan, dan faktor pelindung sel. Namun, efek perlindungannya melemah seiring waktu dan degenerasi tetap berlanjut.
Jadi, terapi sel punca bukan pengobatan rutin yang sudah terbukti untuk meregenerasi seluruh retina.