Skor kognitif yang lebih rendah tidak menunjukkan kurangnya kecerdasan, kemauan, atau kemampuan bekerja.
Penelitian ini mengingatkan bahwa kekurangan uang dapat menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Tekanan finansial menyita perhatian, sementara perhatian dan energi mental justru diperlukan untuk mengurus pekerjaan, tagihan, layanan bantuan, serta keputusan keuangan yang rumit.
Karena itu, dukungan pendapatan, pekerjaan yang layak, akses layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan bantuan sebelum utang atau kemiskinan menjadi kronis merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan otak pada tingkat populasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa kemiskinan, keterbatasan pendidikan, serta ketimpangan akses terhadap pekerjaan dan layanan kesehatan dapat memengaruhi risiko demensia.
Kesulitan finansial yang bertahan selama masa dewasa berkaitan dengan memori dan kecepatan berpikir yang lebih rendah pada usia paruh baya serta beberapa tanda atrofi otak (penyusutan ukuran dan massa otak akibat hilangnya sel saraf dan jaringan) pada usia lanjut. Akan tetapi, penelitian ini tidak membuktikan masalah keuangan menyebabkan demensia secara langsung.
Penelitian ini menekankan bahwa kesehatan otak dibentuk oleh kondisi kehidupan selama puluhan tahun. Melindunginya tak hanya perlu kebiasaan sehat dan akses layanan medis, tetapi juga lingkungan sosial dan ekonomi yang tidak membiarkan kesulitan sementara berubah menjadi masalah keuangan yang berkepanjangan.
Referensi
Yiwen Liu et al., “Persistent Financial Adversity and Cognitive Aging: A Life Course Investigation,” Innovation in Aging 10, no. 8 (2026): igag054, https://doi.org/10.1093/geroni/igag054.
University College London, “Persistent Money Struggles Linked to Faster Brain Ageing,” diakses Juli 2026.
Anandi Mani, Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, and Jiaying Zhao, “Poverty Impedes Cognitive Function,” Science 341, no. 6149 (2013): 976–980, https://doi.org/10.1126/science.1238041.
World Health Organization, “Dementia,” diakses Juli 2026.