Potensi berkurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, sehingga dapat menurunkan energi dan konsentrasi.
Risiko gangguan pada pencernaan akibat kenaikan asam lambung berlebih.
Rasa lapar ekstrem saat berbuka.
Risiko makan berlebihan saat berbuka.
Gangguan kestabilan gula darah pada individu tertentu.
Mitos atau Fakta: Tidak Sahur Bikin Berat Badan Cepat Turun

- Tidak ada bukti kuat bahwa melewatkan sahur membuat berat badan turun lebih cepat; hasil penelitian masih bervariasi dan tergantung kondisi individu.
- Melewatkan sahur bisa menurunkan asupan kalori, tapi juga berisiko meningkatkan kolesterol, gangguan pencernaan, serta pola makan tidak seimbang saat berbuka.
- Penurunan berat badan lebih dipengaruhi oleh total kalori harian dan gaya hidup sehat, bukan semata karena tidak sahur.
Saat puasa, misalnya puasa Ramadan, puasa Senin Kamis, atau jenis puasa sunnah lainnya, mungkin ada sebagian orang yang sengaja melewatkan sahur dengan harapan berat badan turun lebih cepat karena mengira makin sedikit makan, makin besar defisit kalori, sehingga angka timbangan pun terus menyusut.
Namun, penurunan berat badan tidak cuma ditentukan oleh jumlah makanan dan waktu makan, melainkan oleh total asupan kalori dan pola makan secara keseluruhan. Jadi, apakah tidak sahur benar-benar membuat berat badan lebih cepat turun?
Table of Content
Tidak ada bukti kuat
Secara fisiologis, sahur mirip sarapan, yang merupakan makan pertama setelah periode puasa panjang setelah tidur.
Sebuah studi menunjukkan, tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan terhadap perubahan indeks masa tubuh (IMT, yaitu suatu parameter untuk menilai status gizi berdasarkan perbandingan berat badan (kg) dan tinggi badan (m²)), pada kelompok subjek yang melewatkan sarapan dengan kelompok subjek yang tidak melewatkan sarapan.
Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa kelompok subjek yang melewatkan sarapan ≥3 hari per minggu mengalami risiko berat badan berlebih atau obesitas 1,1 kali lebih tinggi dibanding partisipan yang melewatkan waktu sarapan ≤2 hari per minggunya.
Beberapa studi menunjukkan hasil bahwa melewatkan sarapan dapat membantu menurunkan asupan kalori harian sehingga berat badan bisa lebih cepat turun, sementara itu beberapa penelitian lainnya justru menunjukkan kejadian kenaikan berat badan, potensi obesitas yang lebih tinggi, dan metabolisme tubuh yang buruk pada partisipan yang melewatkan waktu sarapan.
Bervariasinya hasil penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa bukti ilmiah mengenai apakah melewatkan waktu sarapan (atau sahur) dapat menurunkan berat badan atau tidak masih diperdebatkan dan tidak dapat disimpulkan secara umum tanpa melihat berbagai faktor lainnya. Penurunan berat badan bukanlah hal yang sederhana dan sangat tergantung pada masing-masing individu.
Walaupun melewatkan satu waktu makan dapat memberikan kemungkinan berkurangnya asupan kalori, tetapi tidak sahur (atau tidak sarapan) bukanlah cara sehat maupun efektif untuk menurunkan berat badan, apalagi untuk diterapkan secara umum untuk jangka waktu lama.
Risikonya bagi kesehatan

Sebuah uji klinis menemukan bahwa partisipan yang melewatkan sarapan memang dapat mengalami sedikit penurunan berat badan dibanding partisipan studi yang makan sarapan setiap hari. Namun, ada catatan penting. Pada kelompok yang tidak sarapan juga cenderung mengalami peningkatan pada kadar kolesterol total darahnya. Ini menunjukkan bahwa perubahan pola makan bisa berdampak pada profil lemak darah, bukan hanya berat badan.
Dengan kata lain, angka di timbangan mungkin turun, tetapi aspek kesehatan metabolik perlu diperhatikan.
Studi lain menemukan, orang yang rutin melewatkan sarapan cenderung memiliki risiko kelebihan berat badan atau obesitas lebih tinggi jika gaya hidupnya tidak sehat, seperti kurang tidur, kurang aktivitas fisik, atau potensi pola makan dengan asupan yang lebih tinggi kalori di malam harinya. Ini menunjukkan, gaya hidup seseorang secara keseluruhanlah yang berperan penting dalam menentukan berlebihan ataupun tidaknya berat badan.
Penurunan bobot tergantung masing-masing individu
Penurunan berat badan tetap bergantung pada keseimbangan energi, yakni jumlah kalori yang masuk dibanding yang dibakar.
Efektif atau tidaknya melewatkan waktu sahur untuk menurunkan berat badan tidak dapat berlaku secara seragam untuk semua individu.
Melewatkan makan sahur dan tidak makan berlebihan saat buka puasa apakah bisa lebih menurunkan berat badan? Jawabannya bisa. Namun, perlu diingat hal tersebut terutama bukan karena tidak sahurnya, melainkan karena defisit kalorinya.
Apabila kamu melewatkan sahur tetapi “balas dendam” saat berbuka dan makan dalam jumlah besar, maka total kalori harian tetap bisa berlebih. Dalam kondisi ini, berat badan justru bisa naik.
Sebaliknya, jika tetap sahur namun total asupan kalori tetap terkontrol, tidak berlebihan, dan disertai aktivitas fisik ringan-sedang yang tetap dapat membakar kalori saat puasa, maka berat badan tetap bisa turun.
Melewatkan makan sahur dapat menyebabkan:
Pada beberapa orang, pola ini juga dapat memengaruhi kualitas tidur dan ritme sirkadian, yang pada akhirnya berdampak pada metabolisme.
Setiap individu memiliki cara dan dampaknya masing-masing yang mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Jadi, pilih cara yang sehat dan paling sesuai untuk tubuhmu ya jika ingin menurunkan berat badan.
Referensi
Wicherski J, Schlesinger S, Fischer F. Association between Breakfast Skipping and Body Weight-A Systematic Review and Meta-Analysis of Observational Longitudinal Studies. Nutrients. 2021 Jan 19;13(1):272.
Yamamoto R, Tomi R, Shinzawa M, Yoshimura R, Ozaki S, Nakanishi K, Ide S, Nagatomo I, Nishida M, Yamauchi-Takihara K, et al. Associations of Skipping Breakfast, Lunch, and Dinner with Weight Gain and Overweight/Obesity in University Students: A Retrospective Cohort Study. Nutrients. 2021; 13(1):271.
Sievert, Katherine, Sultana Monira Hussain, Matthew J Page, Yuanyuan Wang, Harrison J Hughes, Mary Malek, and Flavia M Cicuttini. “Effect of Breakfast on Weight and Energy Intake: Systematic Review and Meta-Analysis of Randomised Controlled Trials.” BMJ 364 (January 30, 2019): l42.
Geliebter, Allan, Nerys M. Astbury, Roni Aviram-Friedman, Eric Yahav, and Sami Hashim. “Skipping Breakfast Leads to Weight Loss but Also Elevated Cholesterol Compared with Consuming Daily Breakfasts of Oat Porridge or Frosted Cornflakes in Overweight Individuals: A Randomised Controlled Trial.” Journal of Nutritional Science 3 (January 1, 2014): e56.
Watanabe, Yoko, Isao Saito, Ikuyo Henmi, Kana Yoshimura, Kotatsu Maruyama, Kanako Yamauchi, Tatsuhiro Matsuo, et al. “Skipping Breakfast Is Correlated with Obesity.” Journal of Rural Medicine 9, no. 2 (January 1, 2014): 51–58.
"Eating breakfast won’t help you lose weight, but skipping it might not either". Harvard Health Publishing. Diakses Februari 2026.
"Skipping breakfast may be healthy way to shed weight". Cornell University. Diakses Februari 2026.










![[QUIZ] Dari Kebiasaan Dudukmu Seharian, Ini Kondisi Tulang dan Ototmu](https://image.idntimes.com/post/20210504/pexels-photo-7718814-25e8951ca418654ec4d6e13c7ffff30b-52edd07e02e75f2dff93b6f27d36e2bc.jpeg)


![[QUIZ] Makna dari Cara Kamu Mendengarkan Musik saat Sedih](https://image.idntimes.com/post/20251117/pexels-cottonbro-6864493_84d3f707-d851-4939-83ff-96edadae8079.jpg)




