Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penyakit Jantung dan Haji: Kapan Aman, Kapan Harus Menunda?

Penyakit Jantung dan Haji: Kapan Aman, Kapan Harus Menunda?
Jemaah Lansia melakukan pemeriksaan di Polis Risti Klinik Kesehatan Hajj Indonesia, Jumat (31/5/2024). (IDN Times/Faiz Nashrillah)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Pasien penyakit jantung umumnya masih bisa berhaji jika kondisinya stabil, terkontrol, dan sudah mendapat izin dokter.

  • Haji sebaiknya ditunda jika ada nyeri dada yang belum stabil, sesak berat, gagal jantung yang belum terkontrol, atau baru mengalami serangan jantung dan operasi jantung.

  • Pemeriksaan sebelum berangkat sangat penting, termasuk evaluasi kemampuan berjalan jauh, naik tangga, serta toleransi terhadap panas dan keramaian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Antrean haji yang panjang membuat banyak orang merasa harus tetap berangkat apa pun kondisi kesehatannya. Tidak sedikit yang berpikir bahwa kesempatan belum tentu datang dua kali. Karena itu, sebagian orang dengan penyakit jantung memilih memaksakan diri, meski tubuh sebenarnya sudah memberi banyak tanda bahwa mereka tidak lagi sekuat dulu.

Padahal, ibadah haji bukan hanya soal perjalanan spiritual, tetapi juga tantangan fisik yang besar. Jemaah harus berjalan jauh, berdiri lama, berada di keramaian, berpindah-pindah tempat, serta menghadapi suhu yang sangat panas. Semua itu membuat jantung bekerja lebih keras. Bagi orang dengan penyakit jantung, kondisi ini bisa memicu nyeri dada, sesak napas, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung apabila tubuh tidak cukup siap.

Table of Content

Kapan pasien jantung masih aman berangkat haji?

Kapan pasien jantung masih aman berangkat haji?

Secara umum, pasien penyakit jantung masih bisa menunaikan ibadah haji jika kondisinya stabil. Artinya, tekanan darah terkontrol, tidak ada nyeri dada, tidak mudah sesak saat beraktivitas ringan hingga sedang, serta tidak ada riwayat rawat inap karena masalah jantung dalam beberapa bulan terakhir.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi menegaskan bahwa pasien jantung masih dapat berhaji apabila tidak mengalami nyeri dada, sesak napas, serangan jantung baru, atau prosedur besar seperti kateterisasi dan operasi bypass dalam waktu dekat sebelum keberangkatan.

Secara praktis, seseorang biasanya dianggap cukup aman jika masih mampu:

  • Berjalan beberapa ratus meter tanpa nyeri dada atau sesak berat.
  • Naik satu hingga dua lantai tangga tanpa harus berhenti berkali-kali.
  • Beraktivitas sehari-hari secara mandiri.
  • Tidur telentang tanpa sesak.
  • Tidak sering dirawat karena jantung dalam enam bulan terakhir.

Dokter biasanya juga akan melihat apakah obat-obatan rutin sudah stabil, apakah tekanan darah dan gula darah terkontrol, serta apakah ada komplikasi lain seperti diabetes, gangguan ginjal, atau obesitas yang bisa memperberat kondisi saat haji.

Kapan sebaiknya menunda haji?

Ilustrasi seorang laki-laki mengalami nyeri dada akibat masalah jantung.
ilustrasi seorang laki-laki mengalami nyeri dada akibat masalah jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Ada beberapa kondisi haji sebaiknya ditunda karena risiko komplikasi selama perjalanan dan ibadah terlalu tinggi.

  • Nyeri dada yang belum stabil

Nyeri dada yang muncul saat berjalan pelan, saat istirahat, atau makin sering dalam beberapa minggu terakhir bisa menjadi tanda penyakit jantung koroner yang belum stabil. Kondisi ini dikenal sebagai unstable angina dan dapat berkembang menjadi serangan jantung sewaktu-waktu.

Jika nyeri dada masih sering muncul atau obat belum mampu mengontrol gejala, haji sebaiknya ditunda sampai kondisi lebih stabil.

  • Baru mengalami serangan jantung

Orang yang baru mengalami serangan jantung membutuhkan waktu pemulihan sebelum melakukan perjalanan jauh dan aktivitas berat. Pada fase awal setelah serangan jantung, jantung masih rentan terhadap gangguan irama, sesak, atau serangan ulang.

Sebagian besar panduan menyarankan untuk menunda perjalanan jauh setidaknya beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung tingkat keparahan serangan jantung dan hasil evaluasi dokter jantung.

  • Baru menjalani operasi bypass, pasang ring, atau operasi katup

Setelah prosedur seperti pemasangan stent, operasi bypass, atau operasi katup jantung, tubuh perlu waktu untuk pulih. Risiko perdarahan, infeksi, nyeri, hingga sesak masih bisa terjadi pada masa pemulihan.

Karena itu, keputusan berangkat haji sebaiknya menunggu sampai dokter memastikan luka operasi sembuh, fungsi jantung membaik, dan aktivitas fisik sudah kembali cukup baik.

  • Gagal jantung yang belum terkontrol

Orang dengan gagal jantung sering kali masih bisa berhaji jika gejalanya ringan dan stabil. Namun, jika mudah sesak meski hanya berjalan pendek, sering bengkak pada kaki, sulit tidur telentang, atau baru dirawat karena penumpukan cairan, risikonya akan jauh lebih tinggi.

Perjalanan panjang, cuaca panas, dehidrasi, dan aktivitas fisik berlebihan dapat memperburuk gagal jantung. Studi menyebutkan bahwa pasien gagal jantung berisiko lebih tinggi mengalami perburukan gejala saat bepergian, terutama jika mengalami kekurangan cairan atau kelelahan berlebihan. Evaluasi sebaiknya dilakukan 4–6 minggu sebelum keberangkatan.

  • Gangguan irama jantung yang belum stabil

Jantung berdebar hebat, sering pingsan, atau gangguan irama yang belum terkontrol juga perlu diperhatikan. Beberapa aritmia dapat memburuk akibat dehidrasi, kelelahan, kurang tidur, atau paparan panas.

Jika denyut jantung masih sering terlalu cepat, terlalu lambat, atau belum stabil dengan obat, dokter mungkin menyarankan untuk menunda perjalanan terlebih dahulu.

Mengapa haji bisa berat bagi jantung?

Selain jalan kaki jarak jauh, tubuh juga menghadapi panas ekstrem, perubahan pola tidur, antrean panjang, keramaian, dehidrasi, dan stres fisik yang terus-menerus saat haji. Pada orang dengan penyakit jantung, kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah dan menjaga suhu tubuh tetap normal.

Orang dengan penyakit kronis, termasuk penyakit jantung berat, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi selama haji.

Selain itu, penerbangan jarak jauh juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah, dehidrasi, sesak, dan gangguan jantung tertentu. Tekanan udara yang lebih rendah di kabin pesawat membuat kadar oksigen sedikit menurun, sehingga jantung perlu bekerja lebih keras, terutama pada orang dengan penyakit jantung koroner atau gagal jantung.

Pemeriksaan apa yang sebaiknya dilakukan sebelum berangkat?

Ilustrasi tes EKG atau elektrokardiogram.
ilustrasi tes EKG atau elektrokardiogram (pexels.com/Los Muertos Crew)

Sebelum memutuskan untuk berangkat, pasien penyakit jantung harus berkonsultasi dengan dokter jantung minimal 1–2 bulan sebelumnya. Pemeriksaan dapat meliputi:

  • Rekam jantung atau elektrokardiogram.
  • Ekokardiografi untuk melihat fungsi pompa jantung.
  • Treadmill test atau uji latih jantung bila diperlukan.
  • Evaluasi tekanan darah, gula darah, dan fungsi ginjal.
  • Penyesuaian obat rutin.
  • Penilaian kemampuan berjalan dan aktivitas fisik.

Pasien jantung harus membawa daftar obat, ringkasan kondisi medis, hasil pemeriksaan penting, dan kontak dokter selama bepergian.

Jika dokter menyarankan penggunaan kursi roda untuk tawaf atau sai, jangan merasa malu atau memaksakan diri. Menghemat energi justru bisa membuat ibadah lebih aman dan lancar.

Menunda haji bukan berarti gagal. Dalam banyak kasus, menunda justru menjadi keputusan yang lebih bijak agar tubuh punya waktu untuk pulih dan ibadah bisa dijalani dengan lebih aman.

Ketika kondisi jantung stabil, obat teratur, dan tubuh cukup kuat menghadapi aktivitas berat, peluang untuk menjalani haji dengan aman tentu lebih besar. Karena itu, sebelum berangkat, pastikan keputusan dibuat berdasarkan evaluasi medis, bukan cuma bermodalkan tekad.

Referensi

American Heart Association. “Travel and Heart Disease.” Diakses April 2026.

Saudi Ministry of Health. “MOH: Cardiac Patients can Perform Hajj.” Diakses April 2026.

Saudi Ministry of Health. “Health Guidelines for Heart Patients.” Diakses April 2026.

World Health Organization. “General Health Advice and Guidelines for Pilgrims.” Diakses April 2026.

World Health Organization. “Umrah and Hajj: Key Health Messages Before, During and After Your Trip.” Diakses April 2026.

Cleveland Clinic. “Can You Fly With Heart Problems?” Diakses April 2026.

Stephan Von Haehling et al., “Travelling With Heart Failure: Risk Assessment and Practical Recommendations,” Nature Reviews Cardiology 19, no. 5 (January 6, 2022): 302–13, https://doi.org/10.1038/s41569-021-00643-z.

Saudi Ministry of Health. “Hajj Vaccinations 1446 – Overview.” Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More