Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Retatrutide Turunkan Berat Badan hingga 30 Persen pada Uji Klinis
ilustrasi retatrutide (pexels.com/cottonbro studio)
  • Uji klinis fase 3 retatrutide dari Eli Lilly menunjukkan penurunan berat badan hingga sekitar 30 persen, melampaui efektivitas obat GLP-1 yang sudah ada.
  • Retatrutide bekerja sebagai 'triple agonist' dengan menargetkan reseptor GLP-1, GIP, dan glukagon sekaligus, membantu mengontrol nafsu makan serta meningkatkan pembakaran energi.
  • Hasil penelitian masih bersifat awal dan belum melalui tinjauan sejawat; obat ini juga belum disetujui regulator serta memiliki efek samping seperti mual dan gangguan pencernaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pengobatan obesitas sedang mengalami perubahan besar. Jika beberapa tahun lalu pilihan paling efektif untuk menurunkan berat badan dalam jumlah besar adalah operasi bariatrik, kini sejumlah obat generasi baru mulai menunjukkan hasil yang mendekati efektivitas prosedur medis tersebut.

Salah satu yang jadi pembicaraan adalah retatrutide, obat eksperimental yang sedang dikembangkan oleh Eli Lilly. Dalam hasil uji klinis fase 3 terbaru yang diumumkan perusahaan, retatrutide menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibanding obat golongan GLP-1 yang tersedia saat ini.

Ini menunjukkan potensi baru dalam penanganan obesitas, kondisi yang kini menjadi salah satu masalah kesehatan global terbesar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup dengan obesitas, yang berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, hingga beberapa jenis kanker.

Penurunan berat badan yang cukup signifikan

Studi yang diberi nama TRIUMPH-1 ini melibatkan lebih dari 2.300 orang dewasa dengan obesitas atau kelebihan berat badan yang disertai masalah kesehatan terkait.

Para peserta menerima retatrutide dalam berbagai dosis selama 80 minggu. Hasilnya menunjukkan mereka yang mendapat dosis tertinggi mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 28 persen dari berat badan awal.

Sebagai gambaran, seseorang dengan berat badan 100 kilogram berpotensi kehilangan sekitar 28 kilogram selama periode penelitian. Pada sebagian peserta dengan obesitas berat yang melanjutkan terapi hingga 104 minggu, penurunan berat badan rata-rata bahkan mencapai sekitar 30 persen.

Jika dihitung berdasarkan berat badan aktual peserta penelitian, kelompok dosis tertinggi kehilangan rata-rata sekitar 32 kilogram setelah 80 minggu pengobatan. Pada kelompok yang mengikuti studi lebih lama, rata-rata penurunan berat badan mencapai hampir 39 kilogram.

Lebih menarik lagi, lebih dari 65 persen peserta yang mendapat dosis tertinggi tidak lagi masuk kategori obesitas berdasarkan indeks massa tubuh (BMI) pada akhir penelitian.

Apa yang membuat retatrutide berbeda?

ilustrasi menimbang berat badan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Retatrutide sering dijuluki sebagai obat "triple agonist" karena bekerja pada tiga reseptor hormon sekaligus.

Obat-obatan seperti semaglutide bekerja terutama pada reseptor GLP-1 yang membantu mengurangi rasa lapar dan meningkatkan rasa kenyang. Sementara itu, tirzepatide bekerja pada dua target, yaitu GLP-1 dan GIP.

Retatrutide melangkah lebih jauh dengan menargetkan GLP-1, GIP, dan reseptor glukagon secara bersamaan.

Kombinasi tersebut diyakini membantu tubuh mengendalikan nafsu makan sekaligus meningkatkan penggunaan energi. Karena itu, efek penurunan berat badan yang dihasilkan terlihat lebih besar dibandingkan generasi obat sebelumnya.

Meski demikian, para peneliti masih terus mempelajari secara rinci kontribusi masing-masing jalur hormonal terhadap hasil yang terlihat dalam penelitian.

Para ahli juga mengingatkan bahwa obesitas bukan sekadar masalah kemauan atau disiplin diri. Kondisi ini melibatkan interaksi kompleks antara genetika, hormon, lingkungan, metabolisme, pola makan, kualitas tidur, hingga aktivitas fisik. Karena itu, pendekatan yang menargetkan beberapa mekanisme biologis sekaligus dianggap menjanjikan.

Hasilnya menjanjikan, tetapi belum final

Walaupun hasil penelitian terlihat impresif, tetapi ada beberapa hal penting yang perlu dipahami.

Pertama, data yang diumumkan saat ini berasal dari laporan awal perusahaan dan belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui proses tinjauan sejawat (peer review). Artinya, para peneliti independen masih perlu menelaah data secara menyeluruh sebelum kesimpulan final dapat dibuat.

Kedua, retatrutide belum disetujui untuk digunakan secara luas. Obat ini masih menjalani serangkaian penelitian lanjutan sebelum dapat dievaluasi oleh regulator seperti U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Ketiga, seperti obat obesitas lainnya, retatrutide juga memiliki efek samping. Keluhan yang paling sering dilaporkan meliputi mual, diare, sembelit, dan muntah. Efek samping tersebut umumnya terjadi pada fase awal terapi atau saat dosis ditingkatkan.

Yang juga perlu dipahami adalah bahwa obat ini tidak ditujukan untuk orang yang cuma ingin menurunkan beberapa kilogram berat badan demi alasan estetika. Jika nantinya disetujui, retatrutide kemungkinan akan digunakan terutama pada individu dengan obesitas atau kelebihan berat badan yang memiliki risiko kesehatan terkait.

Bagi para ahli, temuan ini menunjukkan bahwa pengobatan obesitas memasuki era baru. Namun, obat semanjur apa pun tetap bukan pengganti pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, dan dukungan medis yang tepat. Retatrutide mungkin menjanjikan, tetapi keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada pendekatan kesehatan yang menyeluruh.

Referensi

"Lilly's triple agonist, retatrutide, delivered powerful weight loss in pivotal Phase 3 obesity trial." Eli Lilly. Diakses Juni 2026.

World Health Organization. “Obesity and Overweight.” Diakses Juni 2026.

John P.H. Wilding et al., “Once-Weekly Semaglutide in Adults With Overweight or Obesity,” New England Journal of Medicine 384, no. 11 (February 10, 2021): 989–1002, https://doi.org/10.1056/nejmoa2032183.

Ania M. Jastreboff et al., “Tirzepatide Once Weekly for the Treatment of Obesity,” New England Journal of Medicine 387, no. 3 (June 4, 2022): 205–16, https://doi.org/10.1056/nejmoa2206038.

Ania M. Jastreboff et al., “Triple–Hormone-Receptor Agonist Retatrutide for Obesity — a Phase 2 Trial,” New England Journal of Medicine 389, no. 6 (June 26, 2023): 514–26, https://doi.org/10.1056/nejmoa2301972.

Editorial Team

Related Article