ilustrasi peralatan di ruang ICU rumah sakit (pexels.com/Anna Shvets)
Keberhasilan tersebut tidak hanya berasal dari kantong ventilasi. Pasien dikumpulkan di area khusus, diawasi terus-menerus, jalan napasnya dirawat, dan kondisi darahnya diperiksa berulang.
Penelitian laboratorium Poul Astrup dan rekan-rekannya membantu menunjukkan pentingnya pengukuran keasaman darah serta kadar karbon dioksida untuk menilai apakah ventilasi sudah memadai.
Pengalaman itu mengubah gagasan tentang perawatan pasien kritis. Dokter tidak harus selalu bisa langsung menyembuhkan penyakit yang mendasarinya. Mereka dapat menopang fungsi vital, seperti pernapasan, agar tubuh memiliki waktu untuk pulih.
Pada Desember 1953, Ibsen mendirikan unit khusus di Kommunehospitalet, Kopenhagen. Kajian sejarah menyebutnya sebagai unit perawatan intensif multidisiplin pertama yang sesuai dengan pengertian modern, di mana pasien kritis ditempatkan bersama, dipantau 24 jam, dan ditangani oleh dokter serta perawat dari berbagai bidang.
Ruang pengawasan pascaoperasi dan teknik ventilasi tekanan positif sebenarnya telah digunakan sebelumnya. Wabah Kopenhagen tidak menciptakan semuanya dari nol. Peristiwa tersebut menyatukan ventilasi, pemantauan fisiologis, perawatan jalan napas, tenaga terlatih, dan pengawasan sepanjang waktu menjadi satu sistem terorganisasi.
Sistem itulah yang menjadi dasar ICU modern. Walaupun mesin kini jauh lebih canggih, tetapi prinsipnya tetap serupa, yaitu menopang organ yang gagal, mengamati perubahan sekecil mungkin, dan menjaga pasien melewati masa paling kritis.
Referensi
H. C. A. Lassen, “A Preliminary Report on the 1952 Epidemic of Poliomyelitis in Copenhagen with Special Reference to the Treatment of Acute Respiratory Insufficiency,” The Lancet 261, no. 6749 (1953): 37–41, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(53)92530-6.
John B. West, “The Physiological Challenges of the 1952 Copenhagen Poliomyelitis Epidemic and a Renaissance in Clinical Respiratory Physiology,” Journal of Applied Physiology 99, no. 2 (2005): 424–32, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00184.2005.
Bjørn Ibsen, “The Anaesthetist’s Viewpoint on the Treatment of Respiratory Complications in Poliomyelitis during the Epidemic in Copenhagen, 1952,” Proceedings of the Royal Society of Medicine 47, no. 1 (1954): 72–74, https://doi.org/10.1177/003591575404700120.
Poul Astrup, H. Gøtzsche, and F. Neukirch, “Laboratory Investigations during Treatment of Patients with Poliomyelitis and Respiratory Paralysis,” British Medical Journal 1, no. 4865 (1954): 780–86, https://doi.org/10.1136/bmj.1.4865.780.
Preben G. Berthelsen and M. Cronqvist, “The First Intensive Care Unit in the World: Copenhagen 1953,” Acta Anaesthesiologica Scandinavica 47, no. 10 (2003): 1190–95, https://doi.org/10.1046/j.1399-6576.2003.00256.x.
Fiona E. Kelly, Kevin Fong, Nicholas Hirsch, and Jerry P. Nolan, “Intensive Care Medicine Is 60 Years Old: The History and Future of the Intensive Care Unit,” Clinical Medicine 14, no. 4 (2014): 376–79, https://doi.org/10.7861/clinmedicine.14-4-376.