ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Terkadang, percakapan dengan orangtua berubah menjadi pertengkaran bukan hanya karena perbedaan pendapat, tetapi juga karena masing-masing merasa diserang. Kalimat seperti “Ayah dan Ibu gak pernah ngerti” bisa membuat orangtua langsung bersikap defensif.
Padahal, mungkin yang ingin kamu sampaikan adalah bahwa kamu merasa tidak didengarkan ketika pendapatmu langsung dibantah. Mengubah cara menyampaikan perasaan dapat membantu percakapan tetap berfokus pada masalah yang ingin dibahas.
Dalam panduan komunikasi keluarga, HealthyChildren menganjurkan orangtua untuk mendengarkan dengan baik, menunjukkan empati, dan menyampaikan perasaan secara tenang. Panduan tersebut juga mengingatkan agar komunikasi tidak berubah menjadi kebiasaan menyalahkan, mengancam, atau membentak.
Prinsip ini bisa diterapkan oleh kedua belah pihak, termasuk anak yang sudah dewasa ketika menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanannya kepada orangtua. Kamu bisa menggunakan kalimat yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan pribadi.
Contohnya, “Aku ingin cerita, tetapi aku berharap Ayah dan Ibu mendengarkan dulu sebelum memberikan saran,” atau “Aku merasa tertekan ketika keputusanku langsung dibandingkan dengan orang lain.” Kalimat seperti ini tidak menjamin orangtua akan langsung memahami maksudmu, tetapi dapat mengurangi kesan bahwa kamu sedang menyerang mereka.