Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anggota DPD: Jokowi Layak Disebut Bapak Pembangunan Infrastruktur

Anggota DPD: Jokowi Layak Disebut Bapak Pembangunan Infrastruktur
Presiden RI Prabowo Subianto mendapat apresiasi dari Presiden ketujuh RI Joko “Jokowi” Widodo usai menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang Tahunan MPR pada Jumat (14/8/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)
  • Ketua DPD RI Sultan B Najamudin menyematkan sebutan “Bapak Infrastruktur” kepada Joko Widodo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026.
  • Bustami Zainudin menilai sebutan tersebut didukung pembangunan infrastruktur selama dua periode kepemimpinan Jokowi di berbagai daerah.
  • Bustami berharap fondasi pembangunan diteruskan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan orientasi pemerataan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah sebutan Bapak Infrastruktur untuk Jokowi tepat?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Anggota DPD/MPR RI Daerah Pemilihan Lampung, Bustami Zainudin, mengapresiasi penghormatan yang disampaikan Ketua DPD RI Sultan B Najamudin kepada para Presiden terdahulu dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026, Jumat (14/8/2026).

Dalam pidatonya, Ketua DPD RI memberikan apresiasi kepada para Presiden berdasarkan capaian dan kontribusi masing-masing bagi perjalanan bangsa. Untuk Presiden ke-7 RI Joko "Jokowi" Widodo, Sultan menyematkan sebutan sebagai “Bapak Infrastruktur”. Penghormatan tersebut disampaikan dalam kapasitas DPD RI sebagai salah satu lembaga yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Sidang Bersama DPR dan DPD RI.

  1. 1. Dinilai bukan sekadar penghormatan

    IMG-20260628-WA0010.jpg
    Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo (Jokowi) menghadiri kegiatan silaturahmi di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Minggu (28/6/2026)(dok. Istimewa)

    Bustami Zainudin menilai, penyebutan Jokowi sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia bukan sekadar ungkapan penghormatan, melainkan memiliki dasar yang kuat apabila melihat berbagai pembangunan yang berlangsung selama dua periode kepemimpinannya.

    “Menurut saya, ketika Pak Jokowi disebut sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia, itu bukan sekadar memberikan julukan. Ada fakta yang bisa kita lihat dan rasakan di lapangan. Hampir di seluruh daerah, masyarakat merasakan hadirnya pembangunan infrastruktur selama beliau memimpin,” ujar Bustami dalan keterangannya, Sabtu (15/8/2026).

  2. 2. Pembangunan era Jokowi tidak terkonsentrasi di Jawa

    IMG_1882.jpeg
    Presiden ke-7 Joko “Jokowi” Widodo. (IDN Times/Larasati Rey)

    Menurut Bustami, pembangunan infrastruktur pada era Jokowi tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat konektivitas dan membuka akses ekonomi di berbagai daerah. Pembangunan jalan, jembatan, jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan hingga infrastruktur pendukung lainnya menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan nasional.

    Ia menilai pembangunan tersebut memiliki arti penting bagi daerah karena infrastruktur merupakan salah satu kunci untuk membuka keterisolasian, memperlancar mobilitas masyarakat, menekan biaya distribusi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

    “Sebagai anggota DPD yang mewakili daerah, kami melihat sendiri bagaimana pembangunan infrastruktur memberikan perubahan bagi masyarakat. Ada daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, kemudian aksesnya terbuka. Ada sentra produksi yang semakin mudah terhubung dengan pasar. Ini adalah warisan pembangunan yang manfaatnya tidak berhenti ketika sebuah pemerintahan berganti,” kata Bustami.

  3. 3. Setiap pemerintahan memiliki tantangan dan kebijakan

    IMG_8172.jpeg
    Teman-teman kuliah UGM Presiden ke-7 Jokowi berkunjung ke Solo jelang sidang Roy Suryo-Tifa. (IDN Times/Larasati Rey)

    Bustami menegaskan, apresiasi terhadap capaian presiden terdahulu seharusnya ditempatkan dalam perspektif kebangsaan. Setiap pemerintahan memiliki tantangan, kebijakan, dan capaian masing-masing yang menjadi bagian dari rangkaian perjalanan Indonesia.

    Karena itu, menurutnya, memberikan penghargaan terhadap karya para pemimpin terdahulu bukan berarti mengabaikan kekurangan yang pernah terjadi, tetapi merupakan bentuk penghormatan terhadap kontribusi yang nyata sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan nasional.

    “Yang paling penting adalah bagaimana karya yang sudah baik dilanjutkan, disempurnakan, dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Pembangunan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena pergantian kepemimpinan. Apa yang sudah menjadi fondasi harus kita rawat dan terus kita kembangkan,” tegasnya.

    Bustami juga memberikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang saat ini memimpin Indonesia, dengan harapan dapat terus memperkuat pembangunan yang berorientasi pada pemerataan serta melanjutkan fondasi pembangunan yang telah diletakkan oleh pemerintahan sebelumnya. Ia menilai, kepemimpinan keduanya membawa semangat baru dalam mempercepat pembangunan nasional dan memperkuat kesejahteraan masyarakat di seluruh daerah.

    “Bagi kami di daerah, pembangunan itu bukan sekadar angka dan statistik. Pembangunan adalah jalan yang bisa dilalui, jembatan yang menghubungkan, irigasi yang menghidupkan pertanian, pelabuhan yang membuka perdagangan, dan akses yang membuat masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” pungkas Bustami.

    Penghormatan Ketua DPD RI terhadap para Presiden terdahulu tersebut menjadi bagian dari pesan kebangsaan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026, yang menekankan bahwa setiap pemimpin memiliki peran dan capaian dalam perjalanan panjang pembangunan Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More