Tangani Gempa NTT, Kemenkes Bentuk Health Emergency Center

- Kemenkes membentuk Health Emergency Operation Center untuk mengoordinasikan penanganan krisis medis pascagempa di NTT, termasuk pembaruan data korban dua kali sehari.
- Pusat operasi memetakan kerusakan fasilitas kesehatan; RSUD Nagekeo lumpuh total, enam puskesmas rusak berat, sementara rumah sakit lapangan darurat dikirimkan.
- Kemenkes mengerahkan Emergency Medical Team untuk memetakan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama dokter bedah dan ortopedi, serta memastikan stok obat dapat dipasok dari Bali atau Makassar.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat dalam merespons situasi darurat pascagempa dahsyat yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Health Emergency Operation Center dibentuk untuk mengoordinasikan penanganan krisis medis di daerah terdampak.
Hal itu diutarakan langsung oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, Minggu (16/8/2026). Lantas, bagaimana kerja dari Health Emergency Operation Center?
1. Data korban dan inventarisasi fasilitas kesehatan yang hancur

Potret kerusakan RSUD Aeramo Nagekeo. (Dok. Istimewa). Tugas pertama dari pusat operasi ini adalah melakukan identifikasi jumlah korban secara cepat, agar pemerintah bisa mendapatkan data terbaru. Data itu harus disetor sebanyak dua kali sehari.
Kedua, tugas Health Emergency Center ini adalah memetakan tingkat kerusakan fasilitas kesehatan di berbagai daerah agar bantuan logistik bisa disalurkan tepat sasaran. Berdasarkan laporan awal, kerusakan infrastruktur medis di NTT terbilang cukup mengkhawatirkan.
RSUD Nagekeo menjadi yang terparah, bahkan lumpuh total. Kemenkes telah mengirimkan fasilitas rumah sakit lapangan berupa tenda darurat. Harapannya, dalam satu hingga dua hari ke depan, rumah sakit darurat tersebut sudah bisa berdiri dan melayani pasien yang membutuhkan penanganan mendesak.
"Sudah teridentifikasi ada enam Puskesmas rusak berat, puluhan rusak sedang, dan ratusan rusak ringan. Rumah sakit ada dua yang rusak parah, dan yang terparah di RSUD Nagekeo," kata Budi di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
2. Petakan kebutuhan tenaga medis spesialis trauma

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (IDN Times/Aryodamar) Tugas ketiga adalah mengidentifikasi kesiapan dan kebutuhan tenaga kesehatan (nakes) di lapangan. Meski secara data jumlah nakes lokal mencukupi, Kemenkes khawatir banyak dari mereka yang turut menjadi korban bencana sehingga tidak bisa bertugas.
Kemenkes pun memberangkatkan sejumlah Emergency Medical Team demi memetakan kebutuhan dokter spesialis sebelum relawan dikirim secara masif. Kecukupan dokter bedah dan ortopedi menjadi krusial dalam musibah seperti ini.
"Kalau gempa seperti ini, yang dibutuhkan pertama kali adalah dokter bedah dan ortopedi karena pasti traumanya banyak. Itu seminggu pertama pasti banyak ke sana," ujar Budi.
3. Stok obat aman?

Gempa M 7,7 guncang NTT, Tim SAR evakuasi korban (Dok. Tim SAR) Menyoal ketersediaan obat-obatan, Budi memastikan stoknya masih mencukupi dan sebagian sudah disalurkan. Pusat operasi akan terus memantau kebutuhan obat harian yang bisa dipasok dengan cepat dari area terdekat, seperti Bali atau Makassar.
"Obat-obatan catatan kami masih cukup, sudah dibawa tadi malam sebagian. Nanti kan hari ini mulai bergerak tuh tim Health Emergency Operation Center-nya. Kami tahu kebutuhannya apa saja sehingga bisa dikirim malam ini juga nanti ke sana. Dan mengambilnya kan tidak usah dari Jakarta, bisa dari Bali atau Makassar, lebih dekat," ujar Budi.
















