Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Awal Mula Ikan Sapu-sapu Dibasmi di Jakarta, Gara-gara Video Viral

Awal Mula Ikan Sapu-sapu Dibasmi di Jakarta, Gara-gara Video Viral
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Fenomena ikan sapu-sapu di Jakarta mencuat setelah konten viral Arief Kamarudin di media sosial menunjukkan dominasi ikan ini di Sungai Ciliwung dan hilangnya ikan lokal.
  • Ikan sapu-sapu, spesies invasif asal Amerika Selatan, berkembang biak cepat dan memakan telur ikan lain, menyebabkan ekosistem terganggu serta memperparah erosi bantaran sungai.
  • Gubernur DKI Pramono Anung memimpin langsung operasi pemberantasan ikan sapu-sapu dan membentuk tim khusus PJLP untuk mengendalikan populasinya di seluruh perairan Jakarta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Fenomena ikan sapu-sapu yang kian mendominasi perairan Jakarta akhirnya mendapat perhatian serius pemerintah.

Berawal dari viral di media sosial, persoalan ini berkembang menjadi langkah konkret pemberantasan ikan sapu-sapu yang kini dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Kali Kodamar, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).

1. Viral dari aksi warga di Sungai Ciliwung

Pramono Pimpin Operasi, 200 Kg Ikan Sapu-sapu Ditangkap di Jakarta
Konten kreator asal Lenteng Agung, Arief Kamarudin. (Dok. Istimewa)

Isu ikan sapu-sapu pertama kali mencuat dari media sosial melalui konten Arief Kamarudin, pemuda asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ia rutin membagikan aktivitasnya menangkap ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, bahkan hingga mengambil telur dari sarangnya untuk menekan populasi.

Aksi tersebut berangkat dari keresahannya melihat perubahan kondisi sungai. Ia mengaku, dahulu Ciliwung dipenuhi berbagai jenis ikan dan udang. Namun kini, ikan sapu-sapu justru mendominasi, sementara ikan lokal semakin sulit ditemukan.

Kontennya kemudian viral dan memicu kesadaran publik bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukan sekadar fenomena biasa, melainkan ancaman nyata bagi ekosistem perairan.

2. Populasi meledak dan ancam ekosistem perairan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan dan memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat. Dalam satu kali pemijahan, induknya mampu menghasilkan 200–400 telur, bahkan bisa terjadi beberapa kali dalam setahun.

Selain itu, ikan ini bersifat omnivora dan memakan alga, sisa organik, hingga telur ikan lain. Kondisi ini membuat ikan lokal kalah bersaing dan perlahan menghilang dari habitatnya. Minimnya predator alami di perairan Jakarta juga memperparah situasi, sehingga populasinya sulit dikendalikan.

Tak hanya itu, kebiasaan ikan sapu-sapu menggali lubang di bantaran sungai untuk bertelur juga memicu erosi dan berpotensi merusak infrastruktur perairan.

3. Pemprov DKI turun tangan, Pramono pimpin langsung

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan pemberantasan ikan sapu-sapu di seluruh wilayah perairan Jakarta. Ia menegaskan operasi pembersihan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di satu wilayah.

Pramono bahkan turun langsung memimpin aksi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Kodamar. Ia menyebut ikan ini sangat invasif karena memakan telur ikan endemik, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain itu, ikan sapu-sapu juga dinilai berbahaya jika dikonsumsi karena kadar residunya tinggi. Kebiasaannya membuat lubang di dinding sungai juga dapat merusak struktur dan mempercepat erosi.

Sebagai langkah lanjutan, Pemprov DKI akan membentuk tim khusus berstatus PJLP yang bertugas menangkap dan mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai dan saluran air. Upaya ini dilakukan karena populasinya diperkirakan telah mencapai lebih dari 60 persen dari total biota air di Jakarta.

Pramono menegaskan, pengendalian harus dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan. Jika tidak, ikan sapu-sapu akan kembali mendominasi dalam waktu singkat dan terus mengancam ekosistem perairan ibu kota.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More