Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Babinsa Digaji Rp900 Ribu, DPR: Beban Tugas dan Gaji Harus Seimbang

Babinsa Digaji Rp900 Ribu, DPR: Beban Tugas dan Gaji Harus Seimbang
Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama mendorong peningkatan kesejahteraan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa). (Dok. Fraksi Golkar).
Intinya Sih
Gini Kak
  • Anggota Komisi I DPR RI Yudha Novanza Utama menyoroti gaji Babinsa sekitar Rp900 ribu per bulan dan menilai kesejahteraan mereka belum seimbang dengan beban tugas yang dijalankan.
  • Yudha mendorong evaluasi berkala terhadap tunjangan dan dukungan operasional Babinsa, agar sesuai dengan luas wilayah binaan serta tantangan geografis yang dihadapi di lapangan.
  • Dalam kunjungan ke Kodam XV/Pattimura, Yudha menemukan tantangan besar bagi Babinsa di wilayah kepulauan, sehingga kebijakan kesejahteraan perlu disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama mendorong peningkatan kesejahteraan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang masih berkisar Rp900 ribu per bulan. Ia menilai, peran Babinsa semakin strategis dalam mendukung stabilitas wilayah.

"Babinsa selama ini menjadi salah satu unsur yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan teritorial, tetapi juga terlibat dalam berbagai persoalan sosial masyarakat, membantu penanganan bencana, mendukung program ketahanan pangan, hingga menjaga stabilitas wilayah,” kata Yudha kepada wartawan, Senin (25/5/2026).

1. Beban tugas dan gaji Babinsa harus seimbang

IMG-20260409-WA0041.jpg
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar, Yudha Novanza Utama soroti ketidaksesuaian klasifikasi usia game di platform Stream. (Dok. DPR RI).

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan tugasnya, banyak Babinsa yang harus menjangkau wilayah binaan dengan cakupan luas, termasuk daerah dengan keterbatasan infrastruktur maupun kondisi geografis yang menantang.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya dukungan seimbang antara beban tugas yang dijalankan dengan fasilitas operasional dan kesejahteraan yang diterima oleh prajurit di tingkat bawah.

“Saya melihat bahwa persoalannya bukan semata-mata mengenai angka tunjangan, tetapi bagaimana negara memastikan prajurit yang berada di garis terdepan pelaksanaan tugas teritorial memiliki dukungan yang memadai agar tugas dapat berjalan secara optimal,” katanya.

2. Gaji babinsa harus dilakukan evaluasi berkala

IMG-20260426-WA0016.jpg
Anggota Komisi I DPR RI Yudha Novanza Utama soroti perluasan kampung internet oleh Kemkomdigi. (Dok. DPR RI).

Yudha menilai, dukungan operasional bagi personel di lapangan perlu dievaluasi secara berkala. Menurutnya, terdapat kondisi di mana tunjangan operasional yang diterima personel tingkat bawah.

Menurut dia, gaji Rp900 ribu per bulan yang diterima Babinsa masih perlu disesuaikan dengan tantangan wilayah, luas jangkauan binaan, serta kebutuhan operasional yang terus berkembang.

“Wilayah jangkau mereka cukup luas dan tugasnya juga berat. Ada personel yang setiap hari harus hadir langsung di tengah masyarakat dengan kondisi wilayah yang berbeda-beda. Karena itu, perlu ada perhatian yang lebih proporsional terhadap dukungan yang mereka terima,” ujarnya.

3. Kesejahteraan prajurit luput dari perhatian negara

IMG-20260401-WA0001.jpg
Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama dorong RI tekan PBB jangan pasif soal 3 TNI gugur di Lebanon. (Dok. DPR RI).

Yudha mengatakan, dalam kunjungan kerja Komisi I DPR RI ke Kodam XV/Pattimura ditemukan tantangan serupa, khususnya pada wilayah kepulauan dengan tingkat mobilitas tinggi dan biaya operasional yang relatif besar. Kondisi geografis seperti Maluku dan Maluku Utara dinilai memberikan tantangan tersendiri bagi personel yang bertugas di lapangan.

Ia menilai karakteristik wilayah penugasan juga perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan kesejahteraan prajurit. Menurutnya, pendekatan yang bersifat seragam belum tentu mampu menjawab kebutuhan di setiap daerah yang memiliki tantangan berbeda.

“Setiap wilayah memiliki karakteristik tersendiri. Ada wilayah dengan cakupan geografis luas, ada yang berbentuk kepulauan, ada juga yang memiliki tingkat biaya hidup relatif tinggi. Karena itu, kebijakan dukungan operasional maupun kesejahteraan perlu mempertimbangkan kondisi objektif di lapangan,” kata dia.

Dalam perspektif pertahanan modern, lanjut Yudha, kekuatan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh alutsista maupun sistem persenjataan, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang menjalankan fungsi pertahanan negara hingga level paling bawah.

“Kita sering berbicara mengenai penguatan sistem pertahanan negara, tetapi di saat yang sama perlu dipahami bahwa keberhasilan sistem tersebut juga ditopang oleh personel yang menjalankan tugas langsung di tengah masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan personel harus dipandang sebagai bagian dari investasi terhadap efektivitas pertahanan nasional,” tutur Yudha.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More