Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bakom Sebut Tiyo Tak Bisa Asal Tuduh Pemasang Alat Pelacak di Mobil

Bakom Sebut Tiyo Tak Bisa Asal Tuduh Pemasang Alat Pelacak di Mobil
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya Sih
  • Muhammad Qodari menilai tuduhan Tiyo Ardianto soal pemasangan alat pelacak di mobil tidak bisa diarahkan ke pihak tertentu tanpa bukti kuat dan harus disertai tanggung jawab hukum.
  • Qodari mengingatkan pentingnya prinsip praduga tak bersalah, meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan resmi sebelum menyimpulkan siapa yang memasang alat pelacak tersebut.
  • Tiyo Ardianto mengaku dua kali menemukan alat pelacak di kendaraannya setelah mengikuti aksi di Gejayan dan saat perjalanan menuju Bandara Ahmad Yani, menggunakan mobil Toyota Fortuner milik saudaranya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menanggapi tudingan terkait dugaan pemasangan alat pelacak atau GPS tracker yang disampaikan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Ia menilai tuduhan tersebut tidak semestinya diarahkan kepada pihak tertentu tanpa didukung bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Qodari menjelaskan perkembangan teknologi pelacakan saat ini telah mengalami kemajuan pesat. Menurutnya, penggunaan perangkat pelacak fisik yang ditempel pada kendaraan sudah tidak lagi menjadi metode utama karena dianggap kurang relevan dengan teknologi modern.

Meski mengaku tidak memiliki keahlian teknis terkait perangkat pelacakan, Qodari menyebut informasi yang diterimanya menunjukkan sistem pelacakan kini lebih banyak memanfaatkan teknologi digital dibanding alat fisik yang dipasang langsung pada kendaraan.

"Pertama informasi yang saya dapat ya sekarang alat-alat tracking itu sudah sangat canggih. Sehingga tidak perlu lagi pasang alat-alat tracking yang fisik, yang kuno. Yang ditempel-tempel di mobil itu (seperti) film jadul," kata Qodari.

1. Qodari juga pertanyakan siapa pihak yang memasangnya

Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul) (Pakai Peci) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilma
Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul) (Pakai Peci) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Qodari menilai, keberadaan alat pelacak fisik justru menimbulkan pertanyaan baru mengenai siapa pihak yang memasangnya. Karena itu, jika memang ditemukan perangkat semacam tersebut, tidak serta-merta dapat disimpulkan pelakunya berasal dari pihak yang selama ini menjadi sasaran tudingan.

"Yang masang ini mungkin amatiran. Karena kalau yang canggih, kalau negara sudah gak pakai teknologi itu lagi. Nah yang ketiga bukan mustahil itu juga adalah upaya adu domba sebetulnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Qodari menyoroti belum adanya kepastian mengenai identitas pemasang alat tersebut. Ia menilai hingga kini Tiyo Ardianto juga belum dapat menunjukkan pihak yang bertanggung jawab secara pasti sehingga berbagai tuduhan yang muncul masih bersifat asumsi.

"Ada gak beliau mengatakan yang masang ini dengan pasti? Kan gak ada. Yang ada kan insinuasi atau kecenderungan-kecenderungan untuk mengarahkan kepada kelompok tertentu," tegasnya.

2. Qodari ingatkan prinsip praduga tak bersalah

Kepala Badan Komunikasi, Muhammad Qodari. (IDN Times/Yuko Utami)
Kepala Badan Komunikasi, Muhammad Qodari. (IDN Times/Yuko Utami)

Qodari kemudian mengingatkan pentingnya mengedepankan prinsip praduga tak bersalah dalam menyikapi persoalan tersebut. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan pelaku sebelum proses pengungkapan fakta dilakukan secara menyeluruh.

"Ya tidak boleh tuding sana sini kan. Ya diinvestigasi bila perlu laporkan kepada penegak hukum untuk kemudian diselidiki. Itu sesungguhnya siapa yang memasang," ujarnya.

Menurut Qodari, penetapan pihak yang bertanggung jawab hanya bisa dilakukan setelah hasil penyelidikan mengungkap identitas pemasang alat pelacak tersebut. Ia menekankan proses hukum harus berjalan berdasarkan fakta dan bukti yang valid.

"Setelah ketahuan betul yang memasang baru kemudian phonis dijatuhkan. Jangan sampai praduga bersalah, kemudian identik dengan phonis akhir. Kan itu adalah loncatan," tutupnya.

3. Tiyo mengaku sudah dua kali kendaraannya dipasangi alat pelacak

Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Makassar, Senin (16/6/2026). IDN Times/Dars
Eks Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Makassar, Senin (16/6/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Sebelumnya, Tiyo Ardianto mengaku dua kali mendapatkan alat pelacak yang dipasang pada kendaraan, pertama setelah mengikuti aksi Rakyat Memanggil di Pertigaan Gejayan, Jogja, Sabtu (13/6/2026) dan kedua saat dalam perjalanan menuju Bandara Jenderal Ahmad Yani, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (14/6/2026).

Tiyo mengatakan, alat pelacak bernama PBX Finder tersebut diketahui setelah muncul notifikasi dari ponselnya saat mengendarai mobil Toyota Fortuner milik saudaranya.

"Setelah aksi di Pertigaan Gejayan, Jogja saya cek dan temukan di bodi belakang bagian bawah, ada benda kotak yang kayaknya itulah pelacaknya, saya ambil dan amankan. Besoknya saya pergi lagi, muncul notifikasi itu lagi saat dicari ternyata ada di bagian ban, yang kedua ini bentuknya pipih ditempel pakai lakban," kata Tiyo saat menghadiri Dialog Kebangsaan yang digelar BEM FEB Unismuh Makassar, Senin (15/6/2026) malam.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More