Banjir Jakarta Telan Tiga Korban Tewas, DPRD Soroti Anggaran Rp2,8 T

- Tiang warga tersengat listrik saat banjir, terjadi di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara
- Anggaran Rp 2,8 triliun untuk pengendalian banjir dipertanyakan oleh DPRD DKI Jakarta
Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bun Joi Phiau, menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya tiga orang saat banjir besar melanda Ibu Kota pada Senin (12/1/2026) lalu.
“Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya tiga orang warga saat banjir kemarin terjadi. Hal ini sangat disesalkan dan harusnya bisa dihindari,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Selasa (13/1/2025).
1. Tiang warga tersengat listrik saat banjir

Insiden tersebut terjadi di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (Jakut). Cilincing menjadi wilayah di Jakarta yang terdampak parah oleh banjir beberapa waktu lalu. Para korban diketahui terkena sengatan listrik saat air banjir tiba dan masih ada alat-alat elektronik yang menyala.
Berkaca dari kejadian itu, Bun mengungkit anggaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk pengendalian banjir yang nilainya sebesar Rp2,8 triliun.
“Ke mana hasil dari anggaran yang sebesar Rp2,8 triliun itu? Ini merupakan uang yang ditarik dari pajak masyarakat, tapi dalam kenyataannya, Pemprov DKI masih belum juga bisa mengatasi persoalan banjir itu dari waktu ke waktu,” kata dia.
2. Anggaran besar semestinya bisa cegah korban

Menurut dia, dengan anggaran sebesar itu, seharusnya banjir kemarin tidak separah ini. Pemprov DKI, kata dia, dapat melakukan persiapan-persiapan yang bisa mencegah adanya warga yang meninggal karena banjir.
“Tragisnya, sekarang yang terjadi adalah melayangnya nyawa tiga orang warga karena tersengat listrik saat banjir," ujar dia.
3. Pemprov DKI Jakarta diminta serius tangani banjir

Bun pun meminta agar Pemprov DKI Jakarta lebih serius lagi dengan tidak hanya melihat banjir sebagai rutinitas yang diakibatkan oleh faktor-faktor alam saja, melainkan kondisi yang bisa ditanggulangi dampak-dampaknya untuk menjaga keselamatan warga Jakarta.
“Saya menyayangkan adanya kecenderungan sekarang ini yang seolah-olah mengganggap banjir sudah biasa-biasa saja. Mentok-mentok semua itu disalahkan kepada kondisi alam,” kata dia.

















