Bela Mati-matian Bahlil, AMPI: Loyal di Luar, Kritis di Dalam

- Bahlil membuka jalan bagi para aktivis
- Sikap tegak lurus kader untuk pimpinannya
- Bentuk loyalitas kader ke pimpinan partainya
Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Umum (Waketum) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Arief Rosyid Hasan menjelaskan maksud pernyataan siap membela matia-matian ketua umumnya, Bahlil Lahadalia.
Pernyataannya itu memuculkan reaksi di media sosial hingga menuai cibiran dari warganet. Hal itu disampaikan Arief dalam acara bedah buku “Yang Golkar-Golkar Aja” (YGGA).
Mantan Komandan TKN Fanta Prabowo-Gibran ini menegaskan pernyataannya dibuat dalam kesadaran penuh. Arief menyebut sebagai anggota partai mempunyai kewajiban untuk membela marwah Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Pernyataan ‘jangankan benar, salahpun kita bela!’ saya sampaikan dengan kesadaran penuh. Sebagai anggota organisasi, saya punya kewajiban untuk membela marwah ketua umum, kita bela kehormatannya di publik, tetapi kita mengingatkan di dalam organisasi. Dan bang Bahlil adalah senior yang respek jika diingatkan,” ujar Arief kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).
1. Bahlil membuka jalan bagi para aktivis

Lebih lanjut, Mantan Ketua Umum PB HMI itu mengatakan, Bahlil telah membuka jalan bagi para aktivis muda untuk dapat berkiprah dan berkontribusi bagi bangsa.
“Sebagai sesama aktivis, terjalin kesadaran untuk saling membangun, saling mengingatkan, dan saling membuka jalan. Dan bang Bahlil suka tidak suka, telah menjadi pembuka jalan untuk tak hanya saya, tapi banyak aktivis lainnya untuk dapat berkiprah dan berkontribusi,” imbuhnya.
2. Sikap tegak lurus kader untuk pimpinannya

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan, pernyataan Arief Rosyid tersebut merupakan tindakan tegak lurus kepada pimpinan partainya.
Menurut Adi, pro-kontra di publik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi.
“Dalam organisasi apapun seperi partai politik, loyalitas dan totalitas adalah yang utama. Pernyataan Arief itu sebenarnya bernada militansi dan satir bahwa berorganisasi itu harus patuh dan tegak lurus ke pemimpin partai," kata dia.
3. Bentuk loyalitas kader ke pimpinan partainya

Menurut dia, pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa semua kader siap menjadi benteng pertaganan bagi pemimpin partainya. Ia mengakui, cara pandang seperti ini akan menuai kecaman di kalangan masyarakat.
“Arief itu sepertinya ingin mengatakan bahwa baik buruk seorang pemimpin partai mesti dibela, jangan hanya mau enaknya saja, mau yang baik-baik saja," kata dia.
"Tapi pernyataan yang semacam itu kerap dibully publik yang memiliki cara pandang beda dengan kader partai seprti Arief. Hal yang semacam ini wajar dalam demokrasi,” sambung dia lagi.


















