BGN: MBG 5 Hari, Khusus 3T Ditambah Sabtu karena Stunting Tinggi

- Pemerintah menetapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diberikan lima hari seminggu, dengan tambahan hari Sabtu khusus untuk daerah 3T dan wilayah berisiko stunting tinggi.
- Penentuan wilayah penerima kebijakan khusus MBG didasarkan pada data Survei Status Gizi Indonesia 2024, dengan fokus utama di kawasan Timur Indonesia yang masih memiliki angka stunting tinggi.
- BGN menegaskan pentingnya pendataan akurat agar distribusi MBG tepat sasaran, memastikan anak-anak di daerah 3T tetap mendapat asupan gizi cukup demi mendukung pertumbuhan dan penurunan stunting nasional.
Jakarta, IDN Times — Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah semakin diperkuat setelah Rapat Koordinasi Tingkat Atas (Rakortas) Virtual Bersama Presiden pada Sabtu (28/3/2026).
"Secara umum, anak sekolah yang bersekolah lima hari dalam seminggu akan menerima MBG sesuai hari sekolah, yakni lima hari," ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana di Jakarta, Minggu (28/3/2026).
1. MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi

Namun, lanjut Dadan, bagi daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, kebijakan khusus diterapkan. MBG tetap disalurkan pada Sabtu untuk memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi.
“Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis memastikan anak-anak menerima gizi yang cukup setiap hari,” kata Dadan.
2. Prioritas intervensi gizi khususnya di wilayah Timur Indonesia

BGN menekankan pentingnya pendataan yang cermat untuk menentukan daerah-daerah yang berhak menerima kebijakan khusus ini.
Data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Kementerian Kesehatan RI menjadi acuan dalam menetapkan wilayah prioritas intervensi gizi, khususnya di wilayah Timur Indonesia.
“Tim kami akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” ucap Dadan.
3. Daerah 3T dan rawan stunting tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup

Pendataan ini mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, serta prevalensi stunting masing-masing wilayah. Provinsi di wilayah Timur, Sumatra, dan Papua menjadi contoh daerah prioritas karena angka stunting yang masih tinggi.
“Integritas data sangat penting, karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi,” kata Dadan.
Dengan kebijakan ini, BGN berharap seluruh anak sekolah, terutama yang berada di daerah 3T dan rawan stunting, tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup dan mendukung pertumbuhan optimal, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.


















