Asal Usul Ikan Sapu-sapu Kuasai Sungai Jakarta, Berawal Tren Ikan Hias

- Ikan sapu-sapu kini menguasai sekitar 60 persen perairan Jakarta, berawal dari tren ikan hias pada awal 2000-an yang membuat masyarakat memeliharanya di akuarium.
- Setelah tren menurun, banyak ikan sapu-sapu dilepas ke sungai dan berkembang pesat karena kemampuan adaptasi tinggi serta tahan terhadap kondisi air tercemar.
- Dinas KPKP DKI Jakarta memperketat pengawasan penjualan ikan hias sesuai aturan untuk mencegah penyebaran spesies invasif seperti ikan sapu-sapu.
Jakarta, IDN Times - Kondisi sungai di sejumlah titik Jakarta menyimpan ancaman yang tak selalu terlihat di permukaan. Tanpa disadari, populasi ikan sapu-sapu kini disebut telah menguasai hampir 60 persen perairan ibu kota.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengungkapkan keberadaan ikan sapu-sapu sebenarnya bukan fenomena baru. Menurut dia, kemunculan ikan ini di perairan Jakarta bermula dari tren ikan hias yang booming pada awal tahun 2000-an.
“Awal muasalnya ketika terjadi booming ikan hias di awal 2000-an. Ikan sapu-sapu ini dipelihara untuk membersihkan akuarium atau kolam karena kemampuannya memakan organik. Berarti sudah 26 tahun yang lalu kurang lebih," ujar Hasudungan pada IDN Times, dikutip Jumat (15/5/2026).
1. Masyarakat buang ikan sapu-sapu ke sungai

Namun, seiring menurunnya tren memelihara ikan hias, banyak masyarakat yang melepas ikan tersebut ke perairan umum.
“Sekarang tren hobi ikan sudah berkurang, sehingga banyak yang dilepas ke sungai. Padahal, kemampuan adaptasi mereka sangat tinggi,” katanya.
2. Ikan sapu-sapu berasal dari luar Indonesia

Hasudungan menjelaskan, ikan sapu-sapu tergolong spesies invasif yang berasal dari luar Indonesia, umumnya dari Amerika Selatan. Kemampuan bertahan hidupnya pun sangat tinggi, bahkan di perairan yang tercemar limbah sekalipun.
"Tapi ternyata kemampuan mereka yang sangat tinggi untuk beradaptasi di perairan umum walaupun kondisinya banyak mengandung logam berat, limbah, sungai-sungai. Kemudian mereka memakan lumut, telur-telur ikan, itu mereka bisa berkembang biak," katanya.
3. Sekali bertelur bisa 1.500 sampai 2.000 telur

Hasudungan mengatakan, kemampuan berkembang biak ikan sapu-sapu sangat tinggi. Sekali bertelur bisa antara 1.500 sampai 2.000 telur sekali siklus reproduksinya.
"Dan dalam setahun, siklus reproduksi bisa sampai 5 kali. Jadi bisa dibayangkan. Sudah mereka tidak ada predator alami mereka juga mampu untuk hidup, adaptasi tinggi, kemampuan reproduksi yang sangat tinggi," jelasnya
4. Dinas KPKP akan awasi penjualan ikan hias

Hasudungan menegaskan, pengendalian ikan invasif sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Selama ini, Dinas KPKP juga rutin melakukan pengawasan terhadap penjualan ikan hias untuk mencegah peredaran spesies invasif.
"Jadi sekarang di tempat penjualan ikan hias itu tidak ada lagi yang menjual ikan sapu-sapu, kita lebih ke arah ikan-ikan invasif lainnya, seperti ikan arapaima, kemudian ikan aligator, red devil, ikan oscar, kemudian ikan louhan. Nah, kita awasi, kalau ditemukan menjual dan tidak ada izin, itu kita musnahkan karena sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2020 tentang Pengendalian Ikan Invasif tersebut," ujarnya
















