Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Pramono Bangun Infrastruktur Jakarta Tanpa APBD, Modal Kepercayaan

Cara Pramono Bangun Infrastruktur Jakarta Tanpa APBD, Modal Kepercayaan
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung hadir dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membangun infrastruktur tanpa mengandalkan APBD dengan modal utama kepercayaan dan kolaborasi antara pemerintah serta pihak swasta.
  • Sejumlah proyek seperti Taman Bendera Pusaka, konektivitas bawah tanah Bundaran HI, dan penataan Taman Semanggi dibiayai sepenuhnya tanpa dana APBD.
  • Pramono juga menawarkan kerja sama kepada pengembang kawasan untuk memperluas jaringan MRT Timur-Barat melalui skema pendanaan bersama yang efisien dan saling menguntungkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengungkapkan strategi yang digunakannya untuk membangun berbagai infrastruktur di Jakarta tanpa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Menurut dia, kunci utama dari strategi tersebut adalah membangun kepercayaan (trust) dengan berbagai pihak.

Pramono mengatakan, kepercayaan bukan hanya menjadi nilai dalam kepemimpinan, tetapi juga dapat dikapitalisasi menjadi kerja sama yang konkret untuk mendukung pembangunan kota.

"Maka apa yang saya lakukan dalam membangun Jakarta? Kepercayaan itu yang utama. Bagaimana kepercayaan itu bisa dikapitalisasi menjadi hal sesuatu yang operasional?" ujar Pramono saat membuka hari kedua acara Indonesia Summit 2026 di The Tribrata, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).

Pramono mengungkapkan, saat ini sebagian proyek pembangunan di Jakarta tidak lagi sepenuhnya bergantung pada APBD. Salah satu contohnya adalah pembangunan Taman Bendera Pusaka yang telah selesai dikerjakan tanpa menggunakan dana pemerintah daerah.

"Contoh, sekarang ini Jakarta hampir membangun sebagian besar tidak menggunakan APBD. Contoh Taman Bendera Pusaka yang sudah jadi, 100 persen tidak menggunakan APBD," kata Pramono.

Selain itu, Pemprov DKI juga tengah membangun konektivitas bawah tanah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Jalur tersebut akan menghubungkan sejumlah gedung dan pusat aktivitas dengan stasiun MRT.

"Bundaran HI yang di bawah, yang sedang kita bangun, kita hubungkan antara Grand Hyatt, kemudian Pullman, Mandarin, Kempinski di bawah, kemudian masuk ke MRT, 100 persen tidak menggunakan APBD," ujarnya.

Pramono juga menyebut, penataan Taman Semanggi yang sedang berjalan saat ini dibiayai tanpa menggunakan APBD.

"Taman Semanggi, saudara-saudara sekalian, wajah Semanggi nanti pasti akan berubah, sekarang sudah dimulai, namanya tetap menjadi Taman Semanggi, pembiayaannya inilah yang membiayai, Rp132 miliar, tidak menggunakan APBD," kata dia.

Menurut Pramono, berbagai kerja sama tersebut dapat terwujud karena adanya kepercayaan yang dibangun antara pemerintah dan para pemangku kepentingan.

"Maka itulah cara saya dan teman-teman Balai Kota untuk membangun trust, kepercayaan. Sehingga dengan kepercayaan itulah kita bisa melakukan, memperbaiki, membangun Jakarta menjadi lebih baik," ujar Pramono.

Ia menilai, kepercayaan menjadi modal penting agar Jakarta dapat terus membangun tanpa harus selalu mengandalkan kemampuan fiskal daerah.

Pramono mengungkapkan, pendekatan serupa juga diterapkan untuk pengembangan jaringan MRT Jakarta. Menurut dia, proyek MRT Timur-Barat tidak mungkin hanya dibiayai oleh APBD ataupun pemerintah pusat.

"Beberapa hari yang lalu saya ke Singapura. Sebagai gubernur, saya juga merangkap sebagai sales menawarkan Jakarta," kata Pramono.

Ia menjelaskan, setelah jalur MRT Utara-Selatan berkembang, kini pemerintah perlu mencari pola pendanaan baru untuk memperluas jaringan ke koridor Timur-Barat.

"Karena dengan north-south, Utara-Selatan yang sudah selesai, bagaimana dengan Timur-Barat? Nggak mungkin hanya menggunakan APBD-nya Jakarta maupun dari pemerintah pusat, nggak mungkin. Nggak mungkin juga bergantung pada JICA," ujar dia.

Karena itu, Pramono mengaku menawarkan kerja sama kepada sejumlah pengembang kawasan, seperti Alam Sutera dan BSD, agar wilayah mereka terhubung dengan jaringan MRT.

"Maka saya memulai menawarkan kepada para pengembang, apakah itu Alam Sutera, BSD dan sebagainya, mau nggak dihubungkan dari mereka ke Lebak Bulus? Kalau mau, duduk. Dan alhamdulillah mereka mau," kata Pramono.

Ia menjelaskan, dalam skema kerja sama tersebut, pihak pengembang akan menyiapkan lokasi stasiun, sementara pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana kereta.

"Mereka nanti yang akan menyiapkan lokasi stasiun dan sebagainya, kita yang menyiapkan kereta api dan juga relnya. Cara kerja sama seperti ini memudahkan Jakarta untuk membangun dan memperbaiki infrastrukturnya," tutur Pramono.

Untuk diketahui, IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More