Presiden Kolombia Tuduh Israel Dorong Maroko Picu Krisis Ceuta

- Presiden Kolombia Gustavo Petro menuduh Maroko sengaja memicu krisis migrasi di Ceuta atas desain Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan ribuan warga Maroko memasuki wilayah Spanyol.
- Petro menyatakan krisis tersebut bertujuan merusak pemerintahan sayap kiri Spanyol, serta menuding Israel ingin mengganggu demokrasi progresif Eropa dan telah merampas kemerdekaan Palestina.
- Dalam kunjungan kenegaraan terakhirnya ke Kuba, Petro menolak perang, ancaman rudal, invasi, dan blokade di Karibia; ia mendorong penyelesaian masalah keamanan secara manusiawi.
Jakarta, IDN Times - Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengungkapkan bahwa pemerintah Maroko sengaja mendorong picu krisis migrasi di Ceuta. Menurutnya, Maroko mengikuti desain yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Sejak pekan lalu, wilayah terluar Spanyol di Afrika, Ceuta sudah dibanjiri imigran ilegal dari Maroko. Insiden ini membuat beberapa negara Eropa mendorong penangguhan Spanyol dalam keanggotaan Schengen.
1. Sebut krisis migrasi untuk merusak pemerintahan sayap kiri Spanyol

Masuknya ribuan imigran Maroko di Ceuta didorong oleh keturunan diktator Spanyol, Francisco Franco. Menurutnya, insiden ini bertujuan memberi kejutan seperti pada insiden di Spanyol pada 1936.
“Spanyol harus mengingat sejarahnya ditulis dengan darah, mereka ingin membawa fasisme ke rakyat Spanyol dan rakyat Spanyol harus menolaknya. Sedangkan peradaban Arab harus berkata insiden serupa tidak boleh terjadi lagi,” tuturnya, dikutip dari Democrata, Senin (3/8/2026).
Presiden Kolombia itu menyebut, Netanyahu yang sengaja mendorong insiden ini. Menurutnya, Netanyahu yang membayar ribuan warga Maroko untuk bermigrasi ke Spanyol.
2. Petro dorong kebebasan di Palestina dan demokrasi di Maroko

Petro menambahkan bahwa rakyat Maroko harus mendapatkan hak demokrasi yang sebenarnya. Ia menyebut bahwa warga Arab Maroko harus mempertahankan budaya Islam yang cinta damai dan mendorong dialog.
Dilansir De Ultimo Minuto, tak hanya ingin merusak Maroko, Petro menuding Israel berniat untuk merusak demokrasi progresif di Eropa. Menurut Presiden Kolombia itu Palestina juga sudah hancur dan kemerdekaannya direbut sepenuhnya oleh Israel.
3. Petro berkunjung ke Kuba dan suarakan perdamaian di Karibia

Pada Jumat (31/7/2026), Petro mengadakan kunjungan kenegaraan ke Havana, Kuba. Lawatan ini menjadi kunjungan kenegaraan terakhirnya sebagai presiden Kolombia sebelum resmi berakhir pada 7 Agustus 2026.
Dilansir Telesur, dalam kunjungan tersebut, Petro menyuarakan penolakan adanya perang di Laut Karibia. Ia menolak adanya ancaman rudal, invasi, ataupun blokade di Kuba dan mendorong menyelesaikan masalah keamanan secara manusiawi.




















