Ukraina Tangguhkan Akses Kapal di Pelabuhan imbas Serangan Rusia

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertanian (Mentan) Ukraina, Taras Vysotsky, pada Kamis (23/7/2026), mengumumkan penutupan akses kapal laut di pelabuhan imbas serangan Rusia. Namun, pemerintah Ukraina mengaku tidak membatasi akses dan bergantung pada pemilik kapal.
Sementara itu, serangan Rusia ini yang menargetkan pelabuhan Ukraina ini disebut sebagai balasan atas serangan di Laut Hitam. Sebab, drone Ukraina sudah menyerang kapal-kapal yang hendak bersandar di pelabuhan Rusia di Laut Hitam.
1. Sebut stabilitas koridor maritim penting untuk keamanan nasional
Vysotskyi mengatakan bahwa stabilitas operasi koridor maritim di Laut Hitam sangat penting bagi Ukraina. Ia memastikan bahwa pemerintah akan mencari jalan keluar untuk mengamankan rute pelayaran demi kepentingan perdagangan Ukraina.
Dilansir Odessa Journal, mentan Ukraina itu menyebut situasi masih cukup dinamis dan belum bisa dinilai dampak ekspor jangka panjangnya. Namun, Vysotskyi mendesak produsen tidak terburu-buru menjual produknya kecuali jika ada sebuah kepentingan mendesak.
2. Ukraina dorong pertemuan darurat di PBB soal serangan Rusia di Laut Hitam
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengatakan bahwa tidak ada kapal yang mau lewat koridor maritim imbas serangan Rusia. Alhasil, ia mendesak pertemuan PBB yang membahas serangan Rusia di pelabuhan Ukraina.
“Rusia sengaja berniat untuk membuat keamanan pangan global sebagai sandera,” ungkapnya, dilansir dari Kyiv Post.
Menuruntya, Rusia sudah melancarkan serangan ke tiga kapal barang dalam beberapa hari terakhir. Serangan itu telah membuat puluhan kru kapal tewas atau terluka.
3. Rusia sebut kapal yang jadi sasaran hanya mencapai target
Pada saat yang sama, Rusia mengumumkan bahwa serangan hanya akan terus ditujukan kepada kapal yang mengangkut persenjataan. Namun, pernyataan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya karena bukan berasal dari sumber independen.
Dilansir DPA International, Otoritas Pelabuhan Ukraina diketahui sudah menangani sebanyak 42,4 juta ton barang pada paruh pertama 2026. Sebanyak 23,6 juta ton dari seluruh barang diketahui sebagai produk pertanian dan jumlahnya meningkat 20 persen dibanding tahun lalu.





















