Cerita Prabowo Kerap Dapat Pesan dari Anak Desa Lewat Media Sosial

- Prabowo menerima pesan langsung dari anak desa melalui media sosial terkait kekurangan fasilitas di daerah, seperti jembatan yang menyulitkan aktivitas warga.
- Mantan Menteri Pertahanan itu berhasil menghemat anggaran negara sebesar 18 miliar dolar AS dalam tiga bulan pertama pemerintahannya dengan efisiensi anggaran.
- Prabowo memerintahkan agar proyek tak produktif dibatalkan dan jajarannya tidak menggelar banyak acara seremonial untuk menghindari pengurasan anggaran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menceritakan kerap mendapat pesan langsung dari sejumlah anak desa melalui media sosial. Hal itu Prabowo sampaikan saat menghadiri acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026).
Pesan itu terkait fasilitas di daerahnya yang masih kekurangan. Misalnya, ada desa yang tidak memiliki jembatan hingga menyulitkan aktivitas warga.
"Ketika banyak anak desa berbicara langsung kepada saya melalui TikTok atau mengirim pesan langsung ke Presiden, "Pak Presiden, kami tidak punya jembatan di sungai kami, kami harus basah kuyup setiap hari untuk berangkat sekolah." Hal ini sampai langsung ke saya, jadi saya harus bereaksi cepat agar mereka merasa bahwa pemerintah pusat dan Presiden mereka mendengarkan dan bertindak," ujar Prabowo.
Mantan Menteri Pertahanan itu mengaku tersentuh dengan pesan yang disampaikan anak-anak desa. Oleh karena itu, Prabowo bertekad untuk terus melanjutkan efisiensi anggaran.
Tujuannya, agar anggaran yang terbuang sia-sia bisa dimanfaatkan ke hal yang lebih berguna. Prabowo mengatakan, dalam tiga bulan pertama sejak awal memerintah pada 20 Oktober 2024, anggaran yang berhasil dihebat sebesar 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
"Dalam beberapa bulan pertama memimpin, saya telah menghemat anggaran negara sekitar 18 miliar dolar AS secara tunai," ucap Prabowo.
Prabowo mengatakan, penghematan itu berasal dari proyek-proyek yang tidak produktif. Prabowo merasa bangga dengan pencapaian tersebut,
"Namun, harus saya katakan bahwa saya memulainya lebih dulu beberapa bulan sebelumnya, dan saya merasa berhasil. Saya merasa diberdayakan. Saya rasa saya adalah salah satu dari sedikit Presiden Indonesia yang dalam tiga bulan pertama pemerintahannya berhasil menghemat 18 miliar dolar AS secara tunai," kata dia.
Selain proyek tak produktif, Prabowo juga memerintahkan agar semua jajarannya untuk tidak menggelar banyak acara seremonial. Sebab, hal itu dapat menguras banyak anggaran.
"Setiap kementerian punya hari ulang tahun, setiap pemerintah provinsi, setiap kabupaten memiliki hari ulang tahun. Bisa Anda bayangkan berapa ratus upacara yang kita adakan setiap minggu dan setiap bulan di seluruh Indonesia? Jadi, saya batalkan saja itu semua. Saya katakan ulang tahun cukup dirayakan di dalam kantor, mungkin dengan makan siang kecil atau makanan bungkus saja, untuk menjaga rasionalitas," ucap dia.
Meski demikian, Prabowo mengaku, melakukan efisiensi tidak mudah. Pada awal kebijakan itu berlaku, ada banyak penolakan.
"Memang tidak mudah di awal. Bahkan ada demonstrasi yang menentang saya. Tapi menurut saya, itu mungkin pertama kalinya dalam sejarah dunia, ada demonstrasi yang menentang efisiensi pemerintah. Saya tidak tahu siapa yang membayar demonstrasi itu, tapi itu cukup menyedihkan," ujar dia.















