20 Orang Tewas akibat Serangan Militan di Burkina Faso

- 20 orang tewas dalam serangan militan di Burkina Faso, termasuk 7 warga Ghana
- Korban tewas hangus tak dikenali, para pedagang rentan serangan, pemakaman dilakukan di Burkina Faso
- Militer Burkina Faso menyatakan situasi telah terkendali setelah serangkaian serangan terjadi di wilayah utara dan timur negara tersebut
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 20 orang, termasuk 7 warga Ghana, tewas akibat serangan di kota Titao, Burkina Faso, pada Sabtu (14/2/2026). Serangan tersebut diklaim dilakukan oleh JNIM, kelompok militan yang berafiliasi dengan al-Qaeda.
Para saksi mengatakan para penyerang terbagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok menargetkan kamp militer, kelompok lain menghancurkan fasilitas telepon, dan kelompok ketiga menjarah serta membakar toko-toko dan truk pengangkut logistik.
Menurut sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, ratusan jihadis bersenjata menyerbu kamp Titao hingga menyebabkan sebagian kamp hancur. Sumber tersebut juga mengatakan bahwa para militan tersebut melancarkan serangan besar-besaran terhadap detasemen militer di kota Nare di bagian utara. Namun, laporan-laporan tersebut sejauh ini belum dikonfirmasi oleh pemerintah.
1. Korban tewas hangus terbakar hingga tidak dapat dikenali

Menteri Dalam Negeri Ghana, Mohammed Muntaka Mubarak, mengatakan bahwa tujuh warganya termasuk di antara korban tewas. Mereka merupakan bagian dari rombongan pedagang tomat yang berada di sebuah truk pengangkut logistik yang menjadi sasaran para militan.
Mubarak mengatakan bahwa kelompok bersenjata tersebut memisahkan para pria dan perempuan sebelum kemudian melepaskan tembakan.
“Mereka melakukan penembakan membabi buta, menewaskan hampir semua laki-laki di sana, lalu membakar mereka bersama truk tersebut,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa jenazah para korban hangus terbakar hingga tidak dapat dikenali lagi.
Tiga pria dan satu perempuan dari rombongan tersebut selamat dengan kondisi luka-luka, sementara tujuh perempuan lainnya berhasil melarikan diri tanpa cedera, dilansir dari The Straits Times.
2. Para pedagang yang bepergian ke Burkina Faso rentan hadapi serangan militan

Lebih lanjut, Mubarak mengatakan bahwa para korban tewas telah dimakamkan di Burkina Faso pada Senin (16/2/2026) pagi, dengan para pedagang perempuan yang selamat hadir sebagai saksi. Pejabat Ghana tidak dapat menghadiri pemakaman tersebut karena alasan keamanan.
Menurut sang menteri, otoritas Burkina Faso menghabiskan waktu berjam-jam untuk merebut kembali kota Titao pascaserangan. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang telah berjanji untuk menyediakan pengawalan militer guna memindahkan para korban luka ke misi Ghana di ibu kota, Ouagadougou.
Dilansir dari BBC, ketua asosiasi pengemudi truk pengangkut tomat dan bawang, Eric Tuffour, mengatakan bahwa insiden terbaru ini menyoroti besarnya risiko yang harus ditanggung para pedagang dalam upaya mengangkut sayuran untuk dijual kembali di dalam negeri. Asosiasi tersebut telah lama menyerukan peningkatan keamanan bagi para pedagang yang melakukan perjalanan lintas batas ke negara seperti Burkina Faso.
3. Militer sebut situasi telah terkendali

Serangkaian serangan militan telah terjadi di wilayah utara dan timur Burkina Faso dalam beberapa hari terakhir. Sejauh ini, para penguasa militer Burkina Faso, yang merebut kekuasaan dengan janji mengakhiri kekerasan jihadis, belum mengonfirmasi jumlah resmi korban tewas dalam gelombang pembunuhan terbaru ini.
Pada Minggu (15/2/2026), juru bicara militer bersikeras bahwa situasi telah aman dan terkendali.
“Beberapa serangan terjadi pada Sabtu di wilayah utara negara ini. Pasukan kami menunjukkan keberanian dan profesionalisme, memberikan kekalahan telak kepada para teroris dan melumpuhkan puluhan dari mereka,” kata Letkol Abdoul Aziz Ouedraogo di stasiun televisi pemerintah RTB.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut terjadi setelah operasi militer baru-baru ini di wilayah utara dan kawasan Sahel, yang memaksa para militan berkumpul kembali di wilayah barat.


















