Diutus Presiden, Menag ke Mesir Bahas Cabang Al-Azhar dan Ekoteologi

- Langkah strategis untuk akses pendidikan Islam bagi mahasiswa Asia Tenggara.
- Meringankan beban Mesir yang saat ini menghadapi tekanan sosial dan ekonomi.
- Skema kerja sama yang akan dibahas cukup beragam, mulai dari program dual degree hingga model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.
Jakarta, IDN Times - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, bertolak ke Mesir untuk menjalankan mandat langsung Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Ada dua agenda strategis menjadi fokus utama kunjungan ini, yakni membahas kerja sama pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia serta menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional tentang ekoteologi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Sebelum keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (18/1/2026), Nasaruddin menegaskan lawatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo dalam penguatan diplomasi pendidikan dan keagamaan Indonesia di tingkat global.
1. Wacana cabang Al-Azhar di Indonesia untuk Asia Tenggara

Nasaruddin menyebut pembukaan cabang Universitas Al-Azhar di Indonesia sebagai langkah strategis yang dapat menjawab tantangan akses pendidikan Islam bagi mahasiswa Asia Tenggara. Selama ini, banyak pelajar harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir dengan berbagai kendala regional.
"Menindaklanjuti petunjuk Bapak Presiden terkait kemungkinan bekerja sama dengan Al-Azhar di Indonesia sebagaimana pernah dibahas dalam pertemuan bilateral beberapa negara Muslim," ujar dia.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi geografis dan kapasitas yang ideal untuk menjadi pusat pembelajaran Islam moderat di kawasan.
"Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini," ujar Nasaruddin.
2. Solusi atas beban pendidikan dan dukungan negara sahabat

Selain memperluas akses pendidikan, Nasaruddin menilai kehadiran cabang Al-Azhar di Indonesia juga dapat meringankan beban Mesir yang saat ini menghadapi tekanan sosial dan ekonomi.
"Mesir sekarang overloaded. Selain menanggung pengungsian dalam jumlah besar, juga jumlah mahasiswa internasional meningkat, sementara beban ekonominya berat," kata Nasaruddin.
Gagasan ini mendapat sambutan positif dari sejumlah negara sahabat seperti Qatar, Abu Dhabi, dan Yordania. Skema kerja sama yang akan dibahas pun cukup beragam, mulai dari program dual degree, joint faculty, hingga model pendidikan langsung dengan pengajar dari Universitas Al-Azhar.
3. Indonesia jadi sorotan dunia dalam isu ekoteologi

Selain agenda pendidikan, Nasaruddin juga memenuhi undangan resmi Universitas Al-Azhar untuk menjadi keynote speaker dalam seminar internasional bertema ekoteologi. Kehadiran Nasaruddin dalam forum tersebut merupakan mandat Presiden Prabowo untuk menyampaikan perspektif Indonesia tentang pendekatan keagamaan dalam pelestarian lingkungan.
"Atas izin Bapak Presiden, ada undangan yang sangat terhormat yang diberikan kepada kita sebagai keynote speech di dalam seminar internasional tentang ekoteologi," ujarnya.
Konsep ekoteologi yang dikembangkan Indonesia, menurut Nasaruddin, semakin mendapat perhatian dunia. Isu ini sebelumnya juga dibahas dalam forum lintas agama di Vatikan dan menuai respons positif dari para pemimpin keagamaan global.
"Dianggap paling representatif untuk bicara ekoteologi saat ini adalah Indonesia," kata Nasaruddin.
Nasaruddin berharap, kunjungan ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam global, sekaligus memperluas jangkauan diplomasi pendidikan dan keagamaan Indonesia di kancah internasional.


















