Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

73 Anak Meninggal Akibat Campak, Menkes: Bisa Fatal pada Balita

73 Anak Meninggal Akibat Campak, Menkes: Bisa Fatal pada Balita
Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama Sekda Jateng saat konferensi pers terakhir perkembangan terbaru layanan CKG untuk wilayah Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
  • Kasus campak di Indonesia meningkat dengan 73 anak meninggal pada periode 2025–2026, menunjukkan penyebaran cepat menjelang masa mobilitas tinggi seperti Lebaran.
  • Menteri Kesehatan menegaskan imunisasi sebagai langkah paling efektif mencegah penularan campak, namun masih ada masyarakat yang enggan memberikan vaksin kepada anaknya.
  • Campak dapat berakibat fatal bagi balita jika tidak ditangani dengan baik, sehingga pemerintah mendorong percepatan imunisasi di seluruh fasilitas kesehatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Kasus campak kembali meningkat di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 73 anak meninggal dunia akibat campak dalam periode 2025 hingga 2026.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, campak merupakan penyakit yang sangat menular sehingga perlu penanganan cepat agar tidak menyebar lebih luas, terutama menjelang periode mobilitas tinggi seperti Lebaran.

“Campak itu penyakit yang sangat menular. Kalau dulu kita ingat saat COVID, reproduction rate-nya antara 12 sampai 18. Jadi satu orang bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang lainnya,” ujar Budi kepada IDN Times di Gedung Kemenko PMK, Kamis (5/3/2026).

1. Kasus campak mulai meningkat

ilustrasi campak (freepik.com/freepik)
ilustrasi campak (freepik.com/freepik)

Dia mengatakan, pada awal tahun ini pemerintah mulai mengamati peningkatan kasus campak di sejumlah wilayah. Oleh karena itu, upaya penekanan penyebaran penyakit tersebut perlu dilakukan secara cepat.

“Kalau gak ditekan cepat, dia menular ke mana-mana, apalagi sudah dekat Lebaran,” kata dia.

2. Imunisasi efektif menekan campak

Seorang perawat merawat anak yang sedang sakit campak.
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)

Budi mengatakan, salah satu cara paling efektif untuk menekan penularan campak adalah melalui imunisasi. Menurut dia, vaksin campak sudah tersedia sejak lama dan terbukti efektif melindungi anak dari penyakit tersebut.

Namun demikian, dia mengakui masih ada sebagian masyarakat yang enggan memberikan imunisasi kepada anaknya.

“Masih ada yang enggan imunisasi. Akibatnya anaknya tidak terproteksi, dia kena, lalu menularkan ke yang lain,” ujar dia.

3. Campak bisa gagal jika terkena anak di bawah lima tahun

ilustrasi imunisasi campak (freepik.com/freepik)
ilustrasi imunisasi campak (freepik.com/freepik)

Budi mengingatkan, imunisasi tidak hanya melindungi anak yang divaksin, tetapi juga orang-orang di sekitarnya, seperti teman sekolah dan lingkungan tempat tinggal.

Dia juga menekankan, campak dapat berakibat fatal, terutama bagi anak-anak di bawah usia lima tahun jika tidak ditangani dengan baik.

“Campak itu kalau di bawah lima tahun bisa fatal kalau tidak tertangani dengan baik,” kata dia.

Karena itu, pemerintah kembali mendorong masyarakat untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak di fasilitas kesehatan yang tersedia.

“Fasilitasnya ada, vaksinasinya sangat efektif. Jadi tolong imunisasinya anak-anak dididik kembali,” ujar dia.

Berdasarkan data nasional, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).

Sementara pada tahun 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More