Festival Handai, Mendikdasmen: Bahasa Indonesia Alat Diplomasi

- Abdul Mu'ti berharap Bahasa Indonesia yang telah menjadi bahasa resmi UNESCO terus berkembang sebagai alat diplomasi Indonesia.
- Festival Handai Indonesia melibatkan diplomat negara sahabat dalam kelas bahasa untuk memopulerkan Bahasa Indonesia di komunikasi lintas negara.
- Kelas BIPA telah tersedia di 62 negara, sementara Bahasa Indonesia ditargetkan menjadi bahasa internasional pada 2045.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, berharap Bahasa Indonesia yang kini telah menjadi bahasa resmi UNESCO dapat terus menjadi alat diplomasi bagi Indonesia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar puncak Festival Handai Indonesia (FHI) yang diikuti sejumlah diplomat dari negara sahabat yang antusias mengikuti kelas bahasa. Acara ini bertujuan untuk memopulerkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa komunikasi lintas negara.
"Melalui forum ini, tentu kami berharap agar Bahasa Indonesia yang telah menjadi salah satu bahasa resmi UNESCO dapat semakin berkembang dan menjadi salah satu alat diplomasi bagi Indonesia," kata Mu'ti di Kemendikdasmen, Jumat (21/8/2026).
1. Bahasa jadi alat diplomasi yang lembut

Mendikdasmen Abdul Mu'ti bicara mengenai sistem pembelajaran di daerah terdampak Karhutla Kalimantan. (IDN Times/Amir Faisol) Penguatan bahasa Indonesia di tingkat global berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. Dia menilai, penguasaan bahasa Indonesia oleh warga dunia memiliki makna yang lebih luas karena berkaitan dengan pengenalan nilai-nilai keindonesiaan.
“Diplomasi bukan hanya soal dokumen dan perjanjian, melainkan juga soal penghargaan budaya dan komunikasi. Bahasa adalah alat diplomasi yang paling lembut, namun paling kuat,” ujar Mendikdasmen.
2. Bahasa dapat memperkuat hubungan dengan negara sahabat

Menteri Luar Negeri Sugiono dalam Festival Handai Indonesia. (IDN Times/Amir Faisol). Menteri Luar Negeri, Sugiono, menilai pembelajaran bahasa Indonesia tidak berhenti pada kemampuan berkomunikasi, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami Indonesia secara lebih dekat.
Menurut dia, semakin banyak penutur asing bahasa Indonesia, akan semakin memperkuat hubungan Indonesia dengan masyarakat dunia. Dia juga menyampaikan selamat dan apresiasi kepada para finalis serta para diplomat negara sahabat yang telah menjadi bagian dari upaya pelestarian bahasa Indonesia.
“Belajar bahasa Indonesia berarti juga belajar untuk memahami budaya, cara berpikir, dan cara hidup masyarakat Indonesia. Bahasa dapat memperkuat hubungan antarnegara melalui komunikasi langsung antarmasyarakat. Inilah tujuan utama diplomasi bahasa,” ujar Sugiono dalam sambutan yang ditayangkan secara virtual.
3. BIPA sudah ada di 62 negara

Mendikdasmen Abdul Mu'ti bicara mengenai sistem pembelajaran di daerah terdampak Karhutla Kalimantan. (IDN Times/Amir Faisol) Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan, para diplomat yang mengikuti pembelajaran kelas bahasa menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Hafidz menjelaskan, saat ini untuk kelas Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) sudah ada di 62 negara. Ini juga menunjukkan bagaimana minat masyarakat dunia untuk dapat menguasai dan mencintai Bahasa Indonesia.
"Semoga ini akan menjadi berita bagus dalam rangka meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional yang kita targetkan di tahun 2045 saat Indonesia Emas 100 tahun Indonesia merdeka, Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa internasional di forum perserikatan bangsa-bangsa," kata dia.
Tahun ini, FHI menghadirkan lima jenis lomba, yaitu bercerita, bernyanyi, berpantun, berpidato, dan berpuisi. Sebanyak 542 pendaftar dari 79 negara turut ambil bagian, dengan 25 peserta dari 21 negara berhasil melaju sebagai finalis dan mengikuti babak final di Jakarta. Melalui Festival Handai Indonesia dan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat Negara Sahabat, Bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari sebagai bahasa, tetapi juga digunakan untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai negara, membangun saling pengertian, dan merawat persahabatan antarbangsa
















