Hadiri Kwibuka ke-32, Menhut Puji Keberhasilan Konservasi Gorila Rwanda

- Menhut Raja Juli Antoni menghadiri peringatan Kwibuka ke-32 di Jakarta untuk mengenang genosida Rwanda 1994 dan menekankan pentingnya refleksi sejarah serta pembangunan berkelanjutan.
- Raja Antoni memuji keberhasilan Rwanda dalam konservasi lingkungan, terutama peningkatan populasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes sebagai contoh global pengelolaan keanekaragaman hayati.
- Ia menyoroti bahwa konservasi di Rwanda memberi manfaat ekonomi melalui pariwisata pelacakan gorila dan tata kelola kolaboratif yang menjadikan taman nasional sumber kesejahteraan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menghadiri peringatan Kwibuka ke-32 yang merupakan peringatan mengenang genosida di Republik Rwanda, Afrika Tengah.
Kwibuka ke-32 adalah peringatan tahunan mengenang genosida yang terjadi pada 1994 terhadap etnis Tutsi di Rwanda. Menhut menyebut peringatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi sejarah, tetapi juga pembelajaran global tentang pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.
“Perjalanan luar biasa Rwanda dalam pemulihan tidak hanya tercermin pada masyarakatnya, tetapi juga pada komitmen kuatnya terhadap pengelolaan lingkungan,” ujar Raja Juli dalam acara peringatan Kwibuka ke-32 di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
1. Keberhasilan Rwanda dalam bidang konservasi lingkungan

Kehadiran Raja Juli ke peringatan Kwibuka ke-32 ini sebagai perwakilan pemerintah Indonesia, atas arahan Presiden Prabowo Subianto.
Turut hadir dalam acara, Duta Besar Rwanda, Sheikh Abdul Karim Harelimana; Ketua Korps Diplomatik Afrika yang juga Duta Besar Tanzania, Macocha Moshe Tembele; hingga penyintas genosida 1994, Liliane Murangwayire.
Dalam kesempatan itu, Menhut menyoroti keberhasilan Rwanda dalam bidang konservasi lingkungan sebagai sumber inspirasi penting bagi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Salah satu contoh nyata adalah keberhasilan konservasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes. Upaya ini dinilai sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati, melalui kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat.
“Melalui kebijakan konservasi yang konsisten serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, populasi gorila meningkat signifikan, dan menjadi ikon keberhasilan konservasi dunia,” tuturnya.
2. Pelacakan gorila menjadi salah satu sumber devisa utama negara

Menhut mengatakan, keberhasilan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional Rwanda. Pariwisata berbasis konservasi, khususnya pelacakan gorila, menjadi salah satu sumber devisa utama negara tersebut.
“Hal ini menunjukkan bahwa konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
3. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup

Menhut juga menyoroti pentingnya tata kelola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pendekatan jasa ekosistem juga dinilai menjadi kunci keberhasilan Rwanda.
Hutan tidak hanya dipandang sebagai kawasan lindung, tetapi juga sebagai penyedia manfaat nyata seperti air, penyerap karbon, dan sumber penghidupan masyarakat.
“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai secara ekonomi. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup, melainkan sebagai sumber kesejahteraan bersama,” ujar Raja Juli.


















