ITDP: Transportasi Umum di Jakarta Baik 80 Persen, Pengguna Masih Rendah

- ITDP menilai kualitas transportasi umum Jakarta sudah mencapai 80 persen, namun tingkat pengguna masih rendah sekitar 20 persen termasuk ojek online.
- Pengelolaan moda transportasi yang terpisah antara Jakarta dan Bodetabek menyebabkan layanan tidak konsisten, waktu perpindahan lama, serta tarif belum terintegrasi.
- Mizandaru Wicaksono menegaskan perlunya kontribusi daerah sekitar agar pembiayaan dan operasional transportasi regional lebih berkelanjutan serta mengurangi kemacetan di Jakarta.
Jakarta, IDN Times - Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengatakan, transportasi umum di Jakarta sudah baik hingga 80 persen dibandingkan daerah-daerah sekitarnya. Namun ternyata, angka penggunanya masih rendah.
Urban Mobility Manager ITDP Indonesia, Mizandaru Wicaksono, mengatakan, penggunaan transportasi publik di Jakarta masih sekitar 20 persen, termasuk pengguna ojek online.
"Kalau transportasi publik yang mirip 12-14 persen. Nah kenapa sih alasannya? Ya, kalau kita lihat-lihat, ternyata pergerakan (transportasi) di Jakarta 60 persen itu dari Bodetabek," kata Mizan di acara media gathering ITDP, dikutip Minggu (19/4/2026).
1. Imbas yang terjadi ke masyarakat

Mizan mengatakan, kondisi tersebut berimbas kepada masyarakat yang akhirnya tetap menggunakan kendaraan pribadi saat beraktivitas.
"Imbasnya masyarakat dari rumah berangkat ya sudah naik mobil aja. Kecuali yang tercakup sama rel, mungkin masih maulah jalan atau naik ojek. Nah itu yang bikin isu utamanya," kata dia.
2. Kondisi transportasi publik di Jakarta dan Bodetabek

Mizan mengatakan, saat ini berbagai moda transportasi yang ada dikelola terpisah oleh operator dan regulator.
Hal ini pun menyebabkan kualitas layanan tidak konsisten, waktu perpindahan antarmoda yang lama, serta sistem tarif yang tidak terintegrasi.
Pihaknya pun ingin mengajak para pemangku kepentingan duduk bersama untuk dapat mengintegrasikan transportasi umum antara Jakarta dengan Bodetabek.
Terlebih, Jakarta sudah memiliki inisiatif dengan meluncurkan beberapa rute terintegrasi dengan daerah Bodetabek.
Sayangnya, pihaknya melihat daerah lain masih mengandalkan Jakarta, terutama dalam hal pembiayaan sehingga hal tersebut menjadi tidak berkelanjutan.
3. Akhirnya Jakarta jadi lokasi macet

Mizan mengatakan, dengan adanya masalah tersebut, maka tak heran jika Jakarta pun menjadi lokasi kemacetan itu terjadi.
"Maka seharusnya memang ada kontribusi gitu dari kota-kota yang lain. Mungkin bisa bertahap gitu kontribusinya," kata Mizan.
Dia mencontohkan, pada tahun pertama Jakarta bisa sepenuhnya membiayai layanan bus. Kemudian tahun kedua, daerah lain berkontribusi pada rute pengumpan, halte bus, dan trotoar di kawasan terminus. Tahun ketiga dan selanjutnya, biaya operasional ditanggung bersama dengan proporsi yang disepakati.
"Di peraturan kita pun sebenarnya sudah membolehkan hal itu. Ada namanya kerja sama daerah dengan daerah lainnya. Jadi itu harusnya bisa dimanfaatkan oleh Jakarta dan kota-kota sekitar untuk bikin kerjasama yang lebih mantap lah secara regulasi," kata dia.
Mizan mengatakan, jika Jakarta membuka layanan ke wilayah Bodetabek dan memposisikan TransJakarta sebagai operator regional, maka hanya ada dua tantangan tersisa Keduanya adalah rute hanya terbatas pada kawasan strategis Jakarta dan hanya dapat menerima subsidi dari Pemprov Jakarta.
















