Jadi Tenaga Ahli DPN, Noe Letto: Saya Bukan Bawahan Bahlil dan Gibran

- Noe Letto tetap kritis terhadap Pemerintahan.
- Skeptis publik dianggap sebagai bentuk pengawasan.
- Penjelasan Kementerian Pertahanan terkait pelantikan Noe Letto.
Jakarta, IDN Times - Putra budayawan dan cendikiawan muslim Emha Ainun Najib, Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto buka suara soal pengangkatan dirinya sebagai tenaga ahli di Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube miliknya, Noe tak memungkiri banyak orang yang khawatir soal dirinya bergabung ke dalam pemerintahan. Sebab, ia dikenal sebagai sosok yang sering mengkritisi pemerintahan.
"Kalau ada yang khawatir apa saya di bawah Bahlil, di bawah Gibran, ya ora mungkin wis, gak urusan," kata dia dalam postingan itu, dilihat Kamis (22/1/2026).
1. Posisi di DPN tidak mengubah sama sekali sikapnya

Noe menyebut, posisinya sebagai tenaga ahli DPN tidak mengubah sikap kritisnya terhadap pemerintahan. Ia mengaku tetap akan menyampaikan berbagai kritik, terutama melalui forum yang dibuat oleh bapaknya yakni Maiyah Kenduri Cinta.
"Karena yang komplain banyak banget nih, banyak yang resah banyak banget nih. Terutama nanti coba kita klaster satu demi satu ya. Tapi pertama saya pengen meng-address untuk teman-teman Maiyah. Posisi saya di DPN tidak mengubah apa pun sama sekali. Maiyahan saya tetap Maiyahan posisinya, karena itu yang primer, itu nomor satu," tegasnya.
2. Skeptis publik merupakan bentuk pengawasan

Noe juga menyoroti banyaknya kritik masyarakat luas soal keputusannya menerima jabatan di DPN. Ia menganggap skeptis publik terhadap dirinya merupakan bentuk pengawasan.
"Skeptisisme ini bukan serangan, ini pengawasan. Dan ini wajar dan harusnya memang skeptis. Nanti Sabrang yang kemarin ngomongnya kayak gitu apakah jadi ayam sayur? Apakah terus kemudian nggak jadi ngomong lagi? Jadi letoy? Ya, sangat wajar, sangat wajar ditanyakan seperti itu," tutur dia.
3. Penjelasan Kementerian Pertahanan

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin melantik 12 orang sebagai tenaga ahli di DPN pada Kamis (15/1/2026) di kantor Kemhan, Jakarta Pusat. Satu di antara mereka adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto, putra budayawan dan cendikiawan Muslim Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Ada pula putra sulung pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, Frank Alexander Hutapea.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan, pelantikan Noe atau Frank tidak ada kaitannya dengan latar belakang keluarga atau faktor institusi lainnya.
Pemerintah, kata Rico, memastikan pengisian tenaga ahli DPN sepenuhnya diarahkan untuk memperkuat kualitas kebijakan pertahanan Indonesia. Usai dilantik, mereka langsung bertugas dan bertanggung jawab kepada Sjafrie selaku Ketua Harian DPN.
"Setelah dilantik, yang bersangkutan bertugas memberikan masukan, kajian dan rekomendasi sesuai bidang keahliannya untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPN," ujar Rico kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Minggu (18/1/2026).
Terkait bidang keahlian yang dimiliki oleh Noe, pria 46 tahun itu akan fokus pada pemikiran strategis lintas disiplin, termasuk perspektif sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis untuk memperkaya kajian DPN.
Sebagai tenaga ahli, Noe bakal memberikan masukan dan rekomendasi melalui forum dan tata kerja DPN sesuai struktur yang berlaku.
"Rekomendasi itu kemudian dijadikan bahan pertimbangan kolektif pimpinan dewan, termasuk Menteri Pertahanan sehingga keputusan tetap berada dalam koridor kelembagaan dan kepentingan strategis pertahanan negara," kata dia.
Dalam unggahan di akun media sosialnya, Sjafrie mengatakan, pelantikan tenaga ahli merupakan langkah untuk memperkuat pondasi kebijakan pertahanan negara yang adaptif dan berbasis analisis mendalam serta berorientasi jangka panjang.
Rico mengatakan, posisi tenaga ahli dan staf ahli Menhan merupakan posisi berbeda.
"Tenaga ahli berbeda dengan staf khusus Menteri Pertahanan. Tenaga ahli DPN bekerja dalam kerangka kelembagaan DPN dan menyampaikan rekomendasi melalui mekanisme dewan. Sedangkan, staf khusus merupakan bagian dari struktur pendukung langsung Menteri Pertahanan," tutur dia.

















