Jubir: Relawan Vaksin COVID-19 Diberi Perlindungan Saat Uji Klinis

Jakarta, IDN Times - Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah akan memberikan jaminan kesehatan bagi sekitar 1.600 relawan yang ikut dalam uji klinis vaksin asal Tiongkok. Uji klinis terhadap vaksin buatan Sinovac Biotech Ltd itu rencananya akan dimulai pada Agustus mendatang.
Namun, Wiku mengaku belum bisa menyampaikan usia berapa saja yang bisa menjadi relawan. Informasi itu akan ia kabarkan lebih lanjut.
"Jaminan kesehatan, semuanya akan dilindungi pemerintah. Nanti akan kami update apabila keadaan sudah semakin jelas," ungkap Wiku ketika memberikan keterangan pers yang disiarkan secara daring di channel YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat (24/7/2020).
Apakah ini berarti bila vaksin itu tidak sukses, maka relawan dilindungi dengan asuransi kesehatan?
1. Relawan penerima vaksin akan diberikan asuransi

Relawan yang menjadi bagian dari uji klinis vaksin COVID-19 akan diberi asuransi. Hal ini bertujuan untuk menjaga bila proses uji klinis tidak sesuai keinginan.
"Jadi, diberikan asuransi atau di-cover asuransi selama ikut penelitian," kata Ketua Tim Peneliti Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. dr. Kusnandi Rusmil Sp AK MM ketika menggelar jumpa pers di Rumah Sakit Pendidikan Unpad Kota Bandung seperti dikutip dari ANTARA pada Kamis, 23 Juli 2020.
Kusnandi juga menjelaskan para relawan itu tidak dibayar karena bersedia menerima vaksin COVID-19.
"Mereka tidak dibayar karena kan sukarela," kata dia lagi.
2. Pembuatan vaksin adalah pertandingan kecepatan

Sementara, Wiku menyebut pembuatan vaksin tidak berbeda jauh dengan pertandingan kecepatan. Namun, proses pembuatannya tetap harus melibatkan perusahaan di dalam negeri.
"Maka dari itu, siapapun yang terbaik di Indonesia mari berlomba dan jalankan dengan baik dan mohon para pakar, ahli, dan lembaga untuk inklusif. Mari gunakan sumber daya nasional dengan baik," ucapnya.
3. Tiga prioritas pemerintah dalam pembuat vaksin yaitu cepat, tepat, dan aman

Selain itu, Wiku menyebut pemerintah memiliki tiga prioritas dalam membuat vaksin COVID-19. Tiga hal itu yakni aman, tepat dan cepat.
Ia melanjutkan, pertama, pemerintah akan memastikan vaksin yang diproduksi aman dan tak menyebabkan efek samping.
"Kami jelaskan aman, aman adalah vaksin tersebut harus mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat Indonesia dan tidak ada efek samping," ujar Wiku.
Untuk prioritas kedua adalah ketepatan. Maksudnya yaitu vaksin betul-betul harus menimbulkan kekebalan spesifik pada virus corona. Sedangkan, untuk prioritas ketiga adalah kecepatan.
"Harus cepat karena kondisi yang dihadapi dunia termasuk Indonesia kita harus cepat melindungi rakyat, sehingga harus dilakukan seluruh ujinya termasuk uji klinis terlaksana dengan cepat dan benar," ucapnya.
Selain itu, pemerintah juga akan memastikan bahwa produksi vaksin dilakukan dengan baik dan dalam jumlah yang memadai. Hal itu penting agar vaksin bisa diberikan ke seluruh rakyat Indonesia untuk perlindungan.
4. Uji klinis vaksin COVID-19 dari Tiongkok ditargetkan selesai Januari 2021

Koordinator Uji Klinis Vaksin Virus Corona, Kusnandi Rusmil, menyampaikan Presiden Jokowi telah mendukung penuh pengujian klinis vaksin COVID-19 dari Perusahaan Tiongkok Sinovac Biotech yang bekerja sama dengan Bio Farma. Ia mengaku optimistis vaksin bisa selesai diuji pada Januari 2021.
"Kami sangat optimis. Kami rencanakan uji klinis ini selesai bulan Januari dengan jumlah sampel yang ikut uji klinis ini ada 1.620," kata Kusnandi di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat pada Selasa, 21 Juli 2020.
Sementara, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan tugas Bio Farma sendiri adalah memastikan kapasitas produksi vaksin bisa dikelola dengan baik. Hingga kini, Basyir melanjutkan, Bio Farma telah menyiapkan 100 juta dosis vaksin per tahunnya. Nantinya, dosisnya akan dikembangkan menjadi 250 juta dosis per tahun.
"Tapi untuk tahap pertama sesuai target penyelesaian uji klinis Januari, pada saat selesai uji klinis dan izin edarnya keluar, kami sudah menargetkan untuk bisa selesai sekitar 40 juta dosis per tahun," kata Basyir.
















