Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kabais Serahkan Jabatan, Analis: Pola Klasik dalam Manajemen Krisis

Kabais Serahkan Jabatan, Analis: Pola Klasik dalam Manajemen Krisis
Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)
Intinya Sih
  • Letjen TNI Yudi Abrimantyo menyerahkan jabatan Kepala BAIS TNI sebagai bentuk tanggung jawab atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
  • Akademisi menilai langkah Panglima TNI mengambil alih posisi menunjukkan penanganan serius untuk mencegah loyalitas ganda dan menjaga stabilitas internal BAIS TNI.
  • Andrie Yunus menjalani operasi mata selama empat jam dengan tim dokter spesialis, kini dirawat intensif di HCU untuk pemulihan akibat luka serius pada kornea.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus semakin membingungkan publik. Pada Rabu kemarin, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo disebut menyerahkan jabatannya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab buntut aksi anak buahnya yang berupaya membunuh Andrie.

Akademisi dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai dalam perspektif militer, langkah penyerahan jabatan Kepala Bais TNI kepada Panglima TNI mencerminkan pola klasik dalam manajemen krisis organisasi bersenjata. "Pola klasik itu yakni sentralisasi kendali untuk stabilisasi cepat," ujar Selamat di dalam keterangan tertulis pada Kamis (26/3/2026).

Di dalam struktur militer seperti satuan strategis seperti Bais TNI, kata Selamat, pelanggaran oleh personel tak pernah dianggap berdiri sendiri. Peristiwa itu akan dibaca sebagai potensi gangguan terhadap rantai komando, kohesi satuan, dan keamanan informasi.

"Maka, respons yang diambil bukan sekedar penindakan individual tetapi juga langkah struktural," tutur dia.

1. Ada kebutuhan untuk memastikan tak ada loyalitas ganda

(www.instagram.com/@sgintingofficial)
Analis militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting. (www.instagram.com/@sgintingofficial)

Lebih lanjut, dalam pandangan Selamat, pengambilalihan langsung posisi Kabis TNI oleh Panglima TNI menunjukkan dua hal. Pertama, kasus itu dipandang cukup serius sehingga harus ditangani di level tertinggi.

Kedua, ada kebutuhan untuk memastikan tidak terjadi friksi internal atau loyalitas ganda yang dapat menghambat proses hukum maupun investigasi. "Langkah ini sekaligus dapat dibaca sebagai upaya sterilisasi organisasi membersihkan potensi residu konflik di dalam tubuh BAIS TNI agar fungsi intelijen strategis tetap berjalan tanpa gangguan," katanya.

Ia juga berpandangan penyiraman air keras memiliki resonansi emosional yang kuat di masyarakat. Presiden Prabowo Subianto sampai bereaksi dan meminta Mabes TNI mengusut tuntas kasus tersebut.

"Ini bukan sekedar tindak kriminal. Penyiraman air keras kerap dihubungkan dengan simbol kekerasan yang dikaitkan dengan dampak hukum dan ketidakadilan," tutur dia.

Selamat mengingatkan bila kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tidak ditangani secara cepat dan transparan, maka ke depan akan berkembang krisis kepercayaan terhadap TNI. Padahal, selama ini TNI menikmati tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi dibandingkan institusi lain.

2. BAIS seharusnya bertugas untuk kumpulkan informasi

Andrie Yunus, air keras
Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus ketika tapping program siniar di kantor YLBHI sebelum disiram air keras. (Tangkapan layar YouTube YLBHI)

Selamat juga menilai BAIS TNI seharusnya beroperasi dalam kerangka pengumpulan dan analisis informasi strategis. BAIS TNI tidak melakukan tindakan kekerasan langsung terhadap individu sipil.

"Bila dugaan keterlibatan personel dalam penyiraman air keras terbukti, maka ini mengindikasikan kemungkinan mission creep. Pergeseran fungsi dari intelijen ke tindakan operasional diduga tidak sah," ujar Selamat.

Ia menambahkan dalam banyak kasus global penyimpangan seperti ini sering menjadi pintu masuk bagi praktik 'shadow operations'. Di mana unit tertentu bertindak di luar kontrol formal.

"Bila tidak dikoreksi secara tegas maka hal ini bisa merusak profesionalisme militer dan mengaburkan batas antara operasi negara dan tindakan kriminal," tutur dia.

Maka, Selamat pun mendorong penanganan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tidak cukup hanya berhenti pada pelaku lapangan. Yang lebih penting menelusuri apakah ada kegagalan sistemik yakni kelalaian pengawasan, pembiaran, atau bahkan mungkin perintah dari level tertentu.

3. Andrie Yunus baru menjalani operasi mata

Kondisi tubuh Andrie Yunus
Penampakan tubuh Andrie Yunus usai disiram air keras (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Sementara, Andrie Yunus pada Rabu kemarin telah menjalani tindakan operasi terpadu yang melibatkan tim dokter spesialis mata dan bedah plastik. Proses operasi dilakukan di kamar operasi kencana selama lebih dari empat jam.

Ketua umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur mengatakan tim dokter spesialis mata melakukan pemindahan jaringan dari area dalam mata untuk menutup area terbuka, penempelan membran amnion dan pemasangan kembali lensa pelindung mata.

"Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki permukaan bola mata dan mendukung proses penyembuhan jaringan yang lebih optimal," kata Isnur.

Isnur dan tujuh individu lainnya tergabung dalam Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) yang mengawal secara dekat kasus Andrie Yunus. Ia menambahkan selama tindakan berlangsung juga ditemukan adanya penipisan jaringan kornea yang bersifat progresif pada bagian atas hingga sisi luar kornea mata kanan yang terjadi sebagai dampak dari proses inflamasi yang masih berlangsung.

"Kondisi pasien secara umum masih dalam pemantauan ketat oleh tim medis multidisiplin dengan perawatan yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan," tutur dia.

"Andrie masih harus menjalankan perawatan intensif di ruang High Care Unit (HCU) dan tak dapat dijenguk sementara waktu," imbuhnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More