Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kawal 40 Ribu Lansia, Petugas Haji 2026 Dituntut Melayani Maksimal

Kawal 40 Ribu Lansia, Petugas Haji 2026 Dituntut Melayani Maksimal
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengecup bendera Merah Putih sebagai tanda pengabdian kepada negara Jumat (17/04/2026) (Dok. Media Center Haji)
Intinya Sih
  • Kemenhaj RI melantik PPIH Embarkasi se-Indonesia dan melepas ratusan petugas ke Arab Saudi, menekankan integritas, kesiapan mental, serta pelayanan inklusif tanpa diskriminasi.
  • Menteri Haji Irfan Yusuf menegaskan embarkasi sebagai wajah negara dan meminta petugas fokus pada data akurat, tata kelola transparan, serta perhatian utama bagi lansia dan kelompok rentan.
  • Wamenhaj Dahnil Anzar mengingatkan petugas bahwa tugas mereka adalah misi suci untuk melayani jemaah beragam, termasuk lebih dari 40 ribu lansia, dengan empati dan kesiapan fisik-rohani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Memasuki musim ibadah haji 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI terus mematangkan kesiapan barisan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Pada Jumat (17/4/2026), Kemenhaj secara serentak melantik PPIH Embarkasi se-Indonesia di Surabaya, sekaligus melepas keberangkatan ratusan petugas PPIH Arab Saudi dari Jakarta.

Dalam dua agenda tersebut, pimpinan Kemenhaj memberikan penekanan yang senada yakni petugas haji harus mengedepankan integritas, kesiapan mental, dan pelayanan yang inklusif tanpa diskriminasi.

1. Embarkasi adalah wajah kehadiran negara

WhatsApp Image 2026-04-17 at 9.20.04 PM.jpeg
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, secara resmi melantik PPIH Embarkasi seluruh Indonesia (Dok. Media Center Haji)

Di Asrama Haji Kelas I Surabaya, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, secara resmi melantik PPIH Embarkasi seluruh Indonesia. Menhaj mengingatkan bahwa embarkasi adalah titik pertama di mana jemaah merasakan langsung kehadiran dan pelayanan negara.

"Pelantikan ini adalah peneguhan amanah untuk menghadirkan pembinaan, pelayanan, dan pelindungan jemaah secara nyata sejak dari embarkasi," tegas Menhaj Irfan.

Menhaj meminta seluruh PPIH Embarkasi untuk bekerja berbasis data yang akurat, mulai dari kelengkapan dokumen, pra-manifest, penempatan jemaah, hingga layanan kesehatan. Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola skema murur dan tanazul demi kemudahan jemaah, serta pelaksanaan dam (denda/tebusan) yang harus transparan dan disalurkan melalui jalur resmi Pemerintah Arab Saudi (Proyek Adahi).

Pesan paling tajam dari Menhaj tertuju pada integritas petugas dan pelayanan untuk kelompok rentan.

"Lansia, penyandang disabilitas, perempuan, dan kelompok rentan lainnya harus menjadi perhatian utama, bukan sekadar pelengkap," ujarnya. "Tidak boleh ada penyalahgunaan kewenangan atau pelayanan yang diskriminatif. Petugas haji harus menjadi teladan dalam kejujuran dan akhlak pelayanan," pesan Irfan.

2. Misi suci di Tanah Suci

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengecup bendera Merah Putih sebagai tanda pengabdian kepada negara Jumat (17/04/2026) (Dok. Media Center Haji)
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengecup bendera Merah Putih sebagai tanda pengabdian kepada negara Jumat (17/04/2026) (Dok. Media Center Haji)

Sementara itu, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan arahan pelepasan kepada 363 PPIH Daerah Kerja (Daker) Madinah dan Bandara yang akan bertolak ke Arab Saudi.

Wamenhaj menegaskan bahwa menjadi petugas haji bukanlah sekadar pekerjaan teknis administratif, melainkan sebuah misi suci dan jalan pengabdian.

“Niatkan pelepasan ini bahwa kita semua sedang menunaikan ibadah melalui peran sebagai petugas haji yang melayani jemaah agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik. Ini adalah misi suci, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, agama, dan bangsa,” tutur Dahnil.

Dahnil mengingatkan bahwa jemaah haji Indonesia adalah orang-orang yang telah berjuang keras mencapai istithaah (kemampuan), sehingga petugas wajib melayani mereka dengan kekuatan fisik yang ditopang oleh kesiapan rohani dan pengelolaan emosi yang baik.

3. Profil jemaah beragam, petugas harus responsif

Para petugas haji berfoto bersama Wakil Menteri Haji dan Umrah (Dok. Media C
Para petugas haji berfoto bersama Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak (Dok. Media Center Haji)

Seruan untuk memberikan pelayanan yang inklusif dan empatik ini sangat beralasan mengingat profil jemaah haji Indonesia yang sangat majemuk.

Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenhaj per 15 April 2026, profil jemaah didominasi oleh kelompok usia 41–64 tahun, dengan lebih dari 40 ribu jemaah masuk dalam kategori lanjut usia (di atas 65 tahun).

Dari sisi latar belakang pendidikan dan pekerjaan, mayoritas jemaah adalah lulusan SD (55.217 orang) dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga (52.717 orang), disusul oleh pegawai swasta, PNS, dan petani.

Melihat keragaman ini, Wamenhaj meminta para petugas di lapangan untuk bersikap adaptif dan responsif.

“Profil jemaah kita beragam. Karena itu, mari tunaikan layanan semaksimal mungkin kepada seluruh jemaah, tanpa membedakan latar belakang. Pastikan pelayanan kita sukses, sehingga penyelenggaraan haji tahun ini menjadi sejarah baru bagi Indonesia,” pungkas Wamenhaj.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Latest in News

See More