PBB: 900 Pengungsi Rohingya Tewas di Jalur Laut pada 2025

- UNHCR melaporkan hampir 900 pengungsi Rohingya tewas atau hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala sepanjang 2025, menjadikannya jalur pengungsian paling mematikan di dunia.
- Sebuah kapal kayu berisi sekitar 280 orang tenggelam di Laut Andaman pada April 2026 akibat kelebihan muatan dan cuaca buruk, dengan sekitar 250 penumpang dinyatakan hilang.
- PBB mendesak negara-negara Asia Tenggara memperkuat kerja sama penyelamatan dan memberantas perdagangan manusia, menyusul meningkatnya penyeberangan laut akibat konflik serta kondisi buruk di kamp pengungsian.
Jakarta, IDN Times - Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) melaporkan peningkatan jumlah kematian pengungsi Rohingya di jalur laut pada Jumat (17/4/2026). Laporan ini dikeluarkan setelah terjadinya kecelakaan kapal di perairan Laut Andaman pada awal bulan ini.
Jumlah korban jiwa pada tahun lalu merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah rute pengungsian di wilayah tersebut. PBB memperingatkan bahwa jumlah korban akan terus bertambah jika tidak ada tindakan nyata dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, mengingat banyaknya pengungsi yang terpaksa meninggalkan kamp karena kondisi yang semakin memburuk.
1. Hampir 900 pengungsi Rohingya tewas dan hilang di laut selama 2025
Berdasarkan data UNHCR, hampir 900 pengungsi Rohingya tercatat tewas atau hilang saat menyeberangi Laut Andaman dan Teluk Benggala sepanjang tahun 2025.
Data menunjukkan bahwa dari sekitar 6.500 pengungsi yang melakukan perjalanan laut pada tahun tersebut, satu dari tujuh orang meninggal atau hilang. Angka ini menjadikan rute tersebut sebagai jalur pengungsian dengan tingkat kematian tertinggi di dunia saat ini.
Lebih dari separuh pengungsi yang menempuh perjalanan ini adalah perempuan dan anak-anak. Mereka kerap menjadi korban saat kapal mengalami kendala mesin atau cuaca buruk.
2. Kapal kayu muatan 280 orang tenggelam di Laut Andaman pada April 2026
Peristiwa terbaru melibatkan sebuah kapal kayu yang membawa sekitar 280 orang, terdiri atas pengungsi Rohingya dan migran asal Bangladesh. Kapal tersebut tenggelam akibat kelebihan muatan dan cuaca buruk di Laut Andaman, usai berangkat dari pelabuhan Teknaf pada 4 April 2026 menuju Malaysia. Sekitar 250 orang dinyatakan hilang dan sembilan orang berhasil diselamatkan.
"Sebuah kapal berisi sekitar 280 orang terbalik di Laut Andaman dan diperkirakan 250 penumpangnya hilang," kata Juru Bicara UNHCR, Babar Baloch, dilansir The Hindu.
Sembilan korban selamat berhasil dievakuasi pada 9 April 2026 dalam kondisi kelelahan dan dehidrasi. Mereka bertahan di laut dengan memanfaatkan puing kayu dan drum kosong sebelum diselamatkan oleh penjaga pantai dan kapal barang yang melintas.
3. PBB dorong negara Asia Tenggara tangani krisis pengungsi Rohingya
Peningkatan angka penyeberangan laut ini disebabkan oleh konflik di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, serta menurunnya kualitas hidup di kamp pengungsian di Bangladesh akibat kurangnya dana bantuan internasional.
"Konflik yang terus terjadi, kekerasan, dan tidak adanya kepastian status warga negara membuat mereka kesulitan melihat masa depan," kata Juru Bicara UNHCR, Babar Baloch.
PBB meminta negara-negara di Asia Tenggara untuk memperkuat kerja sama dalam operasi pencarian dan penyelamatan, serta menindak tegas jaringan perdagangan manusia yang mencari keuntungan dari pengungsi Rohingya.
"Tidak ada orang yang mau mengambil risiko perjalanan laut yang berbahaya bagi keluarganya, kecuali karena keadaan yang sangat mendesak," kata Baloch.
















