Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pernyataan Lengkap Jusuf Kalla soal Dugaan Penistaan Agama-Ijazah Jokowi

Pernyataan Lengkap Jusuf Kalla soal Dugaan Penistaan Agama-Ijazah Jokowi
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • Jusuf Kalla menegaskan ceramahnya di Masjid UGM bukan penistaan agama, melainkan penjelasan konteks konflik Poso dan Ambon yang pernah ia damaikan sebagai Menko Kesra.
  • JK membantah tuduhan mendanai isu ijazah palsu Jokowi dan menjelaskan kedekatannya dengan Presiden sejak awal karier politiknya hingga Pilkada DKI Jakarta.
  • Dalam konferensi pers, JK meminta publik tidak terprovokasi, menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang, serta menyoroti pentingnya menjaga perdamaian dan keutuhan bangsa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menyampaikan klarifikasi terkait dugaan penistaan agama saat ia ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026.

Dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya yang beralamat di Jalan Brawijaya IV Nomor 12, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), JK juga menyampaikan terkait ijazah palsu Joko "Jokowi" Widodo.

1. JK putar video konflik Poso

Pernyataan Lengkap Jusuf Kalla soal Dugaan Penistaan Agama-Ijazah Jokowi
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Saat jumpa pers dimulai, JK pun memutarkan video mengenai konflik Poso, Sulawesi Tengah, pada 1998 hingga 2001 dan konflik Ambon pada 1999 hingga 2002. JK pun menjelaskan perannya saat menjadi penengah dan meredakan kedua konflik tersebut.

Selain itu, JK juga membahas asal mula munculnya tudingan penistaan agama. Menurutnya, tuduhan itu terjadi tepat setelah JK melaporkan ahli digital forensik, Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri. Rismon dilaporkan ke polisi atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Rismon menuding JK mendanai kasus ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko "Jokowi" Widodo.

2. JK bahas soal ijazah Jokowi

Pernyataan Lengkap Jusuf Kalla soal Dugaan Penistaan Agama-Ijazah Jokowi
Foto Jokowi bersalaman dengan Jusuf Kalla yang ditayangkan saat konferensi pers di rumah JK (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

JK pun memaparkan alasan mengapa dirinya sempat meminta kepada Jokowi agar menunjukkan ijazah aslinya. Ia memastikan, tidak ada niatan untuk menyerang Jokowi.

JK lantas menyinggung kedekatan dirinya dengan Jokowi. Di mana, JK merupakan sosok yang berjasa dalam karier politik Jokowi ikut kontestasi Pilkada DKI Jakarta hingga Pemilihan Presiden (Pilpres).

Tokoh asal Sulawesi Selatan itu pun menampilkan foto ketika Jokowi berkunjung ke rumah JK usai menang Pilkada DKI Jakarta.

3. Pernyataan lengkap JK soal ijazah Jokowi dan dugaan penistaan agama

Pernyataan Lengkap Jusuf Kalla soal Dugaan Penistaan Agama-Ijazah Jokowi
Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla usai menerima Duta Besar Iran di Markas PMI, Jakarta Selatan, Rabu (18/3/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Berikut ini pernyataan lengkap JK terkait isu ijazah Jokowi dan dugaan penistaan agama:

Inilah suasana ya wartawan bisa dibilang yang tidak ada media lebih kejam lagi, lebih parah lagi. Orang-orang yang memfitnah saya, pernah gak ada di situ? Saya ada di situ, Hamid ada di situ, Uceng sebagai wartawan waktu itu pergi melihat itu.

Inilah, ini baru awalnya ini, awalnya ini. Yang lain potong leher... 7.000 orang meninggal, emangnya karena apa? 7.000! Yang Anda lihat fotonya tadi tiga atau empat yang kelihatan, 7.000 orang meninggal di situ. Nah, yang paling mengetahui keadaan justru Ketua PGI, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia yang dulu Ketua Sinode di Maluku. Tahu betul. Coba lihat pernyataannya supaya lebih lengkap lagi, bagaimana keadaan sebenarnya yang terjadi di sana. Ya, dalam wawancara, ini Pendeta John Ruhulessin.

Nah, tadi kan dibilang tadi, Pendeta John. Sekali lagi. Pendeta John. Pak, ini Pendeta John. Tadi dia ceritakan bagaimana orang dipotong kepalanya dan kepalanya dijadikan bola, main. Inilah konflik yang paling kejam mungkin setelah G30S, karena jenderal yang dibunuh, tapi paling ganas paling jahat inilah.

Bayangkan kalau saya potong kepalanya Hamid baru kepalanya dibawa baru dijadikan… tadi saya katakan kan, tadi ada, bagaimana kepala orang dijadikan bola. Bagaimana kejamnya waktu itu, dan itu jelas dikatakan tadi, itu karena agama masuk di situ. Islam-Kristen berbuat begitu.

Kalau orang Islam, orang Kristen masuk di daerah Islam, tanya “apa?” “Islam”, biar lewat. “Islam, coba Assalamualaikum”, lewat. Tapi kemudian banyak orang begitu, sebaliknya kalau ke Kristen, “Shalom”, lewat. Tapi kemudian banyak yang disuruh baca Al-Fatihah. Tidak bisa baca Al-Fatihah, langsung dipotong.

Sebaliknya, juga di Kristen begitu. Kami bertiga masuk ke situ untuk menenangkan. Ada yang berani gak? Berani gak? Ade Armando itu ke situ? Berani gak itu Edy Darmawan begitu? Berani gak Anda semua?

Jadi saya ingin jelaskan tentang di UGM itu. Nanti dibagikan, mungkin ada sebagian sudah baca lengkap, tapi ini tertulis supaya Anda baca berkali-kali. Acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa seperti dilakukan di mana-mana di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Perdamaian. Jadi khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian, apa itu, kurang lebih begitu.

Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian. Perdamaian itu adalah akhir dari pada konflik. Apa itu konflik? Akhir perdamaian. Kemudian mulai konflik di dunia ini, konflik di Eropa, Perang Dunia I saya uraikan. Dan bagaimana 15 konflik di Indonesia, bagaimana apa yang terjadi.

Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Timtim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, eh satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso.

Hanya mengatakan, ini nanti dibagikan sama Anda untuk Anda pelajari kembali, benar gak saya menista agama? Saya damaikan ini, apa saya menista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid, masuk ke daerah yang Anda lihat tadi itu. Masuk ke daerah itu. Tidak ada Menteri, Presiden Gus Dur, Ibu Megawati tidak ada yang bisa. Jenderal-jenderal datang tidak bisa mendamaikan itu. Tokoh-tokoh Maluku waktu itu militer itu berapa, dua puluhan? Tidak bisa. Saya datang tanpa pengawal masuk ke daerah itu.

Dan saya tahu kenapa dia berbuat begitu. Karena dia pikir ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam. Kristen menamainya martir. Tapi sebenarnya saya berada di masjid dan tidak mengerti martir. Yang saya katakan ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya. Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama, Itu syahid. Martir juga begitu, membela, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja. Tapi karena saya di masjid, maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak tahu.

Untuk menjelaskan, jangan sama sekali agama dipakai untuk berkonflik, jangan! Anda calon-calon pemimpin, coba ini, calon-calon pemimpin semua ini. Kau mesti adil dan tidak boleh memakai agama unsur-unsur politik. Ini akibatnya saya bilang, 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun, 7.000 dalam tiga tahun. Aceh 30 tahun meninggal 15.000. Artinya di Aceh tiap tahun itu 500 orang. Ini tiap tahun itu 3.000 orang, ya 2.500 orang tiap tahun. Bayangkan gak? Anda bayangkan yang muda-muda ini, lihat kejadiannya.

Lihat kejadiannya, bagaimana orang menangis, pengungsi Poso saja 100 ribu yang mengungsi. Saya datang ke Poso-Ambon itu sebagai Menko Kesra (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat) untuk menyelesaikan pengungsi. Tapi saya lihat keadaan, tidak mungkin saya selesaikan pengungsi, salah satu cara, damaikan.

Karena itulah saya ambil alih, saya bilang sama Pak Menko Polkam, saya ambil alih ini kasus ini. Saya korbankan jiwa saya, bagaimana kalau saya diparangi, bagaimana kalau saya… biar, insyaallah kita berdoa. Tenang Mid (Hamid Awaluddin), tenang Mid. Saya bertiga Dokter Farid, cuma bertiga orang. Tenang Mid, insyaallah kita berdoa dulu, jadi begitu kita keluar kita salat dulu, mudah-mudahan tidak apa-apa.

Mana pengacara itu? Kau ini orang Ambon nih, dia tahu bagaimana keadaan. Dia mahasiswa di situ, Pattimura dibakar! Hanya saya saja, siapa yang mau pindah sekolah ke Makassar-Manado, saya pindah ini. Saya pikir masa depannya anak-anak ini. Kalau dia ikut pemberontakan, yang muda-muda saya keluarkan yang mau sekolah. Tanya semua dia. Dari Pattimura pindahkan ke Unhas. Siapa mau pindah Unhas, pindah ke Unhas. Saya bicara rektor kasih pindah.

Saya bicara rektor di Manado, siapa anak-anak yang mau sekolah pindahkan ke Manado. Hancur Ambon waktu itu. Sekolah-sekolah habis, masjid dibakar, gereja dibakar, rumah dibakar. Anda bertetangga, saya Islam, dia Kristen, saling berkelahi rumah dibakar masing-masing. Dia bakar rumah saya, saya bakar rumah dia, para bertetangga. Itulah yang terjadi di Maluku itu.

Siapa orang Ambon di sini? Wartawan. Itu yang terjadi. Saya hanya bicara dua kalimat. Kenapa agama, saya bacakan ulang supaya tahu, kenapa agama menjadi alasan konflik kayak di Poso dan Ambon? Dengar ya, jadi ini kalau buku, ini ayat tentang Ambon. Karena yang lain ada tentang DI, ada tentang Aceh, tentang Permesta. Ini kemudian saya tidak bahas tentang khusus Poso, tidak.

Hanya satu ayat yang berbunyi: Kenapa agama gampang menjadikan jadi alasan konflik kayak di Ambon? Karena dua-duanya, Islam dan Kristen, artinya orang Islam dan orang Kristen di tempat itu, bukan Islam keseluruhan. Islam-Kristen di tempat itu, di Ambon itu, di Poso itu berpendapat mati dan menewaskan orang mati atau menewaskan itu syahid. Itu saja dipersoalkan, padahal ini tentang Maluku.

Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh? Kenapa mereka saling membunuh? Ada gak Islam dan Kristen? Tidak ada. Jadi mereka semua melanggar ajaran agama. Saya tidak mengajarkan memuji agama Kristen, tidak. Tentang kayak Ambon dan Poso. Anda kan para jurnalis tahu kata-kata begitu kan? Konteksnya apa? Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu.

Artinya karena saya bicara di kalangan Islam, sehingga saya katakan semua pihak, jadi artinya Islam dan Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam maksudnya, saya syahid, kalau saya mati pun syahid. Akhirnya saya suruh berhenti konfliknya orang yang membawa agama.

Dan saya bilang kedua-duanya, saya karena kedua-duanya, Islam-Kristen, kedua-duanya berpendapat, jadi orang itu yang berperang tadi itu kedua-duanya berpendapat. Saya tidak katakan Islam seluruhnya, Kristen seluruh, tidak. Konteksnya ini cuma dua kalimat saja. Setelah itu saya bicara tentang internasional, cuma dua kalimat. Kalau Anda lihat video apa? Saling membunuh kan? Ada ajaran agama kan yang mengatakan ini? Saya bilang tidak ada ajaran agama.

Jelas saya katakan bahwa tidak ada ajaran agama. Karena itu saya selesaikan ini dengan satu kata, satu kata. Rapat umum di Tentena, rapat umum di… saya undang, kumpulkan di lapangan orang-orang yang berkelahi ini. Bahwa kalian masuk neraka! Karena tidak ada ajaran Kristen dan ajaran Islam yang mengatakan saling membunuh saudaranya. Itu bukan syahid.

Jadi kenyataannya begini dan saya bantah, lihat di belakangnya, bahwa kalian semua masuk neraka. Jangan hanya itu, lihat kalimat berikutnya, bahwa kalian semua kan tidak ada Islam dan Kristen tidak mengajarkan itu. Jadi ini mereka paham tapi tidak sesuai dengan ajaran Islam dan ajaran Kristen. Itu, itu artinya kalimat-kalimat ini. Karena ini cara lisan, tentu strukturnya tidak seperti bikin buku. Tapi saya bicara, tapi tetap terstruktur.

Itu tentang ini, ya. Nah, karena itu coba yang tadi itu, apa pendapat Ketua Sinode yang waktu itu, Pak John, Pak John Luruptte. John Ruhulessin. Ini.

John Ruhulessin:

Saya Pendeta John Ruhulessin, mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku dan Direktur Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri Ambon, tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Maluku. Menyikapi perkembangan-perkembangan media sosial belakangan ini, terutama yang berkaitan dengan tanggapan banyak sekali mengenai pernyataan Pak Jusuf Kalla, Pak JK yang memberikan ceramah di UGM.

Saya berkeinginan untuk memberikan perspektif saya. Saya memberikan perspektif dalam kapasitas sebagai orang yang ikut dalam konflik Maluku dan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menjaga kondisi yang kondusif di Maluku supaya kondisi ini tetap terpelihara dan perdamaian di Maluku tetap terjaga. Lebih dari itu kita menjaga keutuhan bangsa kita.

Saya kira tanggapan saya fokus pada dua tindakan. Saya merasa dan mengikuti betul ceramah Pak Jusuf Kalla dan saya berkesimpulan bahwa apa yang dikemukakan oleh Pak JK sebetulnya konteksnya adalah konflik di Maluku dan Poso ya. Kita tahu bahwa Pak JK adalah arsitek yang bersama-sama dengan Pemerintah Indonesia ketika itu ikut menyelesaikan konflik Maluku.

Berapa-berapa kali beliau datang di Ambon dan kemudian proses Malino II, beliau adalah arsitek perdamaian di Maluku dan kita berterima kasih kepada Pak JK. Saya kira itu dulu saya mau mengatakan itu. Berkaitan dengan pernyataan Pak JK, saya harus mengatakan bahwa pernyataan Pak JK itu latar belakangnya adalah konteks Maluku. Pak JK dalam konteks itu tidak berbicara pada kepentingan doktrin satu agama, apalagi doktrin yang menyangkut agama Kristen.

Saya kira Pak JK tidak bermaksud seperti itu. Yang beliau lihat adalah kondisi sosiologis ketika penyelesaian konflik terjadi bahwa orang mencari legitimasi-legitimasi agama untuk terus berperang. Dan oleh karena itu, dalam perspektif semacam itu, di kalangan Kristen pun orang akan berdoa untuk masuk surga, menjaga gereja.

Di balik pemahaman seperti itu ada pemahaman bahwa yang dibela adalah bukan cuma agama tapi juga yang dibela adalah Tuhan. Padahal Tuhan tidak perlu dibela. Jadi itu pemahaman yang terjadi di masyarakat ketika itu. Pak JK hanya merekam pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat ketika itu.

Dia tidak berbicara dalam perspektif doktrin satu agama dan oleh karena itu saya mau menjernihkan posisi itu ya. Saya kira Pak JK sampai pada taraf semacam itu tidak bermaksud melecehkan satu agama ya, hanya beliau melihat fakta sosiologis historis bahwa orang mencari legitimasi agama untuk terus berperang.

Dan saya kira ini pandangan yang harus saya luruskan supaya apa yang dikemukakan tidak lalu memicu ketegangan-ketegangan di basis masyarakat dan kita terus menjaga tentang keutuhan bangsa kita. Saya kira itu yang mau saya sampaikan, demikian dan terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom.

Jusuf Kalla (Lanjutan)

Ini pendeta, ini Sinode yang Ketua Sinode Maluku pada waktu itu. Istrinya kena bom. Eh istrinya kan? Istrinya dia, istrinya kena bom. Bagaimana saya, Anda bayangkan sama Anda, bagaimana kami berdua, bertiga dengan Pak Farid dan ada Pak... sulitnya menangani ini konflik.

Pertama saya pergi dengan Pak SBY dengan tentara pengawal macam-macam panser masuk kota. Bicara orang, bicara para termasuk John ini Pendeta John yang paling keras bicara. Kalau Islam itu Muhammad Attamimi, Anda bayangkan itu. Karena saya hanya mendampingi, saya diam apa ini orang ngomongnya kayak apa ini. Sore rombongan pergi, kami tinggal. Kita tinggal, saya selesaikan ini soal. Kumpul lagi semua.

Setelah itu bicara kelompok Islam, bicara Kristen. Saya bicara Uskup Agung Mandagi, Uskup Mandagi. Ada enggak orang Katolik di sini? Angkat tangan. Enggak ada ya. Saya tunggu di itu rumahnya satu jam karena dia tidur. Sampai sekarang dia selalu ingat itu begitu menyelesaikannya.

Dua hari kemudian saya datang lagi, ini untuk memberikan gambaran bagaimana kejamnya situasi. Saya datang lagi, di bandara saya dijemput dengan motorboat, speedboat ke kota. Saya bilang kenapa kita dengan speedboat? Karena jalan sudah penuh dengan pohon yang ditebang, habis jalan ke Ambon. Kita naik motorboat. Saya dua hari di situ, bicara semua orang lagi, bicara kelompok jelaskan jihad. Pulang dengan motorboat lagi.

Dua hari saya datang lagi untuk meyakinkan mereka. Saya dijemput dengan helikopter di bandara. Saya mana motorboatnya? Motorboatnya dibakar. Bayangkan. Karena dia tahu saya mau damaikan, dibakar itu motorboat, motorboat Pemda punya.

Saya dijemput dengan helikopter. Inilah suasana Anda belum lahir, suasana ini paling kejam di antara semua konflik Indonesia setelah G30S. Bagaimana kita alami seperti itu? Sama di Poso begitu juga. Akhirnya saya suruh damai dengan cara bahwa mereka masuk neraka. Dan mereka terkejut dan baru sadar semua bahwa ini tindakan, jadi ini bukan yang terjadi itu hanya mengatasnamakan agama bahwa dia akan masuk surga. Saya tentu saya ulangi lagi, saya pakai kata syahid bukan martir karena saya di masjid.

Ingat, saya bicara supaya jemaah tahu bahwa dia berjuang untuk agama. Islam menganggap dia berjuang agama, Kristen menganggap dia berjuang untuk agama. Terjadilah perang besar-besaran, saling potong. Dalam Kristen yang saya baca itu tidak boleh, dalam Islam juga tidak boleh.

Jadi bukan saya bicara dogma agama, bukan. Saya bicara kejadian pada waktu itu, kejadian pada waktu itu semua merasa masuk surga. Tadi lihat, sebelum pergi mereka pemuda-pemuda ini pergi perang, semua didoakan, kau pergi berdoa, kau habisi musuhmu. Islam juga begitu didoakan oleh para ustaz, kau pergi. Jadi ini perang agama, perang karena agama yang dipakai agama, tapi agamanya diselewengkan agama itu. Itu yang terjadi.

Inilah, konfliknya yang terganas setelah G30S. Coba cari konflik lainnya, tidak ada orang potong kepala baru dijadikan tempat sepak bola. Tidak ada. Kejamnya orang. Anda lihat sendiri tadi di video, bakar rumah teman-temannya dibakar karena beda agama.

Nah itulah yang saya ingin gambarkan sama Anda. Ah sekarang, mungkin ada sesuatu tambahan sedikit nanti. Ada pertanyaan? Nama apa, dari mana?

Sebetulnya kalau kita cermati dari pidato bapak di UGM itu, kalau kita berpikiran jernih itu memang kita bisa paham tidak ada hal yang menyangkut penistaan agama, tapi kan kalau sudah masuk ke wilayah politik kan susah ya pak. Nah pertanyaan, apakah bapak akan mengambil langkah hukum terhadap Ade Armando atau pelapor bapak yang lain untuk membuktikan bahwa bapak memang tidak ada niat untuk menistakan agama?

Kami sedang mulai mempelajari itu di mana letak. Mudah-mudahan Allah memaafkannya, para pemfitnah itu. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Semua memfitnah saya semua. 

Apa dia bikin pada waktu itu? Kasih tahu mereka semua, orang yang besar ngomong, apa yang dia lakukan pada saat itu semua? Kami akan pertimbangkan, karena kalau tidak dituntut, ini akan terulang lagi. Hati-hati, dia ngomong ke mana-mana. Minta maaf.

Orang Islam mau demo, jangan, saya bilang. Kau tahu semua itu… Jangan-jangan, karena itu saya undang Sekjen DMI (Dewan Masjid Indonesia) supaya kasih tahu masjid tenang. Masjid banyak yang berteriak. Bagaimana pak? Kita lawan? Jangan, jangan.

Di Makassar mau demo besar-besaran, jangan. Di mana Subhan? Kau kan. Subhan, kasih pengumuman, tidak boleh demo. Tapi secara hukum, kami serahkan kepada tim hukum, serahkan ke masyarakat.

Banyak masyarakat yang mau karena tersinggung. Bukan saya yang mau mengambil hukum, (tapi) masyarakat yang mau mengadukan ke hukum.  Saya diam aja, tapi masyarakat tidak bisa ditahan kalau dia mau. Sudah puluhan orang Islam akan adukan semuanya. Terserah mereka. Saya sendiri mudah-mudahan Tuhan memaafkan dia, mengampuni

Berarti pak JK gak ambil langkah hukum?

Ya karena orang (…) sudah banyak yang mau. Buat apa saya? Terserah, tapi hukum akan berjalan bagi yang memfitnah yang tidak benar. Benar gak dia kalau Anda lihat ini? Benar gak? Ada yang benar gak yang fitnah itu? Bagaimana Anda melihat film ini, dan sejarahnya? Ada lagi?

Saya Okta dari Kompas TV. Pak JK berarti penegasan Pak kemarin kan juga sempat ada pelaporan ke polisi ya terkait dengan pernyataan Pak JK di UGM tersebut. Nah ini artinya Pak JK melihat apakah ada upaya politisasi atau seperti apa?

Saya tidak menuduh politik, tetapi ini kenyataannya bahwa ini timbul setelah saya mengadukan Rismon. Dan kedua saya mengatakan bahwa ini sudah dua tahun rakyat ini berkonflik, bertentangan, saling mengadu, saling berteriak-berteriak, demo, sudahlah Pak Jokowi, sudahlah kasihlah ijazah saja. Itu saja.

Timbullah ini. Sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya lihat itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat ini berkelahi diri sendiri, saling memaki masyarakat. Dua tahun.

Inilah saya ingin kasih tahu sama Anda. Saya berpasangan dengan, saya wakilnya Pak Jokowi, tapi karena sudah selesai, maka kita warga negara biasa.

Saya lebih tua dari dia. Jadi sebagai orang yang lebih senior, saya nasihati. Banyak yang mengatakan, apalagi Pak JK itu, apa kurangnya Pak Jokowi ke Pak JK, sehingga begini? Apa saya tuduh, Pak JK? Ada gak? Saya tuduh gak? Ada gak? Saya lawan gak Pak Jokowi? Gak

Si Rismon mau ketemu saya dengan tujuh orang. Saya tidak terima. Mana lihatin (JK mau kasih lihat chat Rismon) Minta waktu nanti ditampilkan WA-nya. Oleh temannya yang, saya tolak. Roy Suryo mau ketemu, saya tolak. Demi saya mau netral. 

Mana itu? Baca (ditampilin WA-nya) Dia mau ketemu saya dengan tujuh orang. Dia mau kasih bawa buku ke saya. Mau ditemani oleh beberapa orang. Saya tolak. Saya tidak mau campur dengan urusan. Tapi ini soal Rismon itu sudah melibatkan semua orang. Dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja.

Ya samalah. Kenapa? Apalagi saya, dituduh kasih Rp5 M. Mana saya kasih Rp5 M? Ketemu saja tidak tahu saya. Kenal pun tidak. Ini buktinya. WA-nya. Tidak saya... Jangan terima. Bilang ini, tidak. Bilang lagi ke bohir-bohirnya, mau menemui saya? Tidak mau saya. 

Kenapa tiba-tiba sensitif sekali saya katakan, saya seniornya. Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa. Sayang. itu Ibu Mega. Ibu, ini calon baik orang PDIP. Ah, jangan. Bercanda atau lagi? Akhirnya beliau terduduk. Jadilah gubernur.

Sehingga waktu, nah ini, waktu dia menang jadi gubernur, setelah ke Ibu Mega, datang sama saya ucapan terima kasih. Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya.

Kan tanpa gubernur, mana bisa jadi presiden? Coba lihat. Datang ke rumah ucapkan terima kasih, karena setelah ke Ibu Mega dulu sebagai, baru datang sama saya. Coba. Jangan bilang apa, saya yang bantu Jokowi. Tanya sama beliau. Kasih lihat foto ini. Itu masih pakai baju kotak-kotaknya. Janganlah macam-macam begitu.

Sebetulnya kalau kita cermati dari pidato Bapak (JK) di UGM itu, kalau kita berpikiran jernih itu memang kita bisa paham tidak ada hal yang menyangkut penistaan agama, tapi kan kalau sudah masuk ke wilayah politik kan susah ya, pak. Nah pertanyaan, apakah Bapak akan mengambil langkah hukum terhadap Ade Armando atau pelapor Bapak yang lain untuk membuktikan bahwa Bapak memang tidak ada niat untuk menistakan agama?

Kami sedang mulai mempelajari itu di mana letak. Mudah-mudahan Allah memaafkannya, para pemfitnah itu. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Semua memfitnah saya semua. Apa dia bikin pada waktu itu? Kasih tahu mereka semua, orang yang besar ngomong, apa yang dia lakukan pada saat itu semua? 

Kami akan pertimbangkan, karena kalau tidak dituntut, ini akan terulang lagi. Hati-hati, dia ngomong ke mana-mana. Minta maaf. Orang Islam mau demo, jangan, saya bilang. Kau tahu semua itu di… Jangan, jangan, karena itu saya undang Sekjen DMI supaya kasih tahu masjid tenang.

Masjid banyak yang berteriak. Bagaimana pak? Kita lawan? Jangan, jangan. Di Makassar mau demo besar-besaran, jangan Di mana Subhan? Kau kan. Subhan, kasih pengumuman, tidak boleh demo. Tapi secara hukum, kami serahkan kepada tim hukum, serahkan ke masyarakat. Banyak masyarakat yang mau karena tersinggung. Bukan saya yang mau mengambil hukum, (tapi) masyarakat yang mau mengadukan ke hukum. 

Saya diam aja, tapi masyarakat tidak bisa ditahan kalau dia mau. Sudah puluhan orang Islam akan adukan semuanya. Terserah mereka. Saya sendiri mudah-mudahan Tuhan memaafkan dia, mengampuni.

Berarti Pak JK gak ambil langkah hukum?

Ya karena orang (…) sudah banyak yang mau. Buat apa saya? Terserah, tapi hukum akan berjalan bagi yang memfitnah yang tidak benar. Benar gak dia kalau Anda lihat ini? Benar gak? Ada yang benar gak yang fitnah itu? Bagaimana Anda melihat film ini, dan sejarahnya? Ada lagi?

***

Tahu berapa ongkos 1-2 juta dolar. Artinya semua proyek (PLTA) itu 3 miliar dolar, berapa rupiah? Rp70 triliun. Berapa kredit? 30. Jadi apa yang salah? Bersyukur berbanggalah saya ini bahwa satu-satunya perusahaan daerah pribumi dipercaya punya kredit 30 T. Kalau konglomerat ratusan T, ini cuma 30 mau dijatuhkan lagi, mana pribumi bisa maju.

Ini perusahaan pribumi daerah dikacaukan lagi. Kalau kita berhenti, listrik kita ambil uangnya, kita matikan. Gelap itu Sulawesi, Sumatra. Jadi hati-hati bicara, jangan menghancurkan saya dengan kredit itu. Benar, tapi tidak sebesar itu, salah juga datanya.

Yang pertama ada pelanggaran hukum sebenarnya. Ini rahasia perbankan umumkan ke publik. Ada orang kita cari orangnya siapa yang melanggar hukum. Itu rahasia perbankan diumumkan ke publik. Nyangkanya pasti orang dalam, saya tidak tahu siapa. Ini pelanggaran hukum.

Tapi gak apa-apa, saya bangga pengusaha pribumi, daerah, bisa memberikan cahaya untuk Anda semua. Tidak ada uang satupun untuk jalan-jalan, untuk beli mobil, segala macam. arloji saya cuma 25 dolar. Saya tidak pernah mewah. Semuanya untuk kepentingan negara. Putar itu pita, supaya tahu. Ada lima semacam ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More