Kemenhaj Pastikan Tak Ada Perlakukan Istimewa Bagi Petugas Haji 2026

- Tidak ada toleransi terhadap kelelaian dan undisiplin dalam diklat PPIH Arab Saudi.
- Kemenhaj usung tema Haji Ramah Lansia dan Perempuan pada penyelenggaraan 2026.
- Sebanyak 33 persen petugas haji 2026 adalah perempuan, jumlah terbesar sepanjang sejarah perhajian Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi segera berakhir pada 30 Januari 2026.
Wakil Ketua Diklat PPIH Arab Saudi, Kolonel (Purn) Muftiono, mengatakan Kementerian Haji dan Umrah tidak memberikan perlakuan istimewa kepada siapa pun yang mengikuti diklat. Menurutnya, perlakuan khusus justru akan merusak soliditas dan solidaritas tim.
Seluruh peserta diklat sejak awal telah dididik dan diminta untuk menjunjung tinggi disiplin, kesiapan fisik dan mental, kemampuan fikih haji hingga bahasa Arab, serta kompetensi sesuai bidang layanan masing-masing.
"Sejak hari pertama telah kami sampaikan diklat ini merupakan bagian dari proses seleksi. Mengikuti diklat tidak serta-merta menjadikan seseorang diangkat sebagai petugas haji," ujar Muftiono saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
1. Tak ada toleransi terhadap kelalaian dan indisipliner

Pengelolaan diklat PPIH Arab Saudi, lanjut Muftiono, dilakukan oleh tim profesional yang terdiri dari unsur Kementerian Haji dan Umrah, TNI, serta Polri, dengan penerapan disiplin tinggi. Tidak ada toleransi terhadap kelalaian dan ketidakdisiplinan, mengingat para peserta diklat nantinya akan menjadi ujung tombak pelayanan kepada jemaah haji di Arab Saudi.
Oleh karena itu, seluruh rangkaian pelatihan, sejak hari pertama hingga hari terakhir, wajib diikuti secara penuh dan serius tanpa pengecualian. Peserta yang tidak mampu mengikuti agenda pelatihan secara lengkap dinyatakan dikeluarkan dari diklat. Hal serupa berlaku bagi peserta yang tidak jujur, termasuk dalam hasil pemeriksaan kesehatan (MCU) maupun persyaratan lainnya.
"Kebijakan ini kami terapkan untuk memastikan, petugas dari diklat ini memiliki kemampuan prima serta komitmen tinggi untuk melayani jemaah haji Indonesia, bukan petugas yang berniat nebeng berhaji," kata dia.
2. Kemenhaj usung tema Haji Ramah Lansia dan Perempuan

Kementerian Haji dan Umrah mengusung tema Haji Ramah Lansia dan Perempuan pada penyelenggaraan 2026. Visi utama di 2026 adalah haji yang berkeadilan, berempati, dan berpihak kepada kelompok rentan, khususnya perempuan serta lansia.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan visi ini merupakan hal pokok yang wajib dipahami dan dihidupkan oleh seluruh petugas haji.
Dia mengajak seluruh petugas untuk kembali meneladani pesan Rasulullah SAW pada saat menjalankan Haji Wada, atau haji terakhir Nabi Muhammad SAW yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
"Kalau kita membaca sejarah, ingat sekali salah satu pesan utama dari Haji Wada. Dalam khotbah tersebut, Rasulullah SAW secara tegas menyampaikan pesan kepedulian, jaga dan muliakan perempuan-perempuan kalian," ujar dia.
3. Sebanyak 33 persen petugas haji 2026 perempuan

Sebagai bentuk konkret dari kebijakan tersebut, komposisi petugas haji 2026 juga mencerminkan keberpihakan itu. Dahnil mengungkapkan, sebanyak 33 persen petugas haji 2026 adalah perempuan, jumlah terbesar sepanjang sejarah perhajian Indonesia.
"Ini bukan angka simbolik. Ini adalah yang tertinggi dalam sejarah. Kehadiran petugas perempuan sangat penting untuk memastikan jemaah perempuan dan lansia mendapatkan layanan yang aman, nyaman, dan bermartabat," kata Dahnil.
Dahnil berharap, seluruh peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 tidak hanya memahami tugas secara teknis, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Haji Wada Rasulullah SAW sebagai ruh pelayanan kepada jemaah, sehingga penyelenggaraan haji 2026 menjadi humanis, berkeadilan, dan penuh kepedulian.

















