RSF Bombardir Rumah Sakit Militer Sudan, 22 Orang Tewas

- Kelompok medis kecam serangan RSF Bombardir terhadap RS Al-Kuweik menambah daftar panjang kehancuran infrastruktur medis di Sudan.
- Pola kekerasan meluas hingga ke Kadugli
- Tragedi Al-Kuweik bukanlah insiden tunggal di kawasan Kordofan Selatan.
Jakarta, IDN Times - Kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) melancarkan serangan artileri mematikan ke Rumah Sakit Militer Al-Kuweik di negara bagian Kordofan Selatan, Sudan. Insiden berdarah pada Kamis (5/2/2026) itu merenggut nyawa sedikitnya 22 orang dan melukai delapan lainnya.
Jaringan Dokter Sudan mengonfirmasi bahwa korban tewas mencakup kepala medis rumah sakit beserta tiga staf kesehatan. Kelompok medis itu mengecam keras aksi pengeboman fasilitas kesehatan yang terus berulang di tengah konflik.
1. Kelompok medis kecam serangan RSF

Bombardir terhadap RS Al-Kuweik menambah daftar panjang kehancuran infrastruktur medis di Sudan. Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi zona aman bagi warga sipil dan korban luka justru menjadi target artileri paramiliter.
"Penargetan fasilitas kesehatan dan tenaga medis merupakan kejahatan perang serta pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional," tegas Jaringan Dokter Sudan dalam pernyataannya, dilansir Anadolu Agency.
Para tenaga medis menyebut RSF telah melancarkan serangan sistematis berulang di Kordofan Selatan. Akibatnya, beberapa rumah sakit setempat telah berhenti beroperasi di tengah konflik yang semakin parah.
2. Pola kekerasan meluas hingga ke Kadugli

Tragedi Al-Kuweik bukanlah insiden tunggal di kawasan Kordofan Selatan. RSF sebelumnya melancarkan serangan drone ke Pusat Kesehatan al-Shartai di lingkungan Hajar al-Nour, kota Kadugli pada Senin.
Serangan pesawat nirawak itu menewaskan sedikitnya 15 warga sipil. Tragisnya, tujuh dari total korban tewas merupakan anak-anak yang berada di sekitar fasilitas kesehatan saat serangan terjadi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat angka kematian mengerikan akibat serangan infrastruktur medis. Sepanjang tahun 2025 saja, lebih dari 1.600 orang tewas dalam berbagai gempuran yang menyasar fasilitas kesehatan di Sudan.
Pertempuran sengit di ibu kota Kordofan Selatan memicu gelombang pengungsian besar-besaran karena warga ketakutan menjadi target berikutnya. PBB memperkirakan sekitar 80 persen populasi Kadugli atau setara 147 ribu jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka.
3. Sanksi Inggris dan ancaman kelaparan akut di Sudan
Konflik berkepanjangan memicu krisis pangan akut di berbagai wilayah, termasuk Darfur Utara. Laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) terbaru mendeteksi tingkat malnutrisi setara level kelaparan di kota Umm Baru dan Kernoi.
Kondisi fisik anak-anak di wilayah konflik sangat memprihatinkan akibat blokade bantuan dan hancurnya rantai pasok makanan. Sekitar 53 persen balita di Umm Baru menderita malnutrisi akut, jauh melampaui ambang batas kelaparan sebesar 30 persen.
Pemerintah Inggris merespons kekejaman perang dengan menjatuhkan sanksi tegas kepada enam komandan militer dari kedua belah pihak yang bertikai. Sanksi menyasar individu yang dianggap memicu konflik serta menghambat bantuan kemanusiaan.
"Kita sangat membutuhkan gencatan senjata serta akses aman bagi lembaga bantuan kemanusiaan untuk menjangkau semua orang yang membutuhkan," ujar Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, dikutip The New Arab.


















