Macet Ketapang-Gilimanuk, Legislator PDIP Dorong Ada Dermaga Baru

- Kemacetan hingga 15 kilometer terjadi di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, mendorong legislator PDIP Irine Roba meminta Kemenhub menjadikannya prioritas penyelesaian.
- Irine mengusulkan pembangunan dermaga baru di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk sebagai solusi jangka menengah-panjang agar proses bongkar muat kapal lebih cepat.
- Ia juga menyarankan penerapan sistem reservasi online berbasis slot waktu serta optimalisasi area parkir untuk mengatur arus kendaraan dan mengurangi pemborosan BBM akibat kemacetan.
Jakarta, IDN Times - Kemacetan panjang kembali terjadi di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk pekan ini. Sejumlah kendaraan terjebak hingga 15 kilometer.
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Irine Roba, meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjadikan masalah tersebut menjadi prioritas untuk diselesaikan. Dia juga mendorong adanya dermaga baru agar kemacetan panjang di jalur Ketapang-Gilimanuk tak terjadi lagi.
"Pemerintah terutama Kementerian Perhubungan perlu menjadikan masalah ini sebagai prioritas. Penambahan dermaga baru di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk sebagai solusi jangka menengah-panjang, ini adalah prioritas utama, bukan hanya menambah kapal," ujar Irene dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/4/2026).
1. Harus ada penerapan sistem reservasi online

Irene juga menyarankan agar ada penerapan sistem reservasi online. Hal ini dilakukan agar arus kendaraan bisa dikendalikan sesuai kapasitas kapal.
"Penerapan sistem reservasi online wajib berbasis slot waktu (booking system) yang terintegrasi, sehingga arus kendaraan bisa dikendalikan dan disesuaikan dengan kapasitas kapal. Lalu Optimalisasi buffer zone dan kantong parkir di sekitar pelabuhan juga bisa dilakukan" ucap dia.2. Macet bisa boros BBM
2. Macet bisa buat BBM boros

Dalam kesempatan itu, Irene menyampaikan, kemacetan panjang juga bisa berdampak pada boros bahan bakar minyak (BBM). Padahal, pemerintah saat ini sedang melakukan efisiensi BBM.
"Masyarakat jadi pihak yang paling dirugikan, waktu terbuang, tenaga terkuras, hingga biaya operasional meningkat tanpa kepastian kapan kondisi akan membaik," kata dia.
3. Dermaga juga harus ditambah

Menurut Irene, jumlah kapal yang banyak di jalur Ketapang-Gilimanuk tidak diimbangi dengan dermaga yang ada. Sehingga, proses bongkar muat tidak bisa dilakukan dengan cepat.
"Jumlah kapal yang cukup banyak (ditambah armada cadangan) tidak diimbangi dengan kapasitas dermaga untuk sandar dan bongkar muat secara cepat. Ini menyebabkan port time menjadi sangat lambat," ujar Irene.



















