Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mahfud soal Londo Ireng: Pengkritik Tak Pernah Kontak dengan Asing

Mahfud soal Londo Ireng: Pengkritik Tak Pernah Kontak dengan Asing
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD. (Tangkapan layar YouTube Mahfud MD Official)
Intinya Sih
  • Mahfud MD menilai julukan Londo ireng dari Presiden Prabowo mencerminkan ketidaksukaan terhadap pengkritik pemerintah, padahal kritik merupakan bagian dari demokrasi dan tidak terkait kepentingan asing.
  • Mahfud menjelaskan Londo ireng berakar dari Perang Diponegoro, merujuk pada pasukan Minahasa pimpinan Benjamin Thomas Sigar yang membantu Belanda; istilah itu bermakna pengkhianat.
  • Komdigi membantah Prabowo menyudutkan jurnalis atau profesi tertentu, menyebut Londo ireng sebagai kiasan politik untuk mengingatkan narasi pesimisme; kritik beritikad baik tetap dianggap penting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengaku ikut sakit hati saat mendengar Presiden Prabowo Subianto melabeli pihak yang kerap mengkritisi pemerintah dengan julukan Londo ireng. Padahal, pengkritik pemerintah itu tidak pernah mengontak orang asing apalagi bernegosiasi demi mengkhianati negara.

Dalam pandangan Mahfud, label yang diucapkan secara spontan oleh Prabowo di hari lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bukan salah ucap.

"Ucapannya kemarin itu bukan salah diksi, melainkan berisi substansi ketidaksukaan terhadap kelompok terpelajar yang selama ini mengkritik pemerintah. Londo ireng itu kan kaitannya dengan konteks sekarang bermakna antek asing, kalau dulu antek Belanda," ungkap Mahfud, dikutip dari akun YouTube Mahfud MD Official pada Rabu (29/7/2026).

"Sementara, yang kritik-kritik gak pernah berhubungan dengan asing. Yang berhubungan dengan asing kan pemerintah. Kita mana tahu (kontak) asing, boro-boro. Didengar aja gak sama orang asing, apalagi berhubungan," imbuhnya.

Mahfud mengingatkan Prabowo agar konsisten dengan pernyataan yang kerap disampaikan bahwa ia terbuka untuk dikritik. Selain itu, Indonesia merupakan negara demokrasi yang memberi ruang bagi perbedaan pendapat.

"Orang-orang yang memberikan kritik bukan Londo ireng. Mereka cinta kepada bangsanya untuk meluruskan dan memberikan solusi. Bukan hanya kritik," tutur dia.

1. Mahfud bisa memahami kekecewaan jurnalis yang dicap pengkhianat

Mahfud MD, Menko Polhukam
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD ketika ditemui di area Senayan Park, Jakarta Pusat. (IDN Times/Santi Dewi)

Mahfud mengaku bisa memahami kegeraman para jurnalis saat dilabeli pengkhianat oleh Prabowo. Ia menggarisbawahi tidak mungkin pihak yang mengkritik bekerja sama dengan pihak asing untuk menghancurkan negara sendiri.

"Semuanya berkaca dong, siapa sih yang bekerja sama dengan orang asing? Siapa yang nego-nego dengan orang asing. Kalau kita gak ndak melakukan itu," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Ia menambahkan, pemerintah berhak mengambil kebijakan sesuai dengan aturan konstitusi. Tetapi, bukan berarti melarang kritik disampaikan.

2. Istilah Londo ireng berawal dari perang Pangeran Diponegoro

Lukisan Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro
Penangkapan Pangeran Diponegoro (commons.wikimedia.org)

Mahfud kemudian menjelaskan istilah Londo ireng bermula dari perang Pangeran Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830. Pasukan penjajah Belanda merasa kesulitan menundukan Diponegoro. Mereka kemudian mendatangkan pasukan dari Minahasa.

Pasukan itu dipimpin perwira militer bernama Benjamin Thomas Sigar. Belakangan publik mengetahui Benjamin merupakan kakek buyut Prabowo.

"Benjamin Sigar yang pertama dilabeli sebagai Londo ireng karena didatangkan dari Sulawesi Utara untuk melumpuhkan Diponegoro yang selama lima tahun sulit dikalahkan. Belum lagi kerugian korban sangat besar," kata Mahfud.

Masyarakat Jawa kemudian melabeli Benjamin sebagai Londo ireng. Ia dianggap pengkhianat atau penjajah Belanda namun kulitnya lebih gelap.

"Meskipun kulitnya putih tetapi memiliki watak Belanda. Londo ireng kan maknanya berkhianat. Apalagi Benjamin setelah kembali ke Manado mendapatkan kenaikan pangkat," tutur dia.

Namun, Mahfud memprotes jurnalis yang mengkritisi pemerintah malah ikut dilabeli Londo ireng. Sikap Prabowo tersebut mencerminkan sebagai pribadi yang anti kritik.

"Yang terbersit di benak kita, Pak Prabowo sangat anti kritik di dalam tindakannya. Tetapi, di dalam ucapannya 'silakan kritik, ini negara demokrasi'. Tapi, ketika ada orang yang mengkritik disebut Londo ireng," ucapnya.

3. Komdigi bantah presiden menyudutkan profesi jurnalis lewat kalimat Londo Ireng

Fifi Aleyda Yahya - Komdigi HYP00757.jpg
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, di acara Talkshow Inspiratif: Tunggu Anak Siap, yang digelar pada Selasa (2/12) di IDN HQ Jakarta. (IDN Times/Herka Yanis))

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital berupaya mengklarifikasi pernyataan Prabowo yang diucapkan pada 23 Juli 2026 di Jakarta Convention Centre (JCC). Komdigi mengajak publik melihat secara utuh pesan Prabowo terkait pentingnya menjaga optimisme nasional. Selain itu, mereka juga mengajak publik agar tidak terjebak pada perdebatan istilah yang dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan. Salah satunya mengenai istilah Londo ireng.

“Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap. Berbagai temuan di lapangan menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan. Ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

Fifi mengajak publik untuk melihat konteks utuh dari pernyataan Presiden tentang Londo ireng. Ia berdalih pesan yang disampaikan merupakan kiasan politik, bukan untuk menyudutkan profesi, media, maupun kelompok tertentu.

“Yang disampaikan presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju. Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More