Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Daerah dengan Tradisi Unik Sambut Ramadan, Ada Keramas Bareng

7 Daerah dengan Tradisi Unik Sambut Ramadan, Ada Keramas Bareng
Tradisi keramas bareng di Tangerang, sebelum Ramadan (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Intinya sih...
  • Tradisi keramas bareng di Sungai Cisadane oleh masyarakat Tangerang, Banten
  • Blangikhan, ritual pensucian diri yang dilakukan masyarakat Lampung
  • Tradisi Munggahan yang biasa dilakukan masyarakat Jawa Barat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menjelang bulan Ramadan, sejumlah daerah di Indonesia memiliki tradisi khusus yang dilakukan warganya untuk menyambut bulan suci yang dinanti umat Muslim dunia.

Ragam kegiatan ini tidak hanya terbatas pada pembacaan Al Qur'an atau ibadah di masjid, tetapi juga mencakup praktik budaya yang unik dan diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi-tradisi ini tersebar di berbagai belahan Nusantara, masing-masing dengan kekhasan dan makna tersendiri bagi masyarakat setempat.

Berikut ini tujuh tradisi unik yang kerap ditemui di berbagai daerah di Indonesia, sebagai bagian dari penyambutan bulan Ramadan, sebagaimana dirangkum IDN Times dari berbagai sumber.

1. Tradisi keramas bareng masyarakat Tangerang di Sungai Cisadane

Tradisi keramas bareng di Tangerang, sebelum Ramadan
Tradisi keramas bareng di Tangerang, sebelum Ramadan (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Tradisi keramas bareng di Sungai Cisadane adalah ritual menyucikan diri secara bersama-sama yang dilakukan warga Kelurahan Babakan, Kota Tangerang, Banten.

Ratusan warga turun ke bantaran sungai untuk melakukan keramas bersama, sebagai bagian dari penyambutan bulan puasa Ramadan. Kegiatan ini merupakan warisan budaya yang terus dijalankan setiap tahunnya oleh masyarakat setempat.

Usai melakukan keramas bersama, warga saling bermaaf-maafan dan mendoakan kelancaran ibadah Ramadan.

Sekretaris Camat Tangerang, Ahmad Taufik Hidayat, mengatakan tradisi ini rutin digelar dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat semakin rajin beribadah dan memperbanyak kegiatan keagamaan selama bulan suci.

2. Blangikhan, ritual pensucian diri yang dilakukan masyarakat Lampung

Tradisi Blangikhan di Kolam Renang Pahoman, Kota Bandar Lampung, tradisi jelang Ramadan
Tradisi Blangikhan di Kolam Renang Pahoman, Kota Bandar Lampung, Jumat (28/2/2025). (Dok. Pemprov Lampung).

Terdapat juga tradisi pensucian diri yang dilakukan masyarakat Lampung sejak 2011, yakni tradisi Blangikhan. Tradisi ini merupakan ritual mandi penyucian diri menggunakan air langir yang berasal dari tujuh mata air. Berasal dari kata "langir" yang berarti mandi, ritual ini telah menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi sebagai upaya pelestarian budaya.

Acara diawali dengan arak-arakan kereta kencana menuju lokasi pelaksanaan Blangikhan. Dalam prosesi, masyarakat menggunakan perlengkapan khusus berupa air langir yang dicampur bunga tujuh rupa, daun pandan, dan setanggi. Air langir diambil dari tujuh sungai atau mata air berbeda dua hari sebelum prosesi, lalu dikumpulkan dalam satu lokasi di dalam kendi.

Air yang sudah diambil itu kemudian dipisahkan dan disesuaikan dengan jumlah kepala keluarga yang mengikuti prosesi, di mana masing-masing keluarga mendapat satu gayung air langir. Tujuan dari Blangikhan adalah sebagai simbol penyucian hati sebagai bekal memasuki bulan puasa.

3. Tradisi menangkap hewan ternak dan pesta tapai di Batubara, Sumatra Utara

Tradisi menangkap hewan ternak dan pesta tapai di Batubara, Sumatra Utara
ilustrasi sapi (pexels.com/Victor Lundberg)

Di wilayah Batubara, Sumatra Utara, masyarakat juga memiliki cara berbeda dalam menyambut Ramadan. Salah satu tradisi yang dilakukan adalah menangkap hewan ternak, seperti kerbau dan sapi, yang dilaksanakan 32 hari sebelum hari pertama puasa.

Selain menangkap hewan ternak, ada juga tradisi unik bernama Pesta Tapai. Tradisi ini berlangsung di Desa Dahari Selebar, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara. Pesta Tapai menjadi acara tahunan yang menarik perhatian, tidak hanya warga lokal, tetapi juga pengunjung dari luar daerah yang datang untuk menikmati suasana dan kuliner khas.

Sepanjang jalan desa, masyarakat berjualan aneka makanan tradisional Melayu. Beberapa di antaranya adalah tapai, lemang, dodol, karas-karas, dan rendang kepah. Pesta Tapai biasanya dimulai pada pertengahan Syakban atau sekitar dua pekan sebelum Ramadan tiba. Setiap sore menjelang malam, desa berubah menjadi pasar kuliner yang ramai.

Para pedagang mulai membuka lapak sejak pukul 17.00 WIB hingga tengah malam. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga, tetapi juga membantu meningkatkan perekonomian desa.

4. Tradisi Babbarasanji, pembacaan syair-syair pujian dan riwayat Nabi Muhammad SAW di Bugis

Tradisi Babbarasanji, pembacaan syair-syair pujian dan riwayat Nabi Muhammad SAW di Bugis
ilustrasi kitab suci (unsplash.com/ Masjid Pogung Dalangan)

Tak hanya itu, tradisi unik lainnya jelang Ramadan dapat ditemukan di Sulawesi Selatan, khususnya di masyarakat Bugis. Tradisi ini adalah Mabbarasanji yang merupakan kegiatan membaca syair-syair pujian dan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Bugis melaksanakan pembacaan kitab Barazanji, yang berisi sejarah Nabi dari kelahiran hingga wafat, dengan irama atau nada tertentu. Selain sebagai penyambut Ramadan, Mabbarasanji juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antara keluarga dan masyarakat.

Pelaksanaan tradisi ini tidak hanya terbatas pada bulan puasa Ramadan, tetapi juga dilakukan pada beberapa momen penting lainnya. Beberapa di antaranya adalah saat peringatan Maulid Nabi, acara akikah, serta pernikahan.

5. Tradisi Megibung, makan bersama beralas daun pisang di Bali

Tradisi Megibung, makan bersama beralas daun pisang di Bali
Suasana saat pelaksanaan tradisi Megibung di Desa Kepaon. (IDN Times/Hisyamudin Keleten Kelin)

Berbeda dengan daerah lainnya, di Bali ada tradisi bernama Megibung yang biasanya dilakukan masyarakat Hindu saat menggelar upacara adat atau Yadnya (upacara keagamaan). Dalam tradisi ini, warga berkumpul untuk makan bersama dengan cara duduk melingkar dan bersila. Di tengah lingkaran, disajikan nasi lengkap dengan lauk-pauk seperti lawar, sate, atau daging goreng.

Tujuan dari tradisi Megibung adalah untuk mempererat hubungan kekerabatan antarwarga. Uniknya, tradisi ini ternyata juga diadopsi masyarakat Muslim di beberapa daerah Bali, terutama di wilayah Bali Timur. Mereka juga melaksanakan makan bersama dengan cara yang sama sebagai bagian dari kegiatan menyambut bulan Ramadan atau acara kebersamaan lainnya.

Para tokoh Muslim di wilayah yang masih menjalankan tradisi ini berharap Megibung bisa terus dilestarikan. Mereka ingin kebiasaan ini tetap diwariskan kepada anak dan cucu mereka di masa mendatang.

6. Tradisi Buto-Butoan di Jember, Jawa Timur

Tradisi Buto-Butoan di Jember, Jawa Timur
Ilustrasi Tradisi Buto-Butoan (instagram.com/devianaachy)

Di Jember juga ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat untuk menyambut bulan Ramadan, namanya Tradisi Buto-Butoan. Kesenian ini merupakan hasil kreasi warga Desa Jelbuk, Kecamatan Jelbuk. Kata "Buto" sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti raksasa.

Tradisi ini digelar sebagai bentuk ungkapan rasa gembira karena masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Buto-Butoan adalah kesenian khas Jember yang biasanya ditampilkan tidak hanya saat menyambut puasa, tetapi juga pada acara-acara lain seperti pernikahan, sunatan, atau kegiatan masyarakat lainnya.

Secara bentuk, kesenian Buto-Butoan merupakan modifikasi atau perpaduan antara kesenian jaranan dengan ondel-ondel yang berasal dari masyarakat Betawi. Meskipun menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Jember, tradisi ini hanya berkembang dan dapat ditemukan di wilayah Jember Utara.

7. Tradisi Munggahan yang biasa dilakukan di Jawa Barat

Tradisi Munggahan yang biasa dilakukan di Jawa Barat
Ilustrasi tradisi munggahan. (pexels.com/Ari Mustofa)

Tradisi yang paling umum adalah Munggahan, ritual masyarakat Sunda di Jawa Barat untuk menandai "naiknya" derajat mereka dengan memasuki bulan suci Ramadan. Kata "munggahan" berasal dari bahasa Sunda unggah yang berarti naik.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Syakban, sekitar seminggu hingga satu atau dua hari sebelum Ramadan tiba, dengan waktu yang tidak ditetapkan secara pasti.

Masyarakat melaksanakan munggahan dalam berbagai bentuk kegiatan informal. Aktivitas yang umum dilakukan antara lain berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara, saling bermaafan, berdoa bersama, serta makan bersama yang disebut botram.

Sebutan untuk tradisi ini pun beragam di tiap daerah, seperti papajar di Bandung, Cianjuk, Sukabumi, dan Purwakarta, atau cucurak di Bogor. Selain itu, ada pula yang melakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan bersedekah dalam tradisi yang disebut sedekah munggah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

MKMK Sebut Tak Ada Intervensi Saat Tangani Perkara, Termasuk Hakim MK

18 Feb 2026, 16:49 WIBNews