Menhaj Sidak Dapur Makkah, Wajibkan Bumbu & Beras Asli Nusantara

- Wajib pakai beras dan bumbu Indonesia
- Teknik menanak nasi diminta sama dengan cara Indonesia agar kualitas tekstur tetap pulen serta familier di lidah jemaah.
- Distribusi dan aspek kebersihan turut menjadi perhatian utama dalam sidak ini.
Makkah, IDN Times - Dalam rangka menjamin kenyamanan ibadah Tamu Allah tahun 1447 H/2026 M, jajaran pimpinan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI melakukan supervisi dan pengecekan langsung ke fasilitas penyedia konsumsi di Makkah, Arab Saudi.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf (akrab disapa Gus Irfan), turun langsung meninjau dapur aktif yang berlokasi di kawasan Safwat Al Wessam, Walyal Ahd District. Dari rilis yang diterima IDN Times, tampak Gus Irfan—mengenakan rompi resmi Kemenhaj dan peci hitam—berinteraksi langsung dengan para juru masak dan mengecek rak-rak logistik penyimpanan bahan makanan.
1. Wajib pakai beras dan bumbu Indonesia

Fokus utama dari inspeksi kali ini adalah memastikan hidangan yang disajikan kelak benar-benar mengusung cita rasa Nusantara. Pemerintah secara tegas menginstruksikan agar seluruh dapur penyedia layanan menggunakan bumbu masak asli dari Indonesia, termasuk untuk pasokan beras.
"Penggunaan bumbu dan beras dari Indonesia adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan rasa yang familiar bagi jemaah, sehingga mereka tetap nyaman dan fokus dalam menjalankan ibadah," jelas Gus Irfan di sela-sela peninjauannya.
Tidak sekadar mengekspor bahan mentah, Kemenhaj juga menyoroti teknik pengolahan di dapur Arab Saudi. Pemerintah meminta agar treatment atau cara menanak beras Indonesia dilakukan secara presisi sesuai dengan standar yang biasa diterapkan di Tanah Air. Langkah strategis ini diambil agar kualitas tekstur dan rasa nasi tetap pulen, terjaga, serta familier di lidah jemaah.
2. Distribusi juga harus tepat waktu

Aspek kebersihan menjadi perhatian utama dalam supervisi ini. Seluruh area penyimpanan bahan makanan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis, memenuhi standar keamanan pangan. Pengecekan juga dilakukan menyeluruh mulai dari area dapur, proses memasak, hingga tahap pengemasan (packing). Fasilitas diminta mampu memenuhi kebutuhan konsumsi sesuai jumlah jemaah haji, baik dari sisi kapasitas produksi maupun ketepatan distribusi.
Lebih lanjut Gus Irfan menekankan pentingnya konsistensi standar layanan. “Pelayanan konsumsi bukan hanya soal makanan tersedia, tetapi bagaimana kualitasnya terjaga, rasanya sesuai selera jemaah Indonesia, dan distribusinya tepat waktu,” ujarnya.


















